Tetap Happy Tanpa Asisten Rumah Tangga


Sumber gambar : Flickr.com

















Sebagai manusia biasa wajar ya bund, terkadang kita suka membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Melihat keseharian artis atau selebgram, seru ya rasanya melihat mereka yang sepertinya bisa seratus persen fokus mengurus anak. Mempunyai banyak waktu duduk berdua menemani buah hati bermain, bercerita, tanpa harus dipusingkan dengan urusan domestik yang sangat menyita waktu.

Soalnya terkadang saya sering feeling guilty  ketika sedang repot di dapur atau sibuk dengan tumpukan baju, si sulung (3y) ingin ditemani bermain masak-masakan atau sekedar dibacakan buku cerita, belum lagi kesibukan saya mengurus si bbungsu (11m) yang masih sangat bergantung pada ibunya. Dalam sehari sulit sekali rasanya memiliki quality time yang dikhususkan untuk menemani anak bermain.

Ah, kalo bicara urusan domestik memang tidak pernah ada habisnya. Beberapa kali saya dan suami sempat berencana mencari Asisten Rumah tangga,  namun maju mundur dengan berbagai pertimbangan.

Tapi saya coba berpositive thinking. Terutama Setelah mendapat cerita dari teman suami saya, seorang bapak yang salah satu anak perempuannya akhirnya dipindahkan dari pesantren ke sekolah islam biasa bukan boarding school karena ada salah satu pendapat dari seorang ustadz yang intinya anak perempuan itu lebih baik belajar ilmu agamanya di sekolah saja bukan pesantren atau boarding school, supaya ketika ia di rumah, bisa belajar dari ibunya bagaimana cara melayani suami terutama dalam urusan domestik. Agar kelak saat ia dewasa tak gagap dalam urusan rumah tangga. Tapi tetap anak perempuan harus banget belajar ilmu agama meski tidak harus pesantren boarding school. Tapi itu hanya saran saja, setiap orangtua pasti punya pertimbangan sendiri.

Selain itu, suatu hari saat sedang asyik berselancar di dunia maya, tidak sengaja saya melihat postingan salah satu social media influencer, seorang ibu muda, dengan kondisi keuangan yang lebih dari cukup awalnya ia sempat menyewa jasa ART, namun seiring berjalannya waktu dengan berbagai konflik batin yang ia alami, akhirnya ia memutuskan untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri, padahal suaminya adalah seorang vice precident di salah satu Bank, tentu mudah dibayangkan betapa mapannya keluarga ini. Salah satu alasannya kurang lebih adalah ketika kita mempekerjakan seseorang, tentu kita memiliki banyak ekspektasi terhadap orang tersebut. Jika ekspektasi nya tidak tercapai, bahkan cenderung jauh dibawah ekpektasi kita, tentu hal itu sangat mengganggu pikiran, hati, emosi karena dihinggapi rasa kecewa, sungkan untuk menegur, dan lain sebagainya. Berbeda halnya ketika kita mengerjakan semua seorang diri, kitalah yang akan memegang kendali.


Mendengar cerita itu saya jadi berfikir positif tentang hikmah tidak punya ART :


1. Seperti cerita diatas, kita bisa jadi role model untuk anak perempuan kita, mereka akan belajar dari kesibukan-kesibukan kita di rumah. Kelak setelah dewasa mereka akan terbiasa dengan itu.

2. Tanpa ART melatih mental saya untuk lebih siap, sekarang mungkin kita ada budget untuk menyewa ART, tapi suatu hari nanti tidak ada yang tahu apakah kondisi keuangan kita memungkinkan atau tidak untuk menyewa jasa ART. Jadi kondisi apapun insyaAllah kita siap.

3. Tidak menyewa jasa ART melatih kita untuk mandiri, tidak berekspektasi lebih terhadap orang lain, karena kitalah yang memegang kendali.

4. Anggap saja kesibukan dan kerepotan-kerepotan kita itu sebagai olah raga, sembari membakar kalori yang menumpuk ya Bund hehe. Hayooo kapan terakhir bunda jogging?

 Pada akhirnya ada atau tidak ada ART itu pilihan dan tidak perlu diperdebatkan, semua disesuaikan dengan kebutuhan Dan priotitas masing-masing keluarga. saya hanya membagi hal positif saja supaya kita tetap happy meski tanpa ART, semoga ada manfaat yang bisa diambil ya bund.

10 Comments

  1. Point2 tsb pernah saya lakukan & saya irt yg bekerja dikantor..saat si bungsu 5th, dia minta ga usah pakai irt & kami berempat (aku, suami, si kk & ade) bagi tugas.

    Ade sendirian stlh saya & suami berangkat ke kantor, dg membawa si kk ke sekolah. Ade akan dijemput mobil untuk.kesekolah, dia yg mengunci rumah tp saya minta tolong tetangga depan rumah mengawasi.
    Semua bisa kok Mba, asal semua mau bekerjasama. Dan satu lagi berbaik hati dg tetangga sangat dianjurkan, mereka saudara kita terdekat & siap.membantu kita.
    Sukses ya Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah betul mba, tidak ada ART salah satu hikmahnya membuat anggota keluarga menjadi lebih kompak ya

      Delete
  2. Saya sich ada ART tapi sekedar bantuin aja, Mba.selebihnya ya kerjasama, misalnya, kalau habis masak diberesin. Yang masak tetep Kita. Gitu mba. Ga ada ART juga siap, pembagian tugas siapa Yang cuci piring, nyapu ngepel.makasih ya sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya betul mba, ada atau tidak ada ART tetap saja emak selalu sibuk ya hehe.. Saya juga dulu pernah pakai ART saat baru melahirkan anak pertama

      Delete
  3. Hampir 18 tahun berumah tangga, tidak sampai setahun saya pernah punya art yang tugasnya hanya nyetrika plus (kadang-kadang) bersih-bersih rumah... selebihnya sendiri, meski barusaja lahiran.
    Alhamdulillah... dapat suami yg bisa membantu & jago masak 😊

    ReplyDelete
  4. Saya udah gk pake ART sejak anak-anak sudah memasuki bangku SD. Secara udah bisa menghandek keperluan sendiri sprti makan dan sedikit pbelajaran bersih-bersoh rumah yang ringan-rungan. Setuju kalau tnpa ART kita jadi mandiri tapi setelah anak-anak udah gedean dikit. Hehe...

    ReplyDelete
  5. Di rumah saya juga tanpa ART mba. Salah satu keunggulan gak punya ART adalah hidup lebih tenang krn g suudzon sama org lain klo ada barang yang hilang 😊

    ReplyDelete
  6. Saya pernah punya pengalaman memiliki ART selama kurang lebih 5 tahun. Selama itu, hanya 2 ART yang benar-benar pas dan sesuai dengan harapan. Akhirnya saya dan suami lebih memilih mengerjakan PR tanpa ART. Ternyata lebih nyaman dikerjakan sendiri hehehe ...

    ReplyDelete
  7. Toss kita mbak, aku juga ga pernah pake ART. Emang rempong sih, tapi sekaligus seru juga. Lagian ga akan lama kok mengalami hal ini, giliran anak-anak sudah dewasa ntar yang ada malah kangen sama suasana hectic itu. Hehehe.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah tanpa PRT membuat saya bisa lebih dekat dengan anak. Hehe... Padahal sebenarnya gak mungkin juga nyari PRT. Mahal euy... 😬

    ReplyDelete