Menghidupkan Peran Strategis Wakaf Sebagai Pilar Pembangun Peradaban

Ilustrasi wakaf. Foto : maxmanroe.com
"Dana wakaf itu ibarat danau. Jika ada sebuah danau besar yang tidak dikelola dengan baik, maka manfaatnya pun akan terbatas. Namun, jika air danau tersebut dialirkan untuk memutar turbin air, maka akan menghasilkan listrik yang berguna untuk mendukung aktivitas masyarakat." (Nur Syam)
Bak cendawan di musim penghujan, beberapa tahun kebelakang bisnis kuliner di Indonesia kian menjamur. Berbagai restoran, kafe, bahkan rumah makan sederhana dengan konsep modern pun kini banyak menghiasi hampir di setiap sudut kota.

Mungkin banyak dari kita yang sudah tidak asing dengan salah satu rumah makan yang menyajikan makanan khas sunda bernama Warung Nasi Ampera. Restoran yang memiliki 80 cabang di seluruh Indonesia tersebut ternyata merupakan rumah makan pertama di Indonesia yang dijadikan sebagai "aset wakaf".

Adalah Wakafpro Sinergi Foundation yang menginisiasi lahirnya paradigma baru soal wakaf melalui bisnis kuliner tersebut. Sebagai salahsatu lembaga yang mengusung konsep wakaf produktif, Wakafpro Sinergi Foundation mengajak owner Warung Nasi Ampera untuk berkolaborasi menjadikan bisnis kuliner sebagai sebuah aset wakaf yang terus bergrak dan produktif.
 


Direktur Wakafpro Sinergi Foundation, Asep Irawan menyebutkan, sejak lahirnya kolaborasi tersebut, yakni di tahun 2016, pencapaian yang diraih terbilang sangat positif, Warung Nasi Ampera yang berlokasi di Jalan Dr. Djunjunan Bandung setiap harinya mendapat omzet 20 juta rupiah, jika dikalikan setiap bulan, maka nominalnya mencapai 500-600 juta rupiah.

Keuntungan yang diperoleh dari hasil wakaf produktif tersebut, nantinya akan disalurkan kepada mauquf alaih, melalui program-program sosial yang bisa dinikmati oleh umat muslim terutama para fakir miskin. Beberapa program tersebut diantaranya, layanan kesehatan ibu secara gratis di Rumah Sakit Bersalin Cuma-cuma (RBC), Taman Wakaf Firdaus Memorial Park, hingga program pendidikan gratis di Kuttab Al-Fatih milik Ustaz Budi Ashari, Lc.

Ya, inovasi wakaf yang diciptakan oleh Wakafpro Sinergi Foundation tersebut kembali menyadarkan kita tentang makna wakaf yang sesungguhnya. Karena selama ini yang umum dipahami masyarakat soal wakaf  hanyalah sebatas wakaf tanah, masjid, dan pemakaman saja, padahal secara fikih, wakaf itu sejatinya harus berkembang, maka seharusnya kita lebih menekankan pada konsep wakaf produktif, bukan hanya konsumtif semata.

Banyak diantara kita yang tidak tahu bahwa ternyata wakaf memiliki potensi dan peran yang strategis bagi kemajuan suatu bangsa. Ya, dengan pengelolaan yang baik, wakaf akan mampu menjadi mesin penggerak yang berguna bagi hampir semua aspek kehidupan serta  bisa dijangkau oleh masyarakat secara luas.

Jejak Abadi Sejak Zaman Nabi


Hotel dan kebun, wakaf produktif yang bersumber dari sumur raumah yang dibeli Utsman bin Affan
Ada perbedaan pendapat mengenai sejarah awal mula wakaf dalam islam, namun menurut Mundzir Qahaf, wakaf pertama kali dilakukan bersamaan dengan dimulainya masa kenabian Muhammad dengan dibangunnya Masjid Quba di Madinah yakni pada masa hijrah Rasulullah dan para sahabat. Setelah beberapa waktu berselang, dibangun pula Masjid Nabawi yang dibangun diatas tanah yang dibeli Rasulullah seharga 800 dirham.

Syariat wakaf tersebut kemudian diikuti oleh para sahabat yang juga mewakafkan hartanya untuk kepentingan umat, salahsatunya Umar, yang mewakafkan sebidang tanah miliknya di Khaibar. Sebidang tanah tersebut kemudian diolah sedemikian rupa lewat perantara nazhir yang kemudian hasil atau keuntungannya diberikan kepada fakir miskin, hamba sahaya, ibnu sabil serta diberikan pula bagian untuk sang nazhir.

Ya, memang ada banyak sahabat yang ikut serta menuai maslahat lewat proyek wakaf yang disyariatkan Rasulullah tersebut, namun dari semua itu, ada sebuah kisah menarik yang bisa kita renungkan, yakni tentang sebuah sumur di Madinah yang berusia lebih dari 1400 tahun. Hebatnya, manfaat dan keberkahannya masih bisa dinikmati umat islam hingga hari ini.

Sumur tersebut adalah milik Utsman bin Affan. Kala itu di Madinah sedang dilanda kekeringan panjang dan satu-satunya sumur yang masih bisa digunakan untuk menampung air bersih adalah Sumur Raumah milik seorang Yahudi. Hingga akhirnya, Utsman berinisiatif untuk membeli sumur tersebut agar bisa digunakan secara gratis oleh umat islam di Madinah.

Sumur tersebut kemudian berkembang menjadi mata air yang mengaliri lahan-lahan di sekitarnya, yang kemudian digunakan untuk proyek perkebunan kurma. Kebun tersebut terus dikelola dari generasi ke generasi, sejak zaman khalifah hingga masa pemerintahan Arab Saudi.

Hasil dari penjualan kurma tersebut, setengahnya disedekahkan kepada fakir miskin dan setengahnya lagi disimpan di rekening bank atas nama Utsman bin Affan. Dan hasilnya menakjubkan, kini wakaf yang berasal dari sumur tersebut semakin berkembang pesat, salahsatunya menjadi sebuah hotel mewah bertaraf internasional. Dengan keuntungan besar yang diperoleh dari hotel tersebut tentu saja mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat Arab secara lebih luas dan berkepanjangan.
 

Wakaf Produktif Sebagai Pilar Pembangun Peradaban


Dari kisah inspiratif Warung Nasi Ampera dan wakaf Sumur Utsman tersebut, kita bisa memetik hikmah tentang makna dan fungsi wakaf yang sesungguhnya. Ternyata selain memiliki fungsi ibadah, wakaf juga memiliki fungsi sosial yakni berperan dalam meningkatkan perekonomian bangsa yang tentu saja berdampak pada pemerataan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia menyentuh angka 25,14 juta jiwa atau sekitar 9,82% dari total jumlah penduduk. Hal tersebut tentu menjadi PR tak hanya bagi pemerintah, namun juga menjadi sebuah tanggung jawab sosial bagi kita selaku umat muslim.

Potret kemiskinan di Indonesia. Foto : gelorabangsa.com

Islam adalah Rahmatan Lil Alamin atau rahmat bagi semesta, dimana didalamnya terdapat hukum, syariat, dan aturan-aturan yang Allah ciptakan yang tentu saja akan akan membawa banyak kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. 

Wakaf sebagai salahsatu syariat yang Allah ciptakan, mengandung kebaikan dan hikmah tersendiri, tak hanya bagi yang melaksanakannya, namun ternyata manfaatnya bisa dirasakan secara luas. ya, wakaf adalah sebuah amal yang "abadi", maka manfaatnya pun harus "abadi".

Berikut, Saya akan memberikan infografis gambaran tentang beberapa negara yang berhasil memanfaatkan potensi wakaf untuk membangun perekonomian bangsa karena dikelola dengan sangat baik.


Ya, ternyata wakaf berperan penting dalam memajukan berbagai aspek kehidupan manusia, dalam hal sosial, tentu saja wakaf bisa mengurangi kesenjangan sosial serta mempermudah pemerataan kesejahteraan masyarakat, misalnya pemanfaatan tanah wakaf untuk membangun produktivitas masyarakat di pedesaan/daerah terpencil dengan membangun sentra industri yang sesuai dengan potensi wilayah tersebut.

Di bidang pendidikan, wakaf berperan dalam peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa karena mampu menghasilkan SDM yang berkualitas dan mampu memberi manfaat bagi kemajuan bangsa, misalnya pemanfaatan tanah wakaf untuk sekolah gratis bagi siswa yang kurang mampu.

Sedangkan dalam bidang kesehatan, wakaf memberi andil dalam hal menanggulangi masalah kesehatan masyarakat yang berporos pada 3 hal, yakni di tahap preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Contohnya, pemanfaatan tanah wakaf untuk membangun klinik dan apotek baik untuk para dhuafa, atau bisa juga membangun klinik yang dikelola secara komersil kemudian keuntungan dari klinik tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan sosial.

Dalam hal ekonomi, wakaf yang dikelola dengan produktif dan terorganisir juga berdampak pada bertambahnya kekuatan ekonomi negara. Contohnya yakni pemanfaatan tanah wakaf untuk bisnis properti atau bisnis retail yang kemudian hasil atau keuntungannya digunakan untuk program-program yang mampu menunjang kesejahteraan masyarakat.

Lalu, Bagaimana dengan Kondisi Wakaf di Indonesia?

 

Infografis potensi wakaf di Indonesia, sumber : Instagram @literasizakatwakaf

Berdasarkan data dari BWI (Badan Wakaf Indonesia), melihat dari jumlah umat muslim di negeri ini yang mencapai 87%, maka potensi wakaf di Indonesia per tahunnya bisa mencapai kurang lebih 200 triliun, namun ternyata, realisasinya baru menyentuh angka 400 miliar pada tahun 2018 lalu.

Indonesia sendiri sebetulnya sudah memiliki regulasi yang memadai sebagai dasar pengelolaan wakaf yang sejalan dengan syariat islam, diantaranya UU nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf dan PP nomor 42 tahun 2006 tentang pelaksanaan UU nomor 41 tahun 2004.

Melansir dari republika.co.id, Sekjen Kemenag, Nur Syam dalam acara pembukaan rapat kerja BWI menyebutkan, sedikitnya ada 7 tantangan perwakafan di Indonesia yang harus menjadi catatan penting dan perhatian bagi kita semua, diantaranya :

1. Belum terorganisirnya data validasi data aset wakaf, termasuk wakaf uang atau wakaf tunai.
2. Belum optimalnya jejaring pemberdayaan dan pengembangan wakaf uang.
3. Masalah sertifikasi tanah wakaf.
4. Perihal sengketa tanah wakaf yang memerlukan mediasi dan advokasi serta ruislag (tukar guling) tanah yang bermasalah.
5. Belum maksimalnya wakaf produktif.
6. Masalah kompetensi dan profesionalisme nazhir.
7. Banyak masyarakat yang belum paham tentang UU nomor 41 tahun 2004 soal wakaf dan jenis-jenis wakaf.

Maka, untuk membantu pemerintah mengelola dan memanfaatkan potensi besar wakaf , dibentuklah Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai amanat UU Nomor 41 tahun 2004, yang memiliki tugas sebagai berikut :

1. Tugas yang berkaitan dengan nazhir (disamping tugas BWI yang memang berfungsi sebagai nazhir), meliputi pengangkatan, pemberhentian, dan pembinaan nazhir.
2. Tugas yang berkaitan dengan Objek wakaf yang berskala nasional dan internasional, serta pemberian persetujuan atas penukaran harta benda wakaf.
3. Tugas yang berkaitan dengan pemerintah, yakni memberi saran dan pertimbangan kepada pemerintah terkait penyusunan kebijakan di bidang perwakafan.


Memahami Wakaf Secara Menyeluruh


"Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah 3 amalannya (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh." (HR.Muslim nomor 1631)

Seperti yang disebutkan tadi, ternyata banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang memadai soal wakaf.  Kebanyak orang Indonesia memahami wakaf hanya sebatas wakaf benda tidak bergerak seperti tanah, masjid, dan pemakaman, sehingga pengelolaanya cenderung mengarah kepada hal-hal konsumtif saja.

Sedangkan, untuk menciptakan kemaslahatan yang lebih luas, maka sistem perwakafan di negeri ini seharusnya lebih ditekankan kepada pengembangan ke arah yang lebih produktif dan "abadi".
Secara etimologi, wakaf berasal dari kata "waqf" yang berarti "al-habs" atau menahan. Sedangkan secara istilah, wakaf berarti penahanan hak milik atas materi benda untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya.




BWI (Badan Wakaf Indonesia) sebagai lembaga yang bertugas mengelola dan mengembangkan wakaf di Indonesia, memiliki peran penting untuk terus meluaskan pemahaman masyarakat soal wakaf ini, sehingga nantinya pemahaman dan pengaplikasian wakaf produktif akan semakin meningkat. Ada banyak upaya yang di lakukan BWI, salahsatunya dengan menggalakkan program literasi zakat wakaf, beberapa agenda yang telah dilakukan diantaranya mengadakan seminar wakaf di kampus-kampus, sosialisasi kepada masyarakat melalui media sosial dan website bimasislam.kemenag.go.id dan literasizakatwakaf.com, mengadakan pelatihan nazhir, serta mengadakan perlombaan kampanye zakat wakaf bagi para pegiat konten.

Optimalisasi Wakaf Produktif Melalui Peran Nazhir

Nazhir sebagai pihak yang dipercaya wakif (pemberi wakaf) untuk mengelola wakaf  memiliki andil yang sangat penting agar wakaf tersebut nantinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya yakni mampu memberikan kemaslahatan secara luas dengan jangka waktu yang panjang.

Namun, ternyata fakta di lapangan tidak semudah itu, berdasarkan data BWI (Badan Wakaf Indonesia) tahun 2017, tercatat baru 62% tanah wakaf yang memiliki sertifikat. Padahal jika dihitung, luas tanah wakaf di Indonesia mencapai sekitar 420.000 hektar.

Dalam UU Wakaf Nomor 41 tahun 2004, disebutkan bahwa "Nazhir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai tujuan, fungsi, dan peruntukannya. Nazhir sendiri bisa dalam bentuk perorangan, kelompok, maupun lembaga.


Agar nazhir mampu berperan optimal dalam mengelola dan mengembangkan harta wakaf , maka diperlukan kompetensi atau kemampuan khusus yang bisa kita kategorikan menjadi 3 macam, yakni kemampuan moral, kemampuan manajerial, serta kemampuan bisnis.

1. Kemampuan Moral 
Sebagai pihak yang diamanahi harta wakaf, nazhir harus memiliki pandangan dan sikap moral yang baik, karena harta yang diamanahinya menyangkut kepentingan umat manusia. Maka, kemampuan moral yang wajib dimiliki nazhir diantaranya :
  • Memahami hukum wakaf baik dalam tinjauan agama maupun hukum perundang-undangan.
  • Memiliki kecerdasan, baik secara spiritual maupun emosional
  • Nazhir wajib memiliki sifat jujur dan amanah
2. Kemampuan Manajerial
 Harta wakaf yang diamanahi sebisa mungkin harus memberikan maslahat bagi banyak orang, maka agar aset wakaf berkembang, seorang nazhir harus memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni, diantaranya :
  • Visioner
  • Memiliki kapasitas dan kapabilitas yang baik dalam hal leadership atau kepemimpinan
  • Profesional dalam mengelola dan mengembangkan harta
  • Memiliki kecerdasan intelektual, sosial, dan pemberdayaan sehingga ia mampu membuat program-program yang strategis 
3. Kemampuan Bisnis
Untuk menciptakan aset wakaf yang produktif dan terus berkembang, maka nazhir dituntut untuk memiliki kompetensi dalam hal bisnis atau enterpreneurship, diantaranya :
  • Memiliki jiwa dan naluri bisnis
  • Mampu melihat dan memanfaatkan peluang
  • Kreatif, inovatif dan mampu mengikuti perkembangan zaman
Jika dilihat dari cara nazhir mengelola dan mengembangkan aset wakaf, maka, secara umum di Indonesia terdapat 3 tipe nazhir, diantaranya :

1. Nazhir yang Mengelola Harta Wakaf Secara Tradisional
Dalam hal ini, nazhir baru mengelola harta wakaf secara tradisional yakni hanya mengalokasikannya sebagai ajaran murni atau hanya untuk kategori ibadah saja.

2. Nazhir yang Mengelola Harta Wakaf Secara Semi-Profesional
Maksudnya, nazhir masih mengelola hartanya secara tradisional, namun mulai memahami untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf secara lebih produktif.

3. Nazhir yang Mengelola Harta Wakaf Secara Profesional
Nazhir sudah mampu mengelola harta wakaf untuk kepentingan yang lebih produktif karena telah dikelola secara profesional dan mandiri.

Badan Wakaf Indonesia selaku lembaga independen yang dibentuk berdasarkan amanat UU Nomor 41 Tahun 2004, memiliki tanggung jawab untuk menciptakan nazhir-nazhir yang profesional agar harta wakaf yang dikelola mampu membawa manfaat bagi kesejahteraan bangsa. Beberapa agenda yang bisa dilakukan diantaranya dengan melakukan workshop atau pelatihan khusus bagi para nazhir, membuat buku-buku wakaf, bahkan bisa dengan membuat sertifikasi nazhir, intinya bagaimana agar para nazhir memiliki persepsi yang sama soal wakaf produktif yang ditunjang dengan kemampuan yang mumpuni dalam mengelola harta wakaf.

 

Kemudahan Berwakaf di Era Digital

Seperti yang kita ketahui, saat ini banyak sekali bermunculan lembaga-lembaga filantropi di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beramal dan menolong sesama.

 Berdasarkan data CAF (Charities Aid Foundation)World Giving Index, pada tahun 2018 Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara paling dermawan di dunia.

Ada rasa bangga, haru, serta optimis kelak masyarakat di negara ini mampu menjadikan kegiatan ZISWAF sebagai sebuah kebutuhan bahkan gaya hidup. Terlebih dengan menjamurnya lembaga filantropis serta dukungan aktif pemerintah, maka di era digital yang serba mudah ini, kegiatan beramal seharusnya menjadi sebuah agenda rutin.

Dalam hal wakaf misalnya, di era globalisasi ini, bentuk pengelolaan wakaf sudah memasuki "tahap baru" sehingga tampak lebih dinamis dan profesional, yang ditandai dengan hal-hal berikut :

1. Menjamurnya institusi wakaf di banyak negara dan mampu tampil sebagai lembaga independen dan mandiri.
2. Orientasi pengelolaan wakaf mulai mengarah pada aspek ekonomi dan kesejahteraan namun tetap berada dalam koridor syariat, misalnya dengan semakin digalakkannya wakaf tunai atau wakaf uang, karena manfaat yang dirasa jauh lebih signifikan.
3. Badan wakaf kini juga dikelola oleh sejumlah tenaga profesional lintas keahlian, mulai dari ahli agama, ahli ekonomi, ahli hukum, ahli sosial, dan lain sebagainya.
4. Banyaknya kerjasama dengan lembaga-lembaga strategis seperti perbankan syariah, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), serta lembaga-lembaga ekonomi lainnya.

Lalu, bagaimana dengan kita ?. Berbagai kemudahan yang ditawarkan di era digital ini seharusnya mampu menggerakkan kita untuk lebih terbiasa dalam beramal, salahsatunya dengan berwakaf.

Seperti yang dipaparkan diatas, saat ini pemerintah dan lembaga filantropi sedang gencar-gencarnya mengupayakan harta wakaf agar mampu dikembangkan secara produktif, salahsatunya dengan menggaungkan program wakaf uang atau wakaf tunai.

Wakaf uang dinilai memiliki potensi dan mobilisasi yang lebih luas dibandingkan dengan wakaf benda tidak bergerak. Banyak masyarakat yang sudah merasakan manfaat dari wakaf produktif melalui wakaf uang ini karena program-programnya mampu menjangkau hingga ke pelosok negeri.

Untuk melakukan wakaf tunai, tidaklah rumit, karena kita bisa menyelaraskan rukun dan tata cara wakaf yang sesuai syariat dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi. Tak perlu menunggu kaya, dengan nominal berapapun kita bisa mulai berwakaf karena banyak sekali lembaga-lembaga yang akan siap menampung dan mendonasikan wakaf kita kepada melalui program-program yang bermanfaat untuk menunjang kesejahteraan umat.

Terlebih saat ini banyak sekali platform digital wakaf yang akan memudahkan masyarakat untuk berwakaf dengan mudah dan praktis, salahsatunya Bank Mandiri Syariah yang meluncurkan wakaf digital bernama jadiberkah.id. Tak hanya itu, kita juga bisa berwakaf secara online melalui lembaga-lembaga filantropi yang tentu saja dana yang kita wakafkan akan dikeloal secara akuntabel dan tepat sasaran.
BWI sebagai lembaga perwakafan di Indonesia juga telah bekerjasama dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) untuk memudahkan dalam hal penyetoran uang wakaf, prosedurnya pun tidaklah rumit. Supaya lebih jelas, akan Saya gambarkan melalui infografis berikut ini.





Wakaf Produktif : Membangun Negeri, Menghidupkan Makna Islam Rahmatan Lil Alamin


Islam hadir menjadi rahmat bagi semesta. Foto: unsplash.com

Allah menurunkan islam ke dunia sebagai rahmat. Semua syariat, hukum, dan ajaran-ajaran yang Allah ciptakan semata-mata adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umatnya baik di dunia maupun di akhirat.

Di negeri yang mayoritas penduduknya beragama islam, pengaplikasian syariat-syariat islam yang bisa menunjang kesejahteraan umat seharusnya bisa lebih diprioritaskan, salahsatunya tentang syariat berwakaf ini. Karena ternyata wakaf tidak hanya memiliki dimensi "vertikal saja", namun secara "horizontal" pun ia mampu berperan strategis terhadap kemaslahatan secara luas.

Begitu banyak jejak sejarah yang menunjukkan bukti betapa penting dan strategisnya peran wakaf bagi keberlangsungan dan kemajuan suatu negara. Maka, sudah seharusnya kita memiliki kesadaran bahwa "tugas" itu bukan hanya dibebankan pada pemerintah dan lembaga filantropi saja. Kita sebagai umat muslim sudah seyogyanya memiliki kepedulian dan rasa empati yang diwujudkan dengan menjadikan zakat dan wakaf sebagai sebuah kebutuhan dan gaya hidup.

Ya, berbagai tantangan-tantangan terkait wakaf yang sudah dibahas diatas mari kita jadikan sebuah PR bersama. Maka, mulai saat ini, siapkan diri untuk terlibat dalam "proyek besar" ini sehingga secara tidak langsung kita sudah mendedikasikan diri sebagai "agen Rahmatan Lil Alamin". Ya, mari menebar rahmat dan kasih sayang kepada sesama, libatkan diri dalam ketundukan dan ketaatan pada perintah-Nya, salahsatunya dengan syariat ber-wakaf ini.

Dengan berwakaf, kita akan mendapatkan dua kebaikan sekaligus, pahala jariyah yang tidak terputus serta bentuk ikhtiar terbaik dengan menjadi nyala bagi semesta, memberi andil bagi kemajuan bangsa.


Catatan : infografis yang ditampilkan adalah hasil karya pribadi penulis dan ada pula yang diambil dari instagram @literasizakatwakaf.

Referensi penunjang : www.republika.co.id, www.laduni.id, www.bimasislam.kemenag.go.id, instagram @literasizakatwakaf, www.bwikotamalang.com

44 Comments

  1. Baru tau kalau di SF ada program wakaf bisnis kuliner, yg kutau wakaf pertanian, makam, dll

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Ya Mbak programnya baru mulai sekitar 3 tahun yg lalu, berkolaborasi dengan rumah makan Ampera yang di jalan Pasteur/Dr.Djunjunan Bandung

      Delete
  2. Mbak, artikel ini informatif sekali. Ulasannya yang lengkap membuat saya paham jejak sejarah yang menunjukkan bukti betapa penting dan strategisnya peran wakaf bagi keberlangsungan dan kemajuan suatu negara. Semoga makin meningkat kepedulian dan rasa empati masyarakat sehingga menjadikan zakat dan wakaf sebagai sebuah kebutuhan dan gaya hidup di era ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, ternyata wakaf memiliki peran yg strategis untuk kemajuan negara, maka semoga semakin banyak orang yg peduli dan mulai menjadikan zakat & wakaf sbg kebiasaan & gaya hidup.

      Delete
  3. Di sini Depot Ampera itu, masakan padanh sih mbak, hehe.
    Btw jadi tahu detail wakaf yang nggk hanya pada tanah saja. Berarti saat kita membuat sebuah sekolah gratis pun, bisa jadi wakaf kita ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, apalagi saat ini pemerintah sedang gencar2nya menggalakkan soal wakaf tunai/wakaf uang krn manfaatnya lebih banyak dan luas. Bisa Mbak, banyak kok sekarang sekolah2 gratis untuk kaum dhuafa yg dananya berasal dari wakaf

      Delete
  4. Jadi tau detail soal wakaf nih, makasii ya mbak

    ReplyDelete
  5. Artikelnya lengkap dan sangat informatip. Terima kasih sudah menulis tentang wakaf dan saya banyak menemukan ilmu baru.

    ReplyDelete
  6. Dan wakaf tidak melulu tentang sebidang tanah untuk masjid, sekolah dan makam ya.

    Informasinya lengkap sekali, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali Mbak, jenis wakaf bermacam-macam seperti yg Saya gambarkan melalui infografis diatas

      Delete
  7. Wakaf kalau dihitung uang, wow...trilyunan. Tetapi wakaf banyak jenisnya ya ternyata. Kita bisa bergerak di mana saja sih sesuai kemampuan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Bund, terlebih di Indonesia yg mayoritas penduduknya beragama islam, maka seharusnya wakaf memiliki potensi yg luar biasa jika banyak umat islam yg terlibat dan yg pasti harta wakaf tersebut harus dikelola secara produktif & profesional

      Delete
  8. Saya pernah baca juga tentang wakaf sumur Utsman tersebut. Masya Allah, jika pahalanya dihitung, alangkah melimpahnya pahala itu untuk beliau Radhiyallahu Anhu. Jejak yg sangat patut kita tiru dan sebaiknya wakaf memang diatur secara profesional.
    Lengkap sekali infonya, Mbak. Jadi lebih tahu tentang wakaf nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak, iya betul MasyaAllah luar biasa pahala wakaf ini, meski sang wakif sudah tiada namun manfaat dan keberkahan dari harta wakaf tersebut masih dirasakan hingga saat ini

      Delete
  9. Banyak sekali yang tertolong dari wakaf yang terkumpul. Semoga semakin banyak orang yang berwakaf dan setiap programnya bisa dirasakan oleh banyak orang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap betul sekali Mbak, wakaf seharusnya dikeloa secara produktif & profesional agar manfaai mampu menjangkau masyarakat luas

      Delete
  10. Terima kasih penjelasan detailnya mbak Meilawati. Selama ini pemahaman saya wakaf untuk pembangunan masjid atau sekolah/ponpes saja. Tidak terpikir untuk dikelola menjadi sarana umum semacam rumah sakit, bidang usaha, dll. Selama ini kalau wakaf hanya tertuju pada pembangunan masjid dan sekolah.
    Makasih informasinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Bund, iya betul wakaf itu banyak jenisnya, saat ini pun banyak lembaga2 filantropi yg sudah mulai mengelola wakaf secara produktif & profesional sehingga hasilnya lebih banyak menjangkau masyarakat luas

      Delete
  11. Wah..jadi lbh paham tenyang wakaf. Makadih informasinya mbak :)

    ReplyDelete
  12. Masyallah, aku baru tau kalau warung nasi ampera itu aset wakaf. Semoga barokah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, betul sekali Mbak, salahsatu cabang yg menjadi aset wakaf, ampera yg ada di jl Pasteur, Bandung

      Delete
  13. Saya suka makan di Ampera. Tapi baru tahu soal wakaf ini. Wah, terima kasih informasinya Mba. Sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak, Ampera juga jadi salah satu tempat makan favorit keluarga kami hehe

      Delete
  14. MasyaAllah baru tahu betapa besar manfaatnya wakaf. Sungguh ingin menjadi bagian orang yg ikut dalam proyek besar ini. Bismillah, semoga Allah mudahkan bagi kami dan keluarga untuk ikut proyek itu, aamiin...Ya Robbalamiin

    ReplyDelete
  15. Jadi tau nih. Detail banget penjelasan tentang wakaf. Makasiy mb

    ReplyDelete
  16. Aku baru tau wakaf produktif sebelumnya wakaf tanah atau masjid, terima kasih banyak mba

    ReplyDelete
  17. Aku baru tahu, loh, kalau warung Ampera ini adalah aset wakaf. Dana wakaf ini memang kayaknya lagi gencar-gencarnya disosialisasikan sama pemerintah, ya, Mbak. Makasih banyak, nih, penjelasan menariknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, betul sekali Mbak, karena wakaf uang dinilai memiliki potensi & mobilisasi yg lebih bagus dibandingkan wakag benda tidak bergerak

      Delete
  18. jadi dengan wakaf, jg bs bantu ibu2 yg bersalin sehingga biaya persalinan jadi gratis? waaah...saya baru tahu. manfaatnya besar sekali ya. apalagi wakaf produktif bisa nambah lapangan pekerjaan juga.

    ReplyDelete
  19. MasyaAllah ya mbak, ternyata dana wakaf mamfaatnya luar biasa. Nggak hanya untuk masjid atau makam yang selama ini kita ketahui. Jadi dampaknya juga lebih bersifat produktif. Seandainya kita semua bisa paham dan sadar, pasti Indonesia bisa jadi negara kuat dengan potensi dana wakaf ini.

    ReplyDelete
  20. Terima kasih untuk ulasannya yang sangat jelas, Mbak. Benar-benar membuka wawasan saya lebih luas tentang wakaf. Barakallah

    ReplyDelete
  21. subhanallah, luar biasa ya mbak... terkadang orang malah khawatir belum cukup dana buat diinfaq atau wakafkan.

    ReplyDelete
  22. Wakaf sudah semakin disosialisasikan, semoga upaya pengelolaan yang baik dan banyaknya yang berwakaf semakin membangkitkan perekonomian bangsa

    ReplyDelete
  23. Betul, Mbak.. Wakaf ini merupakan syariat agama Islam yang begitu besar manfaatnya bagi umat dan masyarakat.. Apalagi di zaman seperti sekarang, berwakaf menjadi begitu mudah dilakukan yaa..

    ReplyDelete
  24. Wakaf produktif ini ya yang mungkin belum banyak dipahami orang. Tahunya kalau wakaf tu buat masjid atau buat pesantren gitu. Padahal bisa ya, buat usaha seperti sekolah atau rumah sakit tergantung akadnya. Mksh mbak untukvl pencerahannya...

    ReplyDelete
  25. Penjelasannya tentang wakaf lengkap banget nih Mbak. Jadi paham kalau makna wakaf itu sebenarnya luas ya. Bukan cuma seputar tanah, pemakaman dan madrasah saja. Lebih dari itu wakaf seharusnya bisa berkembang ya sehingga menjadi wakaf produktif.

    ReplyDelete
  26. Masyaa Allah.. detail sekali penjelasannya. Semoga nantinya wakaf di Indonesia betul-betul bisa menjadi wakaf produktif yaa..

    ReplyDelete