Meneropong Sisi Historis Lain Kota Surabaya dari Atas Menara Gedung Kesyahbandaran Tanjung Perak




Tulisan ini Menjadi Pemenang ke-2 dalam Lomba Kampanye Pelestarian Cagar Budaya Kota Surabaya yang diadakan oleh Kemendikbud dan Universitas Airlangga Surabaya.

Surabaya..Surabaya oh Surabaya
Kota kenangan..kota kenangan takkan kulupa..

Ya, Surabaya memang selalu menyimpan kenangan bagi siapa saja yang pernah menjejakkan kaki di kota terbesar kedua di Indonesia ini. Saat melangkahkan kaki disini, entah mengapa pikiran kita seolah menembus jauh ke masa lalu. Semakin larut menyusuri setiap sudutnya, maka nuansa heroisme itu semakin terasa mengingat banyak sekali peninggalan bersejarah disini. Semua situs tersebut seolah mengabarkan betapa gegap gempitanya suasana kala itu, saat Arek-arek Suroboyo dengan lantang berupaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ada Bung Tomo yang tampil sebagai orator ulung, menyeru para arek-arek Suroboyo di pertempuran 10 November yang menjadi cikal bakal Hari Pahlawan. Ada H.O.S Cokroaminoto sebagai pemimpin Sarekat Islam, politikus dan negarawan Roeslan Abdul Gani, bahkan Ir. Soekarno, presiden pertama kita pun lahir di kota yang terkenal dengan sebutan kota pahlawan tersebut.

Memang, saat mendengar kata Surabaya, yang pertama singgah di pikiran kita adalah tentang kisah sejarah yang kental dengan nuansa kepahlawanan, tentang semangat pemudanya yang menggelora hingga akhirnya mampu menjadi tonggak sejarah dalam mencapai kemerdekaan Indonesia yang berkahnya dapat kita rasakan hingga saat ini.

Namun, ternyata ada sisi historis lain dari kota Surabaya yang mungkin belum diketahui banyak orang. Jika kita berjalan-jalan ke ujung utara kota Surabaya tepatnya di Pelabuhan Tanjung Perak, kita akan menemukan sebuah gedung bernuansa Belanda yang menyatu dengan sebuah menara suar. Jika kita melihatnya dari pesisir pantai, ia tampak gagah dan megah. Gedung yang merupakan salah satu cagar budaya Kota Surabaya tersebut bernama Gedung Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak.

Hingga kini ia masih berdiri, seolah ingin mengabarkan perihal jejak-jejak sejarah di masa lampau. Tentang eksistensi dan kejayaan Surabaya sebagai kota maritim yang kuat di era Hindia-Belanda.

Lokasi Strategis Surabaya Sebagai Pusat Perdagangan Laut


Kalimas tempo dulu, Foto : wikipedia.com
Dalam prasasti kamalygan disebutkan bahwa sejak dahulu Surabaya sudah menjadi pusat perniagaan antarpulau. Ya, karena letak geografisnya yang strategis, serta didukung oleh dataran gigir atau hinterland yang potensial, maka Surabaya tumbuh menjadi kota dagang yang makmur dimana setiap harinya banyak perahu dan kapal yang melintas dan mengambil barang dagangan ke hulu sungai. Semenjak Malaka muncul sebagai pusat lalu lintas perdagangan dunia, konsekuensinya Surabaya akhirnya mampu menggeser Tuban sebagai pelabuhan internasional.

Adalah Pelabuhan Kalimas, yang menjadi cikal bakal kejayaan aktivitas niaga di Surabaya. Pada awalnya, Pelabuhan Kalimas hanyalah sebuah tepi sungai yang dianggap kurang penting. Namun, pada abad ke-14, di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, ia menjelma menjadi pelabuhan internasional yang tersohor.

Zaman terus berganti, hingga akhirnya pada abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda meresmikan Pelabuhan Tradisonal Kalimas menjadi pelabuhan utama di Jawa Timur.

 Dari Kalimas Hingga Tanjung Perak


Pelabuhan Tanjung Perak di awal masa pembangunannya, Foto : wikiwand.com
Kalimas yang membelah kota Surabaya ini merupakan salah satu cabang dari Sungai Brantas yang memiliki peran vital di masa lalu karena menjadi arus lalu lintas perdagangan yang bermuara ke jantung kota Surabaya.

Kala itu, Pemerintah kolonial Belanda tengah berkuasa, kebijakan tanam paksa dan kegiatan ekspor-impor kala benar-benar sedang digalakkan,  sehingga Pelabuhan Kalimas pun menjadi semakin sibuk. Terlebih dengan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1867, yang berdampak pada singkatnya waktu tempuh pelayaran dari Eropa ke Asia sehingga secara otomatis mempengaruhi lalu lintas perdagangan antar Asia, terutama Asia Tenggara yang menjadi pemasok bahan mentah.

Hingga akhirnya Pelabuhan Tradisional Kalimas sudah dianggap tidak mampu lagi membendung kepadatan lalu lintas dipelabuhan. Kunjungan kapal-kapal yang semakin membludak serta aktivitas bongkar muat barang yang intensif membuat pemerintah Kolonial Belanda berinisiatif membangun pelabuhan baru. 

Pada tahun 1875 Ir. W. de Jongth menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak, namun rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi. Hingga akhirnya di sepuluh tahun pertama abad ke-20, Ir. WB. Van Goor membuat suatu rencana yang lebih realistis dengan bantuan dua ahli dari Belanda yaitu Prof. Dr. J. Kraus dan G.J. De Jongth untuk membantu merealisasikan rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak.

Pada tahun 1910, Pelabuhan Tanjung Perak mulai dibangun. Kemudian secara bertahap berbagai fasilitas penunjang pun dibangun di sekitar kawasan Tanjung Perak, hingga akhirnya pada tahun 1925 seluruh kegiatan pelabuhan dipindahkan dari Kalimas ke Tanjung Perak.

Kini, Tanjung Perak semakin tersohor. Selain menjadi salah satu pintu gerbang Indonesia Bagian Timur, Tanjung Perak juga mendapat predikat sebagai pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok.

Gedung Kesyahbandaran dan Aktivitas di Menara Suar


Foto : situsbudaya.id
 Cikal bakal berdirinya Gedung Kesyahbandaran Tanjung Perak  tidak terlepas dari pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak itu sendiri karena ia merupakan fasilitas penunjang kemaritiman, sehingga diperkirakan tahun berdirinya gedung ini, tak jauh dari masa-masa pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak, mereka memberi nama gedung ini dengan sebutan  Rotterdamkade.

Kesyahbandaran adalah unit pelaksana teknis (UPT) pemerintah di bidang kebandaran, perkapalan, dan jasa maritim dalam lingkungan Kementerian Perhubungan. Selain itu, ia ditugaskan untuk menjaga ketertiban, patroli, penyidikan tindak pidana pelayaran di Dareah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Dareah Lingkungan Kepentingan (DLKp) pelabuhan serta pengawasan Pekerjaan Bawah Air (PBA), salvage, pemanduan dan penundaan kapal.

 Kantor yang berlokasi di Jalan Kalimas Baru 124 ini memiliki sebuah menara suar (licthbaken, light house) yang sejak dulu berfungsi sebagai menara pengawas sekaligus mercu suar penanda lokasi Pelabuhan Tanjung Perak. Namun,menara pengawas ini sudah lama tidak difungsikan, karena kegiatannya sudah lama dipindahkan ke Kantor Otoritas Pelabuhan, kini menara tersebut hanya meninggalkan beberapa monitor dan box telepon.


Tangga menuju menara suar. Foto : ayorek.com
Monitor yang kini sudah tidak digunakan lagi. Foto : ayorek.com

Pemandangan dari atas menara. Foto : ayorek.com
Lapangan parkir dan panel cahaya surya. Foto : ayorek.com

Pernah dijadikan Markas Perjuangan


Monumen SPI, Foto : pesonakotasurabaya.wordpress.com
Selain menjadi saksi tumbunya perekonomian di Surabaya, Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak juga pernah menjadi markas perjuangan memperebutkan Kemerdekaan Indonesia.  Berdasarkan fakta sejarah, setelah tentara Jepang menyerah, maka pasukan sekutu mulai masuk ke Surabaya yang diawali dengan munculnya armada laut yang memblokade Pelabuhan Tanjung Perak. 

Namun ternyata, diantara pasukan gabungan tersebut, ikut pula tentara Belanda yang berupaya merebut kembali kekuasaan kolonialnya di Indonesia. Hal tersebut pada akhirnya memicu berbagai rangkaian peristiwa seperti perlawanan gabungan BKR (Barisan Keamanan Rakyat) dan Laskar Rakyat, Tewasnya Jenderal Mallaby, dan pertempuran 10 November.

Dalam masa perjuangan tersebut, Gedung Kesyahbandaran Tanjung Perak berperan sebagai markas SPI (Serikat Pelayaran Indonesia) yang menghimpun para pelaut dan pekerja pelabuhan untuk ikut turut serta dalam gerakan bawah tanah. Aktivitas yang mereka lakukan yakni mengumpulkan informasi gerakan kapal dan pasukan musuh, mencuri senjata untuk diserahkan kepada pejuang, juga melakukan sabotase terhadap kepentingan musuh. 

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan SPI yang turut membantu terwujudnya kemerdekaan, pada tanggal 25 Juli 1978,Panglima Armada RI, Laksamana Muda Prasodjo Mahdi meresmikan monumen Markas Serikat Pelayaran Indonesia. 


Menjajal Keunikan Arsitekturnya



Gedung Kesyahbandaran Tanjung Perak Foto : dephub.go.id

Begitu berkunjung  ke Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak, dari bagian depan kita akan disuguhkan dengan penampakan bangunan yang kental dengan nuansa Belanda. Didominasi cat berwana putih serta atap berwana hijau, jika diperhatikan dari jauh, banyak yang mengatakan bangunan ini tampak seperti gereja karena memiliki bentuk yang khas dengan desain gereja.

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, lantai satu digunakan untuk aktivitas kantor, sedangkan untuk ke lantai 2, kita harus menaiki tangga ulir. Sedangkan untuk menuju ke menara syahbanda, kita juga harus menaiki tangga lagi. Menara kesyahbandaran ini terdiri dari 3 lantai yakni lantai penghubung, ruang pengawas, dan puncak menara.


Tangga ulir menuju lantai 2. Foto : titikomapost.com



Gedung Kesyahbandaran tampak samping
Foto : sejarahdapobud.kemdikbud.co.id

Tiba di paling atas, kita akan mendapati puncak menara yang hanya selebar 2 meter saja dengan batas pengaman yang kurang dari 1 meter. Sepertinya, puncak menara ini sengaja diberi cat berwarna emas menyala untuk memberi kesan "megah" serta mencolok jika dilihat dari kejauhan. 

Sejauh mata memandang, dari atas kita akan melihat deretan kapal-kapal dan suasana hilir mudik di Pelabuhan Tanjung Perak, ditemani semilir angin laut dan sinar matahari, membuat kita meneropong jauh, melihat suasana Surabaya tempo dulu yang begitu sibuk dan semarak dengan aktivitas perniagaan lautnya.

Potret dari Masa ke Masa

Menyelami sisi lain Surabaya di Pelabuhan Tanjung Priok, tak lengkap rasanya jika tidak melihat bagaimana rekam jejak dan potretnya dari masa ke masa. Foto-foto dibawah ini semoga bisa menjelaskan sekaligus memuaskan mereka yang penasaran bagaimana Gedung Kesyahbandaran dan Pelabuhan Tanjung Perak kelak menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya Kota Surabaya.
Pelabuhan Tanjung Perak sekitar tahun 1930-an. Foto : surabayarantau.blogspot.com
Gedung Kesyahbandaran di era kolonial, Foto : buleebali.wordpress.com



Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Perak di era kolonial. Foto : dewey.petra.ac.id



Menara Suar Gedung Kesyahbandaran era kolonial. Foto : cakmaryanto.wordpress.com

Gedug Kesyahbandaran Tanjung Perak tahun 1994. Foto : jejakpiknik.com


Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya kini jadi pelabuhan tersibuk ke-2 di Indonesia. Foto : ekbis.sindonews.com
Megahnya suasana Tanjung Perak, kini memiliki fasilitas yang lengkap. Foto : enciety.co
Gedung Kesyahbandaran masih kokoh berdiri dan banyak bagian gedungnya yang masih utuh dipertahankan. Foto : titikkomapost.com

Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya


Foto : pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com
Sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya nomor 188.45/251/1966, Gedung Kantor  Kesyahbandaran Surabaya ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) dengan nomor urut 38.

UU Nomor 11 Tahun 2010 mendefinisikan cagar budaya sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan. Salah satunya berupa bangunan cagar budaya. Benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak, yang punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Pemerintah Kota Surabaya sendiri pun turut andil dalam pelestarian cagar budaya, diantaranya tertuang Dalam Perda Nomor 5 Tahun 2005, Kota Surabaya mengatur pelestarian bangunan dan atau lingkungan cagar budaya. Melalui aturan ini, Kota Surabaya memberikan patokan bahwa bangunan cagar budaya adalah bangunan buatan manusia, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, bangunan yang mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya tersebut sekurang-kurangnya 50 tahun

Ya, Cagar budaya harus dijaga dan  dilestarikan keberadaannya, karena memiliki banyak nilai penting, tak hanya tentang sejarah, namun juga bermanfaat untuk ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. 

Seperti Kantor Kesyahbandaran ini, ia tak hanya berfungsi dalam kegiatan operasional kemaritiman, lebih jauh dari itu, dalam diamnya, gedung ini menjadi saksi bagaimana Kota Surabaya bertumbuh dari waktu ke waktu.

 Ditengah semangat modernisasi, oleh Pemerintah Kota Surabayan gedung ini masih dipertahankan bentuk aslinya agar generasi masa kini bisa belajar, menaiki setiap jejak anak tangganya, kemudian berdiri diatas menara sembari meneropong jauh ke masa lalu, melihat dengan jelas bahwa ternyata Kota Surabaya memiliki sisi historis lain yang membanggakan.

Tak hanya dikenal dengan semangat pemudanya dalam memperjuangkan kemerdekaan, jauh sebelum itu Kota Surabaya telah tumbuh menjadi kota maritim yang kuat dengan reputasi bisnis yang menyilaukan. Semuanya bermula dari aktivitas perniagaan jalur laut hingga akhirnya kejayaan itu merambah ke berbagai tempat di sekitarnya,  serta mampu menjadi jantung perekonomian yang memompa seluruh bagian tubuh Kota Surabaya hingga hari ini.

Ya, land mark Tanjung Perak itu masih berdiri tegak, sebagai sebuah bangunan cagar budaya mari kita jaga keberadaannya agar menjadi warisan budaya, sejarah, dan pengetahuan bagi anak cucu kelak.

Referensi penunjang : 
Majalah Dermaga, www.baladapustaka.com, situsbudaya.id, pesonacagarbudayasurabaya.wordpress.com, wikipedia, www.ayorek.com, www.dephub.go.id, Jurnal penelitian dengan judul "Peranan Kalimas sebagai Pusat Perdagangan di Surabaya Tahun 1902-1930 M" yang diterbitkan oleh digilib.uinsby.ac.id.

3 Comments

  1. Kalo diliat dari atas jadi tambah indah ya kka

    ReplyDelete
  2. Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ternyata sekarang menjadi Pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia. Sekarang fasilitasnya lengkap, ya. Dulunya pernah jadi markas perjuangan ternyata.

    ReplyDelete
  3. Iya betul, sekarang lengkap banget fasilitasnya dgn berbagai terminal2nya plus disana juga ada gedung kesyahbandaran juga yg dijadikan sebagai cagar budaya, salah satunya karena punya nilai sejarah penting, saksi sejarah Kota Surabaya di masa lalu

    ReplyDelete