Berbagi Sebagai Terapi Bagi Penderita Obesistuff


Ilustrasi indahnya berbagi, Foto : unsplash.com
Sahabat, bersyukur sekali ya kita hidup di zaman serba canggih yang memudahkan berbagai aktivitas keseharian kita, salah satunya dalam transaksi jual-beli. Menjamurnya online shop, marketplace, dan e-commerce membuat banyak orang lebih memilih membeli barang kebutuhan pribadi secara online, tinggal klik beres deh, paket akan segera diantar, tak perlu repot keluar rumah.

Namun ternyata, bagaikan dua sisi mata uang, berbagai kemudahan tesebut justru banyak membuat kita terlena, rasanya kok gampang sekali ya mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang belum tentu kita butuhkan.

Sebagai wanita yang hidup di masa kini, aku pun turut menjadi korban, yup beberapa tahun yang lalu saat aku baru diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta ditambah berstatus single akhirnya membuat hobby belanjaku kian menjadi, hmmh wanita dan shopping memang dua hal yang konon katanya tidak dapat dipisahkan.Tanpa perlu berpikir panjang, rasanya mudah sekali mengeluarkan lembar demi lembar rupiah untuk hal-hal yang aku inginkan.

Ilustrasi wanita yang senang berbelanja, Foto : unsplash.com

Dan, yang lebih mirisnya lagi, ternyata baju-baju yang menumpuk itu tak semuanya benar-benar aku pakai, bahkan pernah suatu kali gamis membeli gamis di online shop, setelah sampai ternyata bentuknya berbeda dengan yang ada di foto, hingga akhirnya gamis itu tak pernah aku kenakan sama sekali, hanya menjadi pajangan di lemari.

Bertahun-tahun lamanya aku hidup dengan penyakit yang oleh penulis Dewi Lestari disebut sebagai obesistuff. Ya, sebuah penyakit yang konon banyak diidap para wanita namun banyak dari kita yang tidak  sadar hingga akhirnya lemari dan rak kok rasanya semakin sempit ya, lalu rekening tabungan, apa kabar? Hmmh.
 
Hingga akhirnya aku  sadar dan sangat sedih sekali mendapati diri yang betul-betul sudah mengidap penyakit ini. Sebagai seorang muslim takut sekali rasanya mendengar sebuah ayat dalam Qur'an surat Al-Isra "Dan, janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.". Ya, aku benar-benar terjebak dalam perilaku hidup konsumtif.

Ilustrasi koleksi pakaian yang menumpuk, Foto : unsplash.com

Hingga akhirnya, ada sebuah pengalaman hidup yang menjadi salah satu titik balik yang membuatku bisa sembuh dari penyakit obesistuff ini. Suatu sore aku mendapat pesan whats app dari ibu, beliau bertanya apakah aku memiliki baju-baju bayi bekas yang layak pakai untuk diberikan kepada teman dari tetangga ibu yang baru saja mengalami musibah banjir.

Ibu Ningrum namanya, seorang istri yang ditinggal pergi suaminya entah kemana padahal ia baru saja melahirkan anak kembarnya. Kini ia harus berjuang sendiri menghidupi ketiga anaknya. Hanya sehelai pakaian yang melekat di badan yang menjadi hartanya kini, karena barang-barang yang ada di rumah kontrakannya ikut hanyut terbawa arus air.


Sedih sekali rasanya membaca kabar tersebut,  aku seperti ditampar, ah betapa aku sungguh egoisnya aku yang hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Ya, aku hanya sibuk dengan duniaku.

Disaat orang lain bingung memikirkan apakah ada sehelai pakaian yang bisa ia pakai di esok hari
Aku disini malah sibuk mematut diri, dengan tumpukan baju dan sepatu yang semakin membuat sesak isi lemari.

Disaat orang lain bingung kemana harus mencari rezeki demi sesuap nasi.
Aku disini sibuk mencari diskon ini itu membeli barang yang belum tentu aku butuhkan.

Ya Rabb, sungguh betapa egoisnya aku.

Mereka yang Mengetuk Pintu Rumahku

Selalu ada pembelajaran berharga dari mereka yang mengetuk pintu rumahku, Foto : unsplash.com

 

Banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan dari mereka yang terpaksa mengetuk pintu rumahku, berusaha membuang jauh-jauh rasa malu demi memperoleh beberapa lembar uang ditangan. Ya, banyak mereka yang meminta bantuan kami kala mereka mendapat ujian dan musibah.

Ada seorang kerabat, sebut saja Bi Isti yang membutuhkan biaya untuk membeli dua kantung darah untuk suaminya yang menderita penyakit kelainan darah dan setiap bulannya harus menjalani transfusi darah. Karena penyakit yang dideritanya, suami Bi Isti menjadi tidak maksimal dalam mencari nafkah. Badan yang lemas dan ringkih membuatnya seringkali absen berdagang martabak mini. Mau tidak mau, Bi Isti harus ikut berjuang mencari penghasilan tambahan agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Ada juga seorang ayah, sebut saja Pak Rahmat, ia terpaksa meminjam uang untuk membeli beras di esok hari supaya istri dan keempat anaknya bisa makan karena penghasilannya dari berdagang kala itu tak cukup untuk biaya makan dan sekolah anak-anaknya.

Dan yang membuatku miris lagi ada salah satu kerabat jauh, sebut saja Bi Eni yang tidak bisa membawa bayinya pulang karena belum membayar biaya persalinan di salah satu klinik. Ah, sedih sekali rasanya sebagai seorang ibu tak kuasa aku membayangkan jika hal tersebut terjadi padaku.

Berbagi Menjadi Terapi Bagi Obesistuff yang Kuderita

Dengan berbagi, aku jadi terlatih utntuk bijak menggunakan uang, Foto : unsplash.com

 

Alhamdulillah Allah menitipkan kami rizki yang cukup hingga kami bisa membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan kami.

Bi Isti, Pak Rahmat, Bi Eni, dan juga Ibu Ningrum yang membuatku tersadar bahwa selama ini aku telah menyia-nyiakan rizki yang Allah beri. Padahal diantara harta yang kumiliki didalamnya ada hak mereka yang Allah titipkan padaku.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Baqarah : 267)

Di luar sana, ada yang mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, Foto : unsplash.com

Berbagi selalu memiliki hikmah tersendiri, baik bagi yang memberi maupun ia yang menerimanya, aku pun merasakan banyak manfaat dan pembelajaran hidup yang berarti manakala aku bisa memberi sebagian dari rezeki yang kumiliki. Dan salah satu perubahan besar yang kurasakan yakni berkaitan dengan penyakit obesistuffku ini.

Ya, ternyata berbagi mampu mengasah rasa empati dan sensitivitas ku terhadap kesulitan yang dialami orang lain, hingga akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai terlatih untuk bijak menggunakan uang. Misalnya, bagiku tak masalah membeli tas dan sepatu seharga 400 ribu, namun ternyata diluar sana ada mereka yang membutuhkan uang 400 ribu untuk membeli beras demi bertahan hidup selama beberapa minggu. Saat bencana alam, ada bayi-bayi yang kedinginan, bertahan hidup dengan sehelai baju dan kain tipis sebagai selimut, belum lagi soal makanan dan susu, ah sungguh pilu. Hal-hal tersebut membuatku menjadi terlatih untuk selalu bersyukur dan merasa cukup dengan segala nikmat yang Allah beri.

Dengan sering berbagi, kita akan terlatih untuk selalu bersyukur, Foto : unsplash.com

Belum lagi soal bagaimana di akhirat nanti jika aku ditanya perihal tumpukan pakaian yang jarang aku kenakan, tentang sepatu yang kusimpan hingga berdebu, tentang uang yang hanya kutumpuk di rekening sedangkan di luar sana banyak yang merintih kelaparan, berharap ada yang memberinya sedikit saja makanan untuk bertahan hidup.

Maka, bagiku berbagi laksana obat dan terapi tersendiri. Perlahan mulai kukemas baju-baju yang menumpuk dilemari, kuberikan pada mereka yang berhak, demi mengurangi hisabku di akhirat. Kini berbagi bagiku adalah sebuah "kebutuhan" yang jika tak rutin kupenuhi, rasanya hidupku seperti hampa.

Kau tau apa yang dampak yang kurasa ?. Yap, bahagia, aku merasa ada keberkahan tersendiri kala apa yang kuberi bisa membawa manfaat bagi mereka. Keberkahan itulah yang mengantarkanku pada sebuah rasa nyaman, tenteram, sulit diungkapkan kata-kata. Mungkin itulah yang dinamakan bahagia.

Dikutip dari pontianakpost.co.id, berdasarkan hasil penelitian Michael Norton dari Harvard Business School tahun 2008 menunjukkan bahwa memberikan uang kepada orang lain membuat partisipan lebih bahagia ketimbang menggunakan uang tersebut untuk dirinya sendiri.

Moll dkk dari Universitas California pada tahun 2006 juga melakukan penelitian terhadap aktivitas otak saat seseorang mendermakan hartanya kepada orang lain dan ternyata ada perbedaan yang bermakna, karena perasaan bahagia yang muncul sewaktu kita memberi, ternyata berhubungan dengan peningkatan hormone Oxytocin yang terletak pada bagian belakan atau posterior kelenjar pituitary di otak.

Ya, kebahagiaan itulah yang mengantarkanku pada rasa syukur dan qonaah atau merasa cukup hingga akhirnya aku bisa bijak menggunakan uang tak lagi mudah menghambur-hamburkan harta demi membeli pakaian dan barang-barang hanya demi kesenangan sesaat. Ya, perlahan aku mulai sembuh dari penyakit obesistuff yang aku derita bertahun-tahun lamanya.

#JanganTakutBerbagi, Agar Berbagi Menjadi Sebuah Gaya Hidup

Sudahkah berbagi menjadi bagian dari gaya hidup kita?, Foto : unsplash.com

Dengan banyaknya hikmah dan manfaat yang kita dapatkan dari berbagi, seharusnya membuat kita tak ragu lagi menyisihkan sebagian harta kita untuk mereka yang membutuhkan. Namun ternyata, bagi sebagian orang, berbagi adalah suatu hal berat yang membuatnya ragu untuk melakukan kegiatan mulia tersebut.

Ada beberapa alasan yang seringkali membuat seseorang enggan untuk berbagi, diantaranya :

1. Mungkin Sifat Kikir Sudah Menjadi Bagian Dari Dirinya

Hmmh,sebagai manusia terlebih seorang muslim, Al-Qur'an sudah mewanti-wanti lho agar kita menjauhkan diri dari sifat tercela ini.

Sifat kikir membuat seseorang menjadi takut berbagi dan menyedekahkan hartanya karena mereka menganggap ah rugi rasanya mengeluarkan harta untuk orang lain yang dianggapnya tidak memberi manfaat apa-apa untuk dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana solusinya ?. Nah, buat kita yang sudah terpapar penyakit ini, baiknya renungkan kembali ayat berikut :

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/828-sedekah-tidaklah-mengurangi-harta.html

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Ya, sedekah sejatinya tidak mengurangi harta kita, justru Allah lah yang akan mengganti bahkan melipatgandakannya.

2. Ada Rasa Malu Jika Bersedekah Hanya Sedikit 

Nah, terkadang sebagai orang timur terkadang kita dihinggapi rasa malu, segan, atau tak enak jika memberikan sesuatu ala kadarnya kepada orang lain. Contohnya saja terkadang kita malu membagikan makanan yang kita masak kepada tetangga kita, padahal Rasulullah menganjurkan kita untuk memberikan makanan yang kita memiliki kepada kita salah satunya saat kita memasak maka dianjurkan untuk memperbanyak kuahnya agar bisa diberikan kepada tetangga.

Dan lagi, bukankah ada hadits yang menyatakan "“Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”.

Maka, apalagi hal yang membuatmu sungkan untuk berbagi. Karena sesuatu yang bagi kita kecil dan sedikit mungkin saja di mata orang lain adalah sebuah hal yang besar dan dibutuhkan.

3. Lebih Merasa Untung Jika Hartanya Ditabung

Ada juga sebagian orang yang mengangap lebih baik uangnya disedekahkan saja karena khawatir jika suatu saat ada salah satu anggota keluarganya yang sakit atau misalnya suatu saat nanti ia mengalami musibah atau hal-hal buruk.

Padahal, sebetulnya sedekah itulah yang mampu mencegah berbagai macam bala bencana, jangan sampai Allah mengambil "paksa" sedekah kita yang seharusnya menjadi hak orang lain dengan cara memberikan kita musibah berupa kecelakaan, sakit yang berkepanjangan, dan lain-lain.

4. Ragu dan Was-Was apakah Sedekah Tersebut Benar-benar Sampai Kepada Orang yang Membutuhkan

Aku sering sekali mendapat broadcast yang mengaku dari sebuah lembaga atau yayasan kemanusiaan yang meminta santunan via online. Manusiawi sekali ya jika kita ragu dan khawatir untuk mentransfer sejumlah uang kepada mereka karena kita tidak melihat kegiatan dan program-program mereka secara langsung terlebih yang track recordnya tidak jelas.

Jangankan secara online, berinfak langsung pun terkadang kita agak memilah dan memilih karena seringkali kita mendengar berita di media massa mengenai penipuan berkedok yayasan amal. Nah, maka dari itu kita harus memilih lembaga atau yayasan terpercaya dan program-programnya tepat sasaran serta jangkauannya luas hingga ke pelosok nusantara, seperti Dompet Dhuafa. Kalian tentu sudah tidak asing dong dengan lembaga penyaluran ZISWAF yang satu ini.

Dompet Dhuafa, Hadirkan Maslahat Hingga ke Pelosok Negeri

 

 

Sahabat, mungkin diantara kalian ada yang belum tahu kalau ternyata, berdasarkan laporan CAF (Charities Aid Foundation) pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia.

Ada 3 hal yang menjadi penilaian utama. Pertama, adalah inisiatif untuk membantu orang yang tidak dikenal, mendonasikan uang untuk amal dan menjadi seorang sukarelawan. Penelitian ini dilakukan sejak tahun 2013 sampai 2017 dan dikumpulkan tahun 2017, melibatkan lebih dari 150 ribu orang dari 146 negara.

Sebagai warga negara Indonesia tentu kita bangga ya ternyata orang Indonesia memiliki kepedulian dan empati yang besar terhadap kesulitan yang dialami orang lain, sekaligus juga bertanya sudahkah kita menjadi bagian dari mereka-mereka yang dermawan itu.

Mungkin diantara kita ada yang masih ragu dan bingung kemana harus menyalurkan donasi agar bantuan kita benar-benar bisa sampai pada mereka yang membutuhkan dan juga tepat sasaran. Tak perlu bingung dan khawatir, kalian bisa berdonasi melalui Dompet Dhuafa

Ya, Dompet Dhuafa adalah Lembaga Filantropi Islam bersumber dari dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship).

Dompet Dhuafa akan terus mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada sumber daya lokal melalui sistem yang berkeadilan. Dengan berdonasi di Dompet Dhuafa, tentunya kita ikut terlibat mengentas kemiskinan dan upaya membangun bangsa Indonesia untuk lebih maju. 

Banyak sekali program-program yang dilakukan Dompet Dhuafa, diantaranya dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sosial.

Infografis program program Dompet Dhuafa, sumber : dokumentasi pribadi


O ya, aku juga pernah menjadi relawan bersama Dompet Dhuafa pada tahun 2008 lalu , kala itu aku tergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Hamasah Islam Poltekkes Bandung dan aku turut serta dalam bakti sosial berupa pengobatan gratis yang diadakan oleh Dompet Dhuafa di salah satu desa di Bandung Timur. Seru dan berkesan sekali rasanya, aku jadi semakin yakin bahwa program-program Dompet Dhuafa memang sangat bagus dan tepat sasaran, tak hanya itu cakupannya pun luas sekali, menjangkau hingga ke pelosok negeri, semoga apa program-program Dompet Dhuafa ini mampu membantu mengentaskan masalah kemiskinan di negeri ini.

Berbagai program Dompet Dhuafa, Foto : instagram Dompet Dhuafa


Memberi Semudah Membeli dengan Layanan Donasi Dompet Dhuafa 

Donasi Online Dompet Dhuafa, Sumber : dompetdhuafa.org
Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kecanggihan teknologi digital tentu membuat kita semakin mudah untuk membeli atau mencari barang atau produk yang kita butuhkan. Tak perlu keluar rumah, tinggal klik, semua beres.

Namun, seperti yang aku kemukakan di awal tadi, kecanggihan tersebut terkadang melenakan, membuat banyak orang terjebak pada gaya hidup konsumtif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi peningkatan konsumsi masyarakat selama April hingga Juni 2018 mencapai angka 5,14 persen. Capaian tersebut merupakan angka tertinggi  karena biasanya tingkat konsumi berada di kisaran angka 4 persen hingga 5,07 persen.

Ya, selama ini kita mudah sekali membeli sesuatu, terlebih via online, maka seharusnya rasa mudah membeli itu diiringi pula dengan rasa mudah untuk memberi. Berbagi kini menjadi lebih mudah dengan berbagai layanan donasi yang ditawarkan oleh Dompet Dhuafa, diantaranya :
  1. Kanal donasi online donasi.dompetdhuafa.org
  2. Transfer bank
  3. Counter
  4. Care visit (meninjau langsung lokasi program)
  5. Tanya jawab zakat
  6. Edukasi zakat
  7. Laporan donasi
 Nah, untuk lebih jelasnya, bagi sahabat yang ingin berbagi, baik itu zakat, infaq,sedekah maupun wakaf, kalian bisa menyimak tutorialnya dalam video dibawah ini !



Lalu, Apalagi yang Membuatmu Takut untuk Berbagi ?


Bagiku, berbagi selalu membawa hikmah tersendiri, ada sejumput bahagia kala melihat jiwa-jiwa yang lelah itu tersenyum lega.
Tak hanya itu, berbagi seakan menjadi terapi tersendiri bagiku yang dulu terkena penyakit obesistuff.
Ya, berbagi mampu membuka mataku, membuatku tersadar bahwa selama ini aku hanya sibuk dengan duniaku, dengan tumpukan baju dan sepatu yang justru malah membuat sesak hidupku.

Berbagi mampu membuatku melihat segala sesuatu dengan kacamata syukur, hingga akhirnya perlahan aku bisa bijak menggunakan rezeki yang Allah titipkan padaku.

Seperti Dompet Dhuafa yang program-programnya mampu memberi kemaslahatan hingga ke pelosok negeri, memberi harum bagi mereka yang sesak dengan himpitan ekonomi, melukis asa bagi anak-anak yang nyaris kehilangan masa depan, juga menciptakan secercah senyum dan rasa optimis bahwa kelak perlahan bangsa ini akan lepas dari jerat kemiskinan dan ketidakberdayaan, insyaAllah.

Yuk kawan, buka pintu rumahmu, dan mulailah berbagi, kelak jika negeri ini dipenuhi dengan orang-orang yang peduli, semoga tak ada lagi mereka yang mengetuk pintu rumahmu di malam hari, hanya demi sesuap nasi.

Bersama Dompet Dhuafa, berbagi menjadi lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa. 



Referensi pendukung : dompetdhuafa.org, tribunnews.com, ekonomikompas.com, tabungzakat.org
                         video : Youtube Dompet Dhuafa 
                           Foto : unsplash.com, dompetdhuafa.org, instagram @dompetdhuafa




Dalam laporannya tentang CAF World Giving Index per Oktober 2018, Indonesia menempati posisi teratas dari 144 negara yang disurvei oleh lembaga ini.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Negara Paling Dermawan di Dunia", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/06/083100526/indonesia-negara-paling-dermawan-di-dunia.
Penulis : Putri Syifa Nurfadilah
Editor : Erlangga Djumena
Charities Aid Foundation (CAF).

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Indonesia Negara Paling Dermawan di Dunia", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/06/083100526/indonesia-negara-paling-dermawan-di-dunia.
Penulis : Putri Syifa Nurfadilah
Editor : Erlangga DjumIndonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia












Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/1813-hidup-boros-temannya-setan.html

22 Comments

  1. Berbagi takkan mengurangi apapun dari kita ya mbak justru menjadi obat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali miss.. karena berbagi tak kan pernah rugi

      Delete
  2. Baru tau, ternyata itu suatu penyakit ya mba, gak heran aku lihat seorang teman hampir setiap Minggu beli baju, aku pikir itu baju mau dikemanakan semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya mbak terlebih jaman sekarang harus bijak menggunakan gadget karena berbelanja jadi semakin mudah akhirnya jadi sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan

      Delete
  3. banyak sekali fadilah berbagi ya, Mbak, dan selalu ada hikmah tersendiri bagi orang yang ingin berbagi.

    ReplyDelete
  4. Jadi inget dengan kajian di sekolah sama Ust. Abi Makki, sedekah ini adalah terapi bagi jiwa yang merasa pelit/kikir. Mungkin awalnya sulit, tapi kalau sudah mendapatkan nikmatnya rasa berbagi pasti ketagihan. Karena Allah selalu mengganti nilai sedekah dgn yg lebih baikn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mbak, ketika berbagi sudah menjadi kebiasaan maka otomatis kita jadi terbiasa utk qonaah atau merasa cukup dan melihat segala sesuatu menggunakan kacamata syukur

      Delete
  5. Haduh jangan jangan saya sudah mulai terjangkit obestuff.. Beli ini itu hanya tergiur kmudahan dan diskon beli online.
    Padahal kalo disedakahkan lewat dompet duafa kan lebih bermanfaat ya. Mudah jugaeternyata sekarang dompetduafa bisa diakses dengan pencet pencet gadget saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak saya pun dulu gak sadar kalo saya sudah terjangkit penyakit ini tau2 lemari numpuk & tabungan kok gak nambah2 hhe.. yapp daripada buat berbelanja yg tdk diperlukan lebih baik uangnya didonasikan kpd yg membutuhkan

      Delete
  6. Wanita dam shopping emak sulit dipisahkam mbak, apalagi saat nisa .ebhs^. Keen mbak. Semoga menang ya

    ReplyDelete
  7. Kebetulan banget mbak ini lagi beres2 rumah mau pindahan. Ternyata baju-baju yang gak pernah dipake numpuk ampe 3 dus. Ya Allah. Saya gak pernah ngecek2. Nah enaknya emang dibagikan mbak yah. Tapi kadang bingung mau bagiin kemana. Klo dompet dhuafa hanya berbentuk uang aja yah mbak?

    ReplyDelete
  8. Seneng ya mbak, bisa jadi relawan untuk layanan sosial.
    Btw seruju banget mbak, berbagi memang selalu memiliki hikmah tersendiri, baik bagi yang memberi maupun bagi yang menerimanya.

    Dan alhamdulillah kita masih diberi nikmat untuk bisa berbagi.

    ReplyDelete
  9. Tertampar sendiri rasanya karena masih suka menumpuk barang dan konsumtif beli ina inu yang diri perlu padahal ingin.
    Dompet dhuafa hadir memudahkan kita berbagi ya

    ReplyDelete
  10. berbagi justru akan menambah kebahagiaan..itulah dahsyatnya berbagi..alhamdulillah kehadiran dompet dhuafa semakin mempermudah kita yang ingin berbagi dengan sesama..semangat berbagi��

    ReplyDelete
  11. Dengan berbagi, justru rejeki kita bisa lebih lancar�� bagus ada program dompet duafa

    ReplyDelete
  12. setuju banget kalau berbagi itu akan memudahkan kita, bisa dari segi materi, kesehatan atau keluarga yang harmonis. tulisannya lengkap banget dan menyentuh mba.

    ReplyDelete
  13. Setuju mba, orang yang berbagi nggak akan pernah kekurangan. So, berbagilah selagi bisa.

    ReplyDelete
  14. Berbagi membuat kita menyadari bahwa sesungguhnya yang ada di kita adalah titipan....

    ReplyDelete
  15. Aku mengalami kecanduan belanja pas masih kerja kantoran Mbak. Apalagi saat itu aku bisnis fashion juga. Jadilah semakin menumpuk. Alhamdulillah sekarang nggak terlalu. Kalau belipun selalu mikir2, takut cuma jadi pajangan saja.

    ReplyDelete
  16. Perempuan dan belanja memang hubungan yang sangat dekat. Jadi ingat pernah mengalami juga, untung sudah khilaf.

    ReplyDelete