Merakit & Menggerakkan Roda Literasi Bangsa Lewat Peran Aktif Keluarga & Masyarakat

Roda literasi di negeri ini akan bergerak maju jika setiap komponen penyusunnya mampu menjalankan fungsinya dengan baik serta saling bersinergi agar bangsa ini selalu siap hadapi tantangan global, karena literasi tak hanya soal kemampuan baca tulis, namun ia  turut mempengaruhi produktivitas dan daya saing bangsa. 

Ada yang berbeda dengan suasana di Taman Kartini, Cimahi pagi itu. Tak hanya ramai dengan keluarga yang sedang menikmati suasana minggu pagi, Ruang Terbuka Hijau tersebut kini dimeriahkan dengan banyaknya buku-buku yang tertata rapi dalam sebuah stand sederhana.


Lapak buku Komunitas Hayu Maca. Foto : dokumentasi pribadi

Yang membuat suasana menjadi semakin meriah, tampak di tengah lapangan berdiri seorang Bapak, yang kemudian dikenal dengan Mang Idon, tengah mendongeng dihadapan anak-anak. Sesekali terdengar riuh tawa dan teriakan antusias dari anak-anak yang begitu khusyu menyimak setiap alur ceritanya.

Entah mengapa, ada rasa haru yang menyeruak kala melihat banyaknya anak-anak yang antusias dengan kegiatan literasi pagi itu. Ah, betapa sungguh masih ada orang-orang yang peduli dengan minimnya budaya literasi bangsa ini.

Tentu kita seringkali mendengar tagline "Indonesia Darurat Literasi", berdasarkan data "The Worlds's Most Literate Nations "pada tahun 2016 , Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61  negara yang disurvei. Belum lagi data dari UNESCO tentang indeks membaca orang Indonesia yang hanya 0,001%, itu berarti dalam seribu orang, hanya satu orang yang memiliki minat baca.

Komunitas Hayu Maca namanya, Saya melihat dari tulisan yang terpampang di banner spanduknya. Para pegiatnya pun kompak mengenakan kaos yang bertuliskan sama.

Kini, beberapa bulan berselang, Saya kembali mendatangi Taman Kartini di minggu pagi untuk mengajak kedua buah hati saya dalam kegiatan literasi Komunitas Hayu Maca serta berkesempatan untuk melakukan wawancara singkat dengan salah satu relawannya, Mbak Selvi namanya.

Komunitas Hayu Maca : Gaungkan Literasi Lewat Mendongeng & Berbagi Kabisa

Anak-anak dan orangtua sedang asyik membaca buku. Foto : dokumentasi pribadi

Kekhawatiran terhadap anak-anak yang lebih senang menghabiskan waktu di depan layar gadget lah yang akhirnya membuat Donny Safari dan rekan-rekannya sesama pegiat literasi mengagas lahirnya Komunitas Hayu Maca ini. 

Komunitas yang didirikan pada September 2016 ini memanfaatkan ruang terbuka hijau di Taman Kartini Cimahi untuk melakukan kegiatan rutinnya setiap Minggu pagi dengan membuka lapak baca yang berisi buku-buku dan berbagai mainan edukatif seperti lego, puzzle, dan lain sebagainya.

Sebulan kemudian, kegiatannya mulai diisi dengan aktivitas mendongeng dengan alasan kegiatan membaca belum menjadi hiburan utama yang menarik bagi anak-anak. Dongeng dinilai sebagai media dan sarana yang tepat untuk menumbuhkan minat baca pada anak.

Karena sasarannya keluarga, maka kegiatan ini semakin menarik dengan adanya sesi berbagi "kabisa", yang dalam bahasa Indonesia artinya berbagi hobi atau keterampilan yang bisa diikuti baik oleh anak maupun orangtua. Kegiatan berbagi kabisa yang sudah dilakukan diantaranya membuat kerajinan (crafting), pelatihan hidroponik, akupressure dan masih banyak lagi.

Literacy and Beyond


Kegiatan mendongeng yang dilakukan oleh relawan Komunitas Hayu Maca. Foto : ayobandung.com

Literacy and Beyond, itulah yang menjadi spirit dari komunitas ini. Maksudnya, kegiatan literasi yang mereka gaungkan bukan hanya sebatas membaca buku dan mencari informasi lewat stand/lapak baca yang disediakan.

Lebih dari itu, diharapkan budaya literasi nantinya mampu menumbuhkan manfaat yang lebih luas baik bagi diri maupun sesama. Komunitas Hayu Maca diharapkan mampu menjadi ajang untuk eksistensi, eksplorasi, kompetensi , dan pengejawantahan informasi yang didapat dari membaca untuk disalurkan melalui kegiatan mendongeng dan berbagi kabisa, sehingga siapapun nantinya, bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan literasi seperti mendongeng dan berbagi kabisa.

Seiring berjalannya waktu, komunitas ini semakin melebarkan sayapnya dengan melakukan roadshow mendongeng ke berbagai sekolah dan lembaga, bakti sosial, juga rutin mengadakan streaming radio bedah buku bersama Radio Litasari Cimahi. 


Saatnya Merakit Roda Literasi!


Berdasarkan hasil wawancara saya dengan Mbak Selvi selaku relawan Komunitas Hayu Maca, dapat ditarik benang merah antara peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk budaya literasi bangsa, karena misi utama Komunitas Hayu Maca ini sebetulnya adalah membentuk budaya literasi melalui kebersamaan dengan keluarga.

Sebagai seorang ibu sekaligus parenting & literacy enthusiast, saya kemudian berfikir dan memiliki konsep yang saya analogikan dalam bentuk roda sederhana.

 Mengutip dari KBBI, pengertian roda yakni barang bundar (berlingkar dan berjeruji) atau bisa juga diartikan sebagai kegiatan (gerak) yang berkesinambungan. Jika dianalogikan dengan sangat sederhana, pada intinya roda terdiri dari poros, jari-jari serta ban luar. Dalam hal, demi memudahkan konsep berfikir kita, saya mengesampingkan istilah atau komponen-komponen lainnya.

Yang pertama adalah poros roda, yang berfungsi sebagai pusat atau tumpuan roda itu sendiri. Agar roda mampu maju dan berputar dengan stabil, dibutuhkan poros roda yang kokoh dan kuat. Sama halnya dengan roda literasi, keluarga saya analogikan sebagai poros yang menjadi tumpuan utama, karena keluarga merupakan unit sosial terkecil yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter, habit dan cara berpikir seseorang.

Struktur roda selanjutnya yakni jari-jari yang berperan sebagai penopang dan penyalur tekanan. Dalam roda literasi, saya analogikan masyarakat sebagai jari-jari yang berfungsi menopang dan menyalurkan spirit literasi keluarga untuk dijangkau dan disebarkan lebih luas lagi.

Yang terakhir, ban luar yang berfungsi sebagai bantalan roda yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan. Dengan semakin banyak keluarga yang melek literasi serta gencarnya gerakan literasi masyarakat, maka tugas pemerintah sebagai ban luar harus mampu menopang dan menjadi bantalan yang kokoh untuk mendorong laju roda literasi bangsa dengan membuat berbagai program dan kebijakan yang sinergis dan solutif.

Maka, harus kita pahami bahwa memajukan roda literasi bangsa adalah sebuah proyek bersama yang membutuhkan keterlibatan dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat, dan keluarga sebagai lingkungan terdekat.

Seperti yang saya paparkan di awal tadi bahwa literasi bukan hanya soal baca tulis, lebih jauh dari itu ia turut berpengaruh terhadap produktivitas dan daya saing bangsa. Sebelum lebih jauh membahasnya, baiknya kita berkenalan dulu dengan ragam literasi dasar yang akan saya jelaskan dalam bentuk infografis dibawah ini.



Keluarga sebagai Poros Utama Roda Literasi

Sebagai lingkungan yang paling dekat dan berpengaruh, keluarga harus mampu tampil prima agar jejak-jejak literasi terus terbawa pada setiap anggotanya. Beberapa tahun kebelakang ini ada banyak sekali program/gerakan yang digagas oleh pemerintah  maupun para pegiat literasi, seperti pada bulan Juli lalu, #SahabatKeluarga Kemendikbud mencanangkan program literasi keluarga yang diberi nama GERNAS BAKU yang merupakan singkatan dari Gerakan Nasional Orangtua Membaca Buku sebagai upaya meningkatkan minat baca pada anak.

Sebetulnya banyak sekali program dan kegiatan literasi keluarga lainna, namun kali ini saya akan memaparkan gerakan dan program-program yang sempat "booming" beberapa tahun kebelakang dan dinilai efektif, karena saya pun telah mempraktikkan beberapa diantaranya.
1. Gerakan 1821



 Sebetulnya gerakan ini bukan gerakan yang spesifik untuk tingkatkan aktivitas membaca. Gerakan 1821 yang dirancang oleh Abah Ihsan Baihaqi ini secara global bertujuan untuk mengajak para orangtua agar fokus menemani anaknya pada pukul 18.00 hingga 21.00. Lalu apa saja yang bisa dilakukan selama 3 jam tersebut? Kita bisa mengajak anak untuk 3B (Bermain, Belajar, dan Bicara)

Gerakan ini dibentuk karena keprihatinan Abah Ihsan terhadap para keluarga yang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya. "Temanilah anak kita, 3 jam saja, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan raga kita" ujar Abah Ihsan.

Waktu tersebut dipilih karena merupakan prime time, dimana biasanya keluarga sudah berkumpul semua di rumah. Nah, kita bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk menumbuhkan minat baca pada anak, bisa dengan mendongeng, membacakan cerita atau dengan berdiskusi soal buku yang telah dibaca si kecil, menarik bukan?.

2. Menumbuhkan Pohon Literasi Keluarga

Ilustrasi pohon literasi keluarga. Foto : steemit.com
Pohon literasi keluarga ini sebetulnya diadopsi dari Program Pohon Literasi Sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca siswa. Nah, kita bisa membuatnya di rumah, caranya cukup mudah, kita tinggal membuat gambar pohon beserta ranting dan dedaunan warna-warni.

Setiap anggota keluarga bertugas menuliskan judul buku yang telah selesai dibaca diatas daunnya masing-masing kemudian ditempel di pohon literasi. Tak hanya judul bukunya saja, kita juga bisa membuat kutipan sederhana dari buku yang telah kita baca. Semakin banyak buku yang kita baca, maka pohon literasi pun akan semakin tumbuh lebat.

3. Mencoba Metode "Read Aloud"

Ilustrasi metode read aloud. Foto : teacherspasteachers.com
Pada tahun 2015 lalu, Kemendikbud mencanangkan program "Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud) pada event Hari Buku Sedunia. Metode ini diperkenalkan oleh Jim Trelese dalam bukunya "The Reas Aloud Handbook", yang ternyata bisa dimulai sejak kehamilah trimester ke-3 untuk menstimulasi kecerdasan bayi.

Read Aloud atau membaca dengan lantang/nyaring bisa kita praktikkan dengan cara membacakan cerita dengan nada, intonasi, eksperesi, dan penekanan yang tepat. Di sela-sela membaca, kita bisa bertanya pada anak seputar isi bacaan atau bisa juga meminta anak untuk memprediksi alur cerita selanjutnya.

Metode Read Aloud bermanfaat untuk membangun keterampilan literasi melalui pengenalan bunyi, intonasi, kemampuan mendengar, berbicara, membaca, dan membantu menambah kosakata.

4. Rekreasi Literasi

Mengajak si kecil dalam perjalanan literasi. Foto : dokumentasi pribadi
 Saat anak Saya, Naura berusia 2,5 tahun ia sering saya bacakan cerita tentang berbagai hewan melalui penggambaran di buku cerita. Hingga akhirnya rasa penasarannya mulai muncul, ia banyak bertanya tentang bentuk, warna, dan bagian-bagian tubuh hewan tersebut.

Untuk memuaskan rasa penasarannya, saya pun mulai melibatkannya dalam sebuah "perjalanan literasi" sebagai salah satu bentuk penggambaran definisi literasi yang sesungguhnya yakni tidak hanya berkutat pada informasi melalui buku saja.

Akhirnya saya pun memberinya kesempatan untuk melihat bentuk hewan melalui layar televisi seperti discovery channel dan national geographic agar ia mampu melihat lebih jelas bentuk hewan yang ada di dalam buku bacaan. Setelah itu,  Saya pun mengajaknya rekreasi ke kebun binatang agar ia mampu melihat dengan jelas dan nyata hewan-hewan yang ia baca dari buku cerita sehingga rasa penasarannya kini terjawab sudah.

Ya, sesekali ajaklah anak untuk melakukan perjalanan literasi, agar ia terlatih untuk mencari ilmu pengetahuan tak hanya dari sumber tertulis. Dan juga, rekreasi literasi ini menurut saya adalah cara yang efektif untuk menggali rasa ingin tahu anak terhadap banyak hal.
Yuk jadikan lingkungan kita sebagai laboratorium hidup tempat anak-anak untuk bereksplorasi dan menggali ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Peran Masyarakat sebagai Jari-Jari Penopang Roda Literasi Bangsa

Masyarakat sebagai jari-jari penopang roda literasi dituntut berperan aktif untuk mentransmisikan spirit literasi keluarga agar mampu dijangkau lebih luas lagi. Karena, tak hanya keluarga, lingkungan sosial juga turut berpengaruh terhadap tinggi rendahnya budaya literasi di suatu tempat.

1. Peran Masyarakat di Era Literasi Digital

Ilustrasi literasi digital. Foto : guneman.com
Sedih sekali rasaya ketika beranda sosial media seringkali dipenuhi dengan hoax yang sudah dishare ratusan bahkan ribuan kali. Padahal dampak yang dirasakan dari hoax tersebut seringkali merugikan orang lain, misalnya dalam bidang kesehatan saya menemukan banyak hoax ramuan-ramuan yang tidak EBM (Evidence based on medicines) yang sangat berbahaya jika dipraktikkan pada penderita penyakit tertentu, penyakit autoimun misalnya.
Atau yang lebih menyedihkan adalah muncul hoax dengan isu-isu sensitif, yang akhirnya memicu perpecahan antar bangsa.

Berdasarkan penelitian, sebanyak 65% dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa dilakukan pengecekan terlebih dahulu, miris ya. Maka menurut saya, setiap orang memiliki tanggung jawab yang sama untuk menangkal berita hoax ini. Masyarakat dituntut untuk cerdas memilih dan menyebarkan berita atau informasi yang diterimanya, istilahnya "Saring Before Sharing".
Saya berharap kelak akan ada gerakan khusus untuk menangkal dan meminimalisir setiap berita bohong yang beredar, mungkin bisa dengan membuat aplikasi/platform khusus yang didalamnya kita bisa bertanya soal berita yang tengah beredar apakah benar atau tidak. Salah satu yang sudah dipraktikkan adalah sebuah akun di Facebook bernama "Pembasmi Hoax Kesehatan" yang dikelola oleh para dokter berkompeten untuk menjawab keresahan masyarakat seputar isu-isu di dunia kesehatan. Semoga akun-akun serupa semakin banyak, sehingga banyak masyarakat yang teredukasi dan tidak lagi terpapar hoax.

Tak hanya itu, masyarakat juga dituntut untuk bersikap bijak dalam berliterasi digital terlebih saat ini banyak sekali hate speech, cyber bullying yang sekaligus menunjukkan betapa rendahnya kecakapan berliterasi digital, juga anyaknya pemanfaatan akun untuk kejahatan, pornografi, kekerasan, persekusi semakin menambah deretan masalah literasi digital yang harus diselesaikan bersama-sama.


2. Menjadi Pahlawan Literasi di Masyarakat

Menjadi pahlawan literasi di masyarakat ala Komunitas Hayu Maca. Foto : yayuarundina.com
Seperti Komunitas Hayu Maca, saat ini banyak sekali gerakan literasi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Misi mereka sama, membantu agar roda literasi di negeri ini dapat bergerak maju.

Terlebih saat ini banyak sekali program dan strategi pemerintah untuk tingkatkan literasi baik dalam hal peningkatkan akses informasi, diantaranya membuat pojok baca di berbagai tempat seperti terminal,taman, halte, kantor pelayanan masyarakat, dan sebagainya.

Tak hanya itu, sebagai upaya mendukung gerakan literasi masyarakat, pemerintah juga berupaya untuk meningkatkan kapasitas fasilitator dalam hal ini para pegiat literasi dengan mengadakan berbagai penyuluhan serta melakukaan pelibatan publik (BUMN dan DUDI) juga mengintregasikan kegiatan literasi dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti yang tertuang dalam strategi gerakan literasi masyarakat.

Para pahlawan literasi tersebut juga ternyata tak hanya aktif menggaungkan literasi di lingkungan perkotaan saja, banyak komunitas literasi yang juga aktif menggaungkan "literasi akar rumput" sebagai jalan untuk mengurangi kesenjangan sosial akibat rendahnya literasi. Misalnya, Komunitas Rumah Literasi yang aktif menyebarkan budaya literasi hingga ke pelosok pedesaan di Banyuwangi, salah satu programnya yakni "Desa Literasi" yang memiliki misi "Membangun Indonesia dari Kampoeng Halaman".

Maka, semoga saja dengan banyaknya pahlawan-pahlawan literasi di negeri ini berbagai permasalahan terkait rendahnya literasi bangsa perlahan akan mampu terselesaikan dengan baik.


Merancang Ban Luar yang Kokoh dengan Dukungan Pemerintah

Seperti yang Saya kemukakan diawal bahwa literasi bukan terbatas pada kemampuan baca tulis saja, lebih jauh dari itu, literasi ternyata juga berpengaruh pada produktivitas dan daya saing bangsa.
Rendahnya literasi merupakan masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa. Literasi rendah berkontribusi pada rendahnya produktivitas bangsa yang berujung pada rendahnya pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ditandai oleh rendahnya pendapatan per-kapita. (Chairil Abidin-Dosen Analisis Kebijakan Publik Universitas Indonesia)
Karena dampak dari literasi ini begitu signifikan terhadap kemajuan bangsa, maka pemerintah harus menjadi ban luar yang kokoh agar roda literasi bangsa mampu bergerak bahkan melesat jauh.

Rendahnya literasi berpengaruh pada hampir setiap aspek kehidupan, misalnya dalam bidang kesehatan, tingkat literasi yang rendah berpengaruh pada buruknya sanitasi dan perilaku hidup bersih, meningkatnya kasus stunting yang akhirnya turut berkontribusi pada rendahnya produktivitas anak bangsa.

Maka, ada banyak sekali program yang dibuat pemerintah dalam upaya peningkatan literasi di negeri ini. Salahsatunya yakni Gerakan Literasi Nasional (GLN). Tujuan dari GLN sendiri yakni untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.



Mendorong Roda Literasi Bangsa Agar Terus Bergerak Maju

Setelah merakit roda literasi dengan cara menguatkan setiap peran dan fungsi komponen didalamnya, maka saatnya mendorong roda literasi bangsa untuk terus bergerak maju dengan cara saling mendukung dan bersinergi satu sama lain.

Sebagai warga negara yang baik mari dukung setiap kebijakan dan program-program pemerintah sebagai upaya untuk memajukan roda literasi bangsa, dan jadilah pahlawan literasi, dengan menjaga dan membumikan budaya literasi minimal di lingkungan terdekat yakni keluarga dan masyarakat.

Saya optimis jika setiap keluarga dan masyarakat turut serta dalam upaya peningkatan literasi, secara masif dan konsisten, bukan tidak mungkin kelak roda literasi bangsa akan bergerak maju bahkan melesat jauh sehingga bangsa ini akan lebih produktif, sejahtera, dan selalu siap hadapi tantangan global.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Referensi penunjang : sahabatkeluargakemdikbud.go.id, Koran Pikiran Rakyat edisi 21/10/18, rumahliterasiindonesia.org, theconversation.com



44 Comments

  1. Good idea banget ya mbak caranya, dan bisa terus berkembang dengan kekompakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Miss, seperti halnya roda, yg akan berjalan jika setiap komponen penyusunnya berfungsi dengan baik, roda literasi pun demikian, harus ada peran aktif dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah sebagai komponen penyusunnya.

      Delete
  2. Suka salut deh sama para pegiat literasi. Pengen juga bisa berkiprah langsung di masyarakat sekitar.he sejauh ini baru bisa mulai dalam keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak,gapapa sudah bagus, Saya pun masih terus belajar menjadi role model bagi anak2 soal budaya lierasi ini

      Delete
    2. Iya Mbak tinggal konsisten dulu ya di dalam keluarga semoga suatu saat ke depan bisa menularkan ke luar.

      Delete
  3. Harusnya komunitas semacam hayya bisa ditiru di setiap kota di nusantara agar kecintaan pada dunia literasi terus menyebar seperti pohon yang diilustrasikan, gak hanya pada keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, setuju sekali Mbak, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus saling bersinergi untuk menggerakkan roda literasi ini

      Delete
  4. Analoginya keren. Klo porosnya bagus Tapi ban nya nggak, nggak maksimal juga hasilnya. Budaya literasi benar-benar harus ditanamkan sedini mungkin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimkasih Mbak, Yap.. untuk menggerakkan roda literasi bangsa harus melibatkan banyak pihak, mulai daei keluarga, masyarakat, dan pemerintah

      Delete
  5. Salut banget sama program ini mba. Memang untuk memajukan roda literasi dibutuhkan kerjasama dan sinergi yang OK dari semua pihak ya.. semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap setuju sekali Mbak, sebagai warga negara yg baik kita juga harus mendukung & ikut serta dalam berbagai program pemerintah sbg upaya membumikan literasi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat

      Delete
  6. Harapannya, budaya gemar membaca masyarakat Indonesia semakin meningkat. Dengan begitu, bisa meminimalisir hoax dan sebagainya. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap setuju, sedih banget ya Mbak lihat hoax dimana-mana, jadi PR banget nih terlebih jika hoax tersebut menimbulkan perpecahan bangsa duh sedih banget

      Delete
  7. Mbak..ulasannya bagus bangets, gamblang dan menyoroti semua sisi. Dan sepakat, kita bahwa jika setiap keluarga dan masyarakat turut serta dalam upaya peningkatan literasi, secara masif dan konsisten, bukan tidak mungkin kelak roda literasi bangsa akan bergerak maju bahkan melesat jauh sehingga bangsa ini akan lebih produktif, sejahtera, dan selalu siap hadapi tantangan global.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak, mudah2an bermanfaat tulisannya, dan semoga saja dengan keterlibatan semua pihak mulai dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah maka roda literasi bangsa bisa semakin maju bergerak

      Delete
  8. Idenya keren tuh. Pohon literasi, jadi ada target u membaca buku dilengkapi dengan reviewnya juga.
    Engga perlu harus buku beli sendiri ya...Mungkin dari perpustakaan juga bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, pohon literasi bisa jadi pemacu ya, semakin banyak buku yg dibaca maka semakin lebat daunnya

      Delete
  9. Masyaallah...idenya keren, teori roda yang lengkap dan aplikatif. Semoga artikel ini jadi juara .. Saya sukaaa bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa MasyaAllah.. makasih mbak, mudah2an ya Mbak, kita sama2 ada rezekinya aamiin..

      Delete
  10. Membaca itu memang harus dijadikan seperti penyakit yang menular. Hahaha. Gak bisa nolak, kan. Lha wong sudah tertular. Tapi ya emmang tidak mudah. Harus komit dan konsisten. Harus dibuat menyenangkan dan menyediakan perangkat yang bikin betah. Nah itu juga masih PR banget di Indonesia.

    ReplyDelete
  11. Hehe.. iya bener mbak, kalo yg ditularinnya penyakit gemar membaca aku juga mau banget :)

    ReplyDelete
  12. Menumbuhkan Pohon Literasi
    padahal sudah kutanam dan kusiram tapi belum juga tumbuh n_n, atau sedikit lagi ya.
    Impian sebenarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Kak !, Saya pun sedang mencoba menanam & menumbuhan pohon literasi keluarga

      Delete
  13. Budaya membaca memang menjadi PR orang tua pada buah hatinya. Semoga dengan gencarnya gaung literasi ini, minat membaca anak semakin bertambah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul mbak, untuk menumbuhkan minat baca harusnya dimulai dari keluarga sebagai lingkungan terdekat

      Delete
  14. Memang perlu adanya dukungan keluarga untuk meningkatkan partisipasi literasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap.. betul sekali mbak, terutama orangtua harus jadi role model buat anak

      Delete
  15. Iya nih. Aku juga terharu kalau liat anak2 suka membaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak, jadi PR kita sebagai orangtua ya untuk menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan kepada anak2 kita

      Delete
  16. sebagai seorang Ibu, ini juga menjadi tugas kita ya agar anak-anak bisa cita literasi juga, doyan membaca dan bukan cuma bermain gadget saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap betul sekali Mbak, sedih juga kalau melihat anak2 lebih asyik dengan gadgetnya, jadi PR tersendiri nih buat kita supaya anak2 lebuh tertarik dgn buku

      Delete
  17. Keren gerakan Hayu Maca.. Kalau diterjemahkan bahasa Indonesia, Ayo Baca , kan mbak ?

    Di Sidoarjo juga ada kampung literasi. Tapi saya belum pernah kesana.

    ReplyDelete
  18. Peran keluarga amat penting y agar generasi selanjutnya suka membaca lingkungan keluarga jg hrs akrab dengan dunia literasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, betul sekali Mbak, tugas kita sbg orangtua untuk menciptakan lingkungan rumah yg dekat dan lekat dengan budaya literasi

      Delete
  19. Menanamkan minat baca dan membangun ekosistem literasi yang kuat memang menjadi tantangan terbesar orangtua saat ini. Karena kini anak-anak justru lebih menikmati dan akrab dengan gadget. Alhasil minat baca jadi luntur. Semoga peran aktif orangtua serta kerja keras para penggiat literasi di masyarakat mampu membawa perubahan signifikan bagi dunia literasi Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap betul sekali Mbak, tugas kita jadi bertambah ya, bagaimana menjadikan anak2 kita memiliki minat baca sekaligus mengajarkan mereka untuk memiliki kecakapan dalam berliterasi digital, krn walaubagaimanapun rasanya tak mungkin juga memisahkan mereka dari kemajuan teknologi informasi

      Delete
  20. Ini sebenernya memang nggak mudah ya mbak. Kesadaran membaca memang harus dimulai dari kita dulu sebagai orang tua. Sayangnya, banyak orang tua yang abai masalah melatih minat baca ini. Di sinilah peran roda penggerak di luar keluarga juga penting untuk mengingatkan.
    Terima kasih tulisannya, sngat menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak, iya betul nggak sedikit orangtua yg bercita-cita memiliki anak yg gemar membaca namun seringkali lupa untuk menjadi contoh terdepan,termasuk saya juga nih, harus lebih mengakrabkan diri dengan kegiatan literasi

      Delete
  21. Keluarga memang poros utama ya Mba. Sayangnya tidak semua keluarga memiliki kesadaran akan pentingnya literasi.

    ReplyDelete
  22. Komunitas Hayu Maca ini menginspirasi sekali ya mbak, terutama perannya dalam menumbuhkan budaya literasi dalam masyarakat. Peran keluarga di sini juga tak kalah penting. Memang untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap literasi harus dari dori sendiri dan keluarga dulu seperti yang Mbak paparkan di atas.

    ReplyDelete
  23. Keren banget ini tulisannya..lengkap informasinya 👍🏾

    ReplyDelete
  24. Masya Allah, keren keren di kampung ku juga ada komunitas baca, semoga bisa terinspirasi dari sini, dan saya akan berikan link ini ke ketua komunitasnya

    ReplyDelete
  25. Budaya membaca ini rasanya sulit yaa..
    Entah kenapa kok lebih mudah baca chat di sana sini, dari pada harus baca buku. Apalagi sampai nulisin kembali.

    ReplyDelete
  26. Iya nih,ngenalin baca buku sama paksu aja sulit. Hmmm suka sih dia baca buku,tapi yang teknis pemrograman,hehe. Padahal maunya baca yang cara didik anak gitu,eh bilangnya nunggu ada anak aja,hihi,yo wes sabar.

    ReplyDelete