Tentang Cagar Budaya Indonesia dan Sejuta Asa di Kota Tentara







Ini adalah tahun kelima Saya tinggal  di kota ini. Sebuah kota kecil di Jawa Barat yang bersebelahan dengan Kota Kembang Bandung. Banyak yang menyebut kota ini sebagai kota tentara, bagaimana tidak, sejak zaman kolonial, 60% wilayahnya digunakan untuk kegiatan kemiliteran, terbukti dengan banyaknya pusat pendidikan militer yang terdapat di kota ini.

Pertama kali diajak berkeliling kota ini, mata saya seolah enggan berkedip melihat banyaknya bangunan bersejarah yang menghiasi hampir setiap sudutnya. Saya seperti sedang menaiki mesin waktu dan menghirup aroma suasana hiruk pikuk di masa lalu.

Semakin larut menyusuri setiap sudutnya, Saya jadi paham bahwa Cimahi pernah menjadi bagian penting dari sejarah bangsa ini. Maka, bangunan-bangunan tersebut haruslah dirawat dan dilestarikan untuk memberi pesan dan nilai penting tentang berdirinya sebuah peradaban.

 

Mereka yang Menjadi Saksi Bertumbuhnya Kota Ini


Suasana Cimahi tempo dulu yang digunakan sebagai garnisun/pusat militer Belanda. Foto : Blog Komunitas Tjimahi Heritage

Nama Cimahi sendiri berasal dari kata "cai"dan "mahi" yang berarti air yang cukup atau melimpah. Berdasarkan catatan sejarah, Kota Cimahi mulai dikenal pada tahun 1811, yakni saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membuat proyek jalan 1000 km Anyer-Panarukan, dan Cimahi menjadi bagian dari proyek jalan tersebut, terbukti dengan adanya pos penjagaan di sekitar alun-alun Cimahi yang masih kokoh berdiri hingga saat ini.

Loji (Pos Penjagaan) Cimahi yang kini beralih fungsi menjadi toko buku.Foto : situsbudaya.id

 

Kemudian pada tahun 1874-1893 pemerintah Belanda membuat jalur kereta api Cianjur-Bandung sehingga mereka pun mendirikan Stasiun Cimahi. Sebagai wilayah garnisun pada masa kolonial, jalur kereta api salahsatunya digunakan untuk mengangkut logistik militer dari Batavia menuju Cimahi.
Hingga saat ini, bangunan aslinya tetap dipertahankan, terbukti dengan ciri khas arsitektur Stasiun Cimahi yang bergaya art deco khas zaman kolonial.

Stasiun Cimahi dengan gaya arsitekstur Art Deco yang masih dipertahankan. Foto : rmoljabar.com

Bersamaan dengan itu, di tahun 1886, dibuat juga pusat pendidikan militer beserta fasilitas penunjang lainnya seperti Militaire Hospital (Rumah Sakit Dustira) yang merupakan 1 dari 5 rumah sakit tertua di Indonesia juga Penjara/Rumah Tahanan Militer Poncol. Rumah Tahanan Militer Poncol merupakan bagian dari markas militer yang berfungsi sebagai tahanan bagi tawanan musuh serta prajurit militer yang bermasalah dalam hal kedisiplinan.
Potret Rumah Sakit Dustira yang dulunya bernama Militaire Hospital merupakan 1 dari 5 rumah sakit tertua di Indonesia. Foto : dokumentasi pribadi

Penjara Militer Poncol yang didirikan pada tahun 1886. Foto : picdeer.org

Sebetulnya ada banyak sekali bangunan dan fasilitas publik lainnya yang hingga kini masih kokoh berdiri, salahsatunya The Historich Cimahi yang dulunya pernah dijadikan sebagai social club atau tempat pesta bagi kaum penjajah. Sejak berakhirnya era kolonialisme, bangunan ini sering berganti fungsi dan nama, salahsatunya pernah dijadikan gedung DPRD Cimahi di tahun 2001-2005. Kemudian pada tahun 2012, gedung ini disewa oleh seorang pengusaha untuk dijadikan tempat pameran dan gedung pernikahan hingga saat ini.

The Historich, tempat social club/pesta kaum penjajah di era kolonial. Foto : dokumentasi pribadi

 

Membangun Asa dari Puing-puing yang Tersisa



Beberapa waktu yang lalu Saya membaca headline di sebuah portal berita online mengenai pembongkaran rumah peninggalan zaman kolonial karena ahli warisnya telah menjual rumah tersebut kepada sebuah Bank, padahal rumah yang berlokasi di Jalan Jend.Amir Machmud itu memiliki nilai sejarah penting, salahsatunya pernah dijadikan markas polisi istimewa pada zaman kemerdekaan serta pernah juga menjadi markas tentara jepang pada tahun 1946.


Tak hanya itu, Saya juga sempat mengunjungi sebuah bangunan bersejarah yang pada masa kolonial dijadikan sebagai pusat penjagalan hewan dan dikenal dengan nama Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Abattoir. Namun kini kondisinya begitu memperihatinkan, bangunannya hampir roboh serta temboknya banyak yang sudah terkelupas. Berdasarkan hasil wawancara Saya dengan Pak Harun, warga yang tinggal di sekitar RPH, menurutnya tempat ini sudah lama tidak terawat, terakhir digunakan sebagai tempat jagal hewan yakni sekitar tahun 90-an.

Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Abattoir tampak depan, kini kondisinya begitu memprihatinkan. Foto : dokumentasi pribadi

Rumah Pemotongan Hewan Abattoir tampak belakang. Foto : dokumentasi pribadi
Sebetulnya banyak yang menyarankan agar bangunan ini dialihfungsikan menjadi tempat wisata modern yang bernilai sejarah, karena jika digunakan untuk tempat jagal hewan seperti sediakala rasanya tidak memungkinkan.

Tak jauh dari lokasi RPH, sekitar 100 meter jaraknya, terpasang sebuah spanduk  yang menempel di salahsatu tembok depan dan samping yang menutupi area bekas Kolam Renang Berglust (Dalam website cagar budaya Kemendikbud disebut Berkleus), salahsatu situs bersejarah yang dulunya pernah menjadi primadona wisata pada zaman kolonial.

Spanduk tersebut ada dua, yang intinya berisi dukungan masyarakat sekitar agar Pemerintah Kota Cimahi menghidupkan kembali kolam renang/hotel Berkleus (Orang-orang banyak menyebutnya sebagai Hotel Berkleus/Berglust karena pada era kolonial terdapat sebuah hotel di sekitar kolam renang tersebut).

Warga sekitar Kolam Renang Berkleus membuat posko khusus demi mendukung Pemkot Cimahi untuk menghidupkan kembali situs bersejarah tersebut. Foto : dokumentasi pribadi
Karena penasaran, akhirnya Saya pun nekat masuk untuk mengetahui bagaimana kondisinya saat ini. Seperti yang saya duga, kondisinya juga tak kalah memperihatinkan bahkan sudah sangat tidak terawat karena banyak semak belukar di sana-sini. Padahal sebetulnya area wisata yang didirikan tahun 1885 ini memiliki lahan yang cukup luas yakni 2000 meter serta ada banyak area kolam renang dan bangunan/ornamen-ornamen penujang lain yang membuat Saya yakin bahwa dulunya area ini merupakan tempat wisata yang mewah dan tersohor.

Dulunya di tempat ini terdapat hotel yang pada awal didirikannya bernama Hotel Emma, kemudian tak berapa lama sang pemilik menjualnya kepada oranglain dan akhirnya namanya pun diubah menjadi Hotel Berglust. Tak hanya itu, disini juga terdapat wahana wisata lainnya seperti area bermain anak dan kebun binatang mini.

Kondisi kolam yang rusak dan tidak terawat. Foto : dokumentasi pribadi

Puing-puing sisa gapura di bagian belakang Kolam Renang Berkleus. Foto : dokumentasi pribadi


Sebetulnya area wisata ini sangat luas dan memiliki banyak kolam, namun sayang, situs bersejarah ini tidak terawat. Foto : dokumentasi pribadi
Sebetulnya menurut suami Saya yang lahir dan besar di Kota Cimahi, kolam renang ini masih ramai dikunjungi hingga awal tahun 2000-an, namun sayang, karena status tanahnya tidak jelas sehingga ditutup dan akhirnya terbengkalai hingga saat ini. Pemerintah Kota Cimahi pun bukan tak peduli, hingga saat ini mereka masih berupaya untuk mencari asal-usul dan status pemilik tanah peninggalan Belanda tersebut.

Komunitas dan masyarakat pun terus mendorong Pemkot Cimahi agar merawat dan menghidupkan kembali Kolam Renang Berkleus ini, karena bekas area wisata ini memiliki potensi yang besar, tak hanya dalam hal ekonomi, namun juga memiliki nilai sejarah penting yang bisa diwariskan kepada generasi masa kini.

Terbukti, melalui hasil wawancara Saya dengan pemilik warung yang berada di sekitar Berkleus, beberapa tahun ke belakang banyak anak-anak sekolah yang mengunjungi area ini untuk memenuhi tugas mata pelajaran sejarah, meskipun area dan bangunannya sudah banyak yang rusak.

Ya, RPH Abattoir dan Kolam Renang Berkleus kini sudah terdaftar di situs cagar budaya Kemdikbud, tinggal kita menunggu upaya selanjutnya dari Pemkot Cimahi agar keduanya mampu dirawat, dilestarikan, bahkan dihidupkan kembali sesuai yang diamanatkan oleh masyarakat dan Komunitas Tjimahi Heritage, namun tanpa menghilangkan tujuan pelestarian cagar budaya.



 Agar Mereka Tetap Lestari & Menjadi Warisan Penting Bagi Generasi Kini & Nanti

Seperti yang Saya ceritakan tadi, Kota Cimahi kaya akan bangunan bersejarah penting, hingga saat ini ada yang kondisinya terawat dan masih digunakan, namun tak sedikit pula yang terbengkalai.

Hal tersebut mendapat perhatian dari banyak pihak, salahsatunya Komunitas Tjimahi Heritage yang hingga saat ini masih aktif menyuarakan kampanye pelestarian cagar budaya di kota tentara ini, terlebih terhadap bangunan-bangunan yang kini kondisinya terbengkalai.

Lalu, mengapa Cagar Budaya penting untuk dilestarikan ?





 Dr, Supratikno Rahardjo, M,Hum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI, menyebutkan bahwa, yang harus dilestarikan dari sebuah cagar budaya tak hanya bentuk fisiknya saja, namun juga nilai-nilai penting di dalamnya melalui 3P (Pelindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan) objek cagar budaya.

Ya, merawat cagar budaya berarti merawat identitas dan jati diri bangsa, karena cagar budaya merupakan cermin peradaban dan interaksi sosial di sebuah tempat yang memiliki nilai penting bagi keberlangsungan dan pembangunan di wilayah tersebut.

Cagar budaya memiliki nilai penting bagi sebuah kota



Lalu, apa saja upaya penting untuk merawat dan melestarikan cagar budaya di Kota Cimahi :


Sebagai warga yang memiliki kecintaan terhadap kota ini, Saya memiliki pandangan sekaligus usulan yang semoga dengan ini kelak bisa membuat kota ini semakin besar dan berdaya melalui potensi yang dimilikinya, salahsatunya dengan melestarikan bangunan bersejarah yang banyak tersebar hampir di setiap sudut di kota ini, karena berita-berita dan opini mengenai potensi besar Kota Cimahi sebagai kota wisata sejarah sangat banyak Saya temui.



1. Mendorong Pemkot Cimahi untuk Membuat Perda Cagar Budaya
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong Pemerintah Kota Cimahi untuk membuat Perda tentang perlindungan dan perawatan cagar budaya agar keberadaan bangunan bersejarah tetap terjaga dengan baik, seperti yang diungkapkan Kepala Bidang Kepariwisataan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jabar Ani Ismarini "Kalau sudah dibuat Perdanya, nanti bangunan bersejarah itu jadi terawat" ujarnya.

Ia menuturkan Kota Cimahi memiliki potensi wisata sejarah yang perlu dikembangkan dan dipromosikan. Selama ini, menurut Ani, arsip sejarah seperti bangunan tua banyak terbengkalai dan beralih fungsi, bahkan sudah hampir punah. "Memang harus diakui, di Kota Cimahi banyak yang hilang, karena tidak tahu awalnya, akhirnya rasa memilikinya pun hilang," kata Ani.

Hal senada juga diungkapkan banyak tokoh masyarakat serta Komunitas Tjimahi Heritage agar Pemkot Cimahi segera membuat Perda Cagar Budaya. Meskipun pemerintah sudah menerbitkan Undang-undang Cagar Budaya, namun Perda Cagar Budaya penting sebagai payung hukum untuk memaksimalkan pelesatarian cagar budaya di sebuah kota.

2. Mengupayakan Pemanfaatan dan Pengembangan Cagar Budaya Secara Sustainable (Berkelanjutan)
Upaya pelestarian cagar budaya mencakup pelindungan, pemanfaatan, dan pengembangan yang dilakukan secara sustainable (berkelanjutan). Upaya perlindungan dapat dilakukan melalui adanya payung hukum berupa UU dan Perda. Sedangkan pemanfaatan berarti pemerintah dapat menggunakan cagar budaya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, agama, sosial, teknologi, hingga pariwisata. 

Sedangkan pengembangan berarti peningkatan potensi nila informasi, dan promosi melalui penelitian, adaptasi, dan revitalisasi tanpa merusak tujuan pelestarian.

Upaya tersebut tentu diawali dengan menghimpun data objek yang diduga cagar budaya kemudian mendaftarnya melalui sistem registrasi kemdikbud, dan saat ini dari 120 objek yang diduga cagar budaya, Pemkot Cimahi melalui Disbudparpora baru mendaftarkan 10 situs dan bangunan.

3.Membangun Sinergi  antar Seluruh Pemangku Kepentingan (Stakeholders)
Sama seperti kota lainnya, bangunan-bangunan bersejarah yang banyak tersebar di kota Cimahi bukan hanya aset/milik Pemkot Cimahi saja, terlebih 60% wilayah kota ini digunakan untuk kegiatan operasional kemiliteran yang berarti banyak juga bangunan bersejarah milik TNI. Maka diperlukan kerjasama dari semua pemangku kepentingan, baik itu Pemkot Cimahi, TNI, serta pemilik dan ahli waris dari bangunan bersejarah yang ada di kota ini untuk ikut bersama-sama melindungi dan merawat cagar budaya, sehingga tak ada lagi kasus pembongkaran dan perombakan bentuk asli bangunan cagar budaya karena dapat menghilangkan banyak nilai penting didalamnya.


4. Memperkuat Branding Cimahi sebagai Kota Wisata Sejarah
Sebagai upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi budaya dan pariwisata di Cimahi, pada awal tahun ini Pemkot Cimahi mengadakan Grand Launching bertajuk "Cimahi Military Tourism".  Hal tersebut dilatarbelakangi karena Cimahi minim destinasi wisata, padahal sejak dulu Cimahi dikenal sebagai kota tentara.

Sebuah langkah yang patut diapresiasi, karena melalui program ini masyarakat maupun wisatawan luar nantinya akan dikenalkan sejarah kota Cimahi terutama sejarah kemiliterannya dengan mengikuti tour/kegiatan berkeliling wisata sejarah militer di Cimahi. Dengan hal itu sekaligus Pemkot Cimahi juga turut serta dalam upaya pemanfaatan dan pengembangan objek cagar budaya melalui pengukuhan branding Cimahi sebagai Kota Wisata Sejarah Militer.

Namun yang menjadi PR selanjutnya bagi Pemkot Cimahi yakni bagaimana agar kota ini bisa melestarikan bahkan menghidupkan kembali situs dan bangunan-bangunan bersejarah yang tidak terawat untuk kemudian dijadikan sebagai daya tarik wisata demi memperkuat branding Cimahi sebagai Kota Wisata Sejarah

5. Menghidupkan Peran Aktif Komunitas dan Masyarakat Kota Cimahi
Merawat dan melestarikan cagar budaya memang tugas pemerintah, namun tak berarti apa-apa jika tidak ada peran aktif dari komunitas dan masyarakat. Masyarakat dituntut untuk mampu mendorong Pemkot Cimahi berkenaan dengan program 3P (Pelindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan) objek cagar budaya.



1. Menaati Peraturan Pemerintah Berkenaan dengan Pelestarian Cagar Budaya 
 Seperti yang kita ketahui bahwa aset cagar budaya bukan hanya milik pemerintah, namun banyak juga yang merupakan milik perorangan atau kelompok tertentu yang merupakan pemilik atau ahli warisnya, maka tugas mereka harus ikut serta mendukung kebijakan dan peraturan pemerintah terkait cagar budaya dengan tidak melakukan pembongkaran dan perombakan cagar budaya serta tidak menjualnya untuk kepentingan pribadi.

2. Mengunjungi Cagar Budaya di Sekitar Kita & Tidak Melakukan Vandalisme
Masyarakat milenial memang cenderung lebih suka mengunjungi objek wisata yang dianggap hits dan kekinian, namun jangan sampai abai untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang memiliki banyak nilai penting.

Pemerintah Kota Cimahi pun kini mulai gencar-gencarnya mempromosikan tour sejarah militer menggunakan Sakoci (Saba Kota Cimahi) agar warga Cimahi dan wisatawan dari luar mampu mengenal lebih dalam tentang sejarah kemiliteran Kota Cimahi. Maka, tugas kita, mendukung program tersebut dengan ikut berpartisipasi dalam tour sejarah tersebut.
Bus wisata sakoci sudah mulai bisa kalian coba saat berkeliling di Kota Cimahi.

 Satu lagi yang penting,ketika kita mengunjungi cagar budaya, maka taati peraturan yang berlaku di tempat tersebut, salahsatunya dengan tidak melakukan vandalisme seperti merusak bangunan cagar budaya, juga mencoret-coret, dan hal-hal lain yang dapat merusak bentuk fisik cagar budaya.

3. Turut Menjaga, Mengawasi, dan Merawat Objek Cagar Budaya di Sekitar Kita Bahkan Bisa Ikut Mendaftarkannya
 Jika ada bangunan atau objek bersejarah di sekitar kita yang kira-kira memenuhi kriteria cagar budaya, maka kita bisa ikut mendaftarkannya agar ditetapkan sebagai cagar budaya. Proses pendaftarannya bisa dengan dua metode, yaitu manual dan daring.

Dalam pendaftaran secara manual, pendaftar datang langsung ke kantor dinas yang membidangi kebudayaan di kabupaten/kota. Sedangkan pendaftaran melalui daring (online) dapat dilakukan melalui laman www.cagarbudaya.kemdikbud.go.id.
Tak hanya itu, kita juga harus turut menjaga dan mengawasi agar bentuk fisik dan nilai-nilai pentingnya dapat terjaga, terlebih pembangunan kota yang saat ini begitu pesat terkadang turut mengorbankan banyak objek dan bangunan bersejarah, seperti kasus pembongkaran Rumah yang ada di Jalan Jend. Amir Machmud Cimahi yang Saya ceritakan tadi.

4. Aktif Menyuarakan dan Mempromosikan Cagar Budaya
Komunitas Tjimahi Hertitage, adalah bukti nyata peran komunitas masyarakat terhadap upaya pelestarian cagar budaya di Kota Cimahi. Komunitas yang berdiri sejak 2012 ini rutin mengadakan kegiatan diskusi dan penelusuran arsip sejarah, serta tour bangunan bersejarah di Kota Cimahi. Beberapa waktu yang lalu Komunitas Tjimahi Heritage juga mengadakan tour sejarah di Kolam Renang Berkleus, mereka pun terus mendorong Pemkot Cimahi untuk bisa menghidupkan kembali tempat wisata bersejarah ini. Tak hanya itu, mereka pun aktif mempromosikan banyak bangunan bersejarah di Kota Cimahi melalui website dan sosial media yang kini anggotanya sudah mencapai lebih dari 3000 anggota.




Komunitas Tjimahi Heritage saat mengadakan tour di RPH Abbatoir. Foto : tribunnewsjabar.com

5. Mendukung & Menyampaikan Aspirasi Kepada Pemerintah Terkait Kebijakan Cagar Budaya
Selain aktif mempromosikan cagar budaya di kota ini, Komunitas Tjimahi Heritage juga aktif menyuarakan aspirasi kepada Pemkot Cimahi, salahsatunya mendorong mereka untuk segera menerbitkan Perda Cagar Budaya terlebih Cimahi juga memiliki potensi wisata sejarah mengingat banyak sekali bangunan bersejarah yang ada di kota ini.

Seperti beberapa waktu yang lalu, 3 pegiat dari komunitas ini ikut mendaftarkan diri sebagai TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) Provinsi Jawa Barat, salahsatunya agar bisa membantu merekomendasikan bangunan cagar budaya di kota ini dalam upaya mendukung Pemkot Cimahi dalam upaya pelestarian cagar budaya di kota ini.

Ya, sejatinya merawat cagar budaya adalah tugas kita bersama, banyak cara yang bisa kita lakukan dan kita bisa memulainya dengan cara yang sederhana, dimulai dengan aktif mempromosikannya melalui sosial media misalnya, juga menyempatkan waktu di akhir pekan untuk mengunjungi objek cagar budaya, bisa jadi langkah awal yang baik.

Karena, Hanya ada 2 Pilihan, Rawat atau Musnah !


Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air


Sebuah kutipan puisi karya Taufik Ismail tersebut menggambarkan bahwa kita tak perlu menjadi besar untuk bisa bermanfaat, termasuk dalam hal kontribusi pelestarian cagar budaya di negeri ini. Sekecil apapun peran kita, selama masih bisa dan mampu, maka lakukanlah. Karena sejatinya, hanya ada 2 pilihan, rawat atau musnah !.

Tak peduli apapun profesinya, setiap orang bisa berkontribusi dalam proyek besar ini. Sebagai orangtua misalnya kita bisa menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak kita tentang arti dan cara melestarikan cagar budaya, begitupun jika kita seorang guru, pegawai, tokoh publik, dan lain-lain, kita semua punya peran dan tanggung jawab yang sama.

Baca Juga : Meneropong Sisi Historis Lain Kota Surabaya dari Atas Menara Gedung Kesyahbandaran Tanjung Perak

Maka, untuk para blogger, Saya mengajak kalian untuk terlibat dalam proyek ini, dengan berpartisipasi dalam lomba blog bertajuk "Rawat atau Musnah" yang diadakan oleh Kemendikbud dan Komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis). Informasi selengkapnya silakan klik link ini.



Maka, akhir kata semoga apa yang Saya tulis ini mampu menjadi setitik nyala bagi kontribusi pelestarian cagar budaya di Indonesia, khususnya di Kota Cimahi. Karena sebagai warga Cimahi, Saya sangat bersyukur karena bisa menikmati banyak hikmah sejarah penting melalui objek-objek dan bangunan bersejarah yang Saya temukan hampir di setiap sudutnya.

Yuk, kita bantu pemerintah untuk terus menjaga dan melestarikan aset sejarah penting tersebut, kalau kalian mampir ke Kota Cimahi, sempatkanlah sejenak untuk mengunjungi bangunan-bangunan sejarah di kota ini dan bersiaplah untuk berpetualang menyusuri lorong-lorong sejarah Cimahi yang begitu kaya dan sarat makna.

4 Comments

  1. Mba, tinggal di Cimahi? akupun orang Cimahi hahaha iya nih cagar budaya Cimahi kurang terekspos yah jadinya ga banyak orang tahu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih teh udah berkunjung.. iya Saya di Cimahi, tapi baru 5 tahun sih.. bener banget di Cimahi mah pabalatak ya bangunan bersejarah teh, tapi sayang banget belum ada yg dibuat jd destinasi wisata, baru sebatas tour keliling bangunan bersejarah punya tentara aja..itupun kayaknya nggak boleh masuk ya, cuma tour aja pake sakoci

      Delete
  2. Masih banyak bangunan yang bisa diangkat dan didaftarkan sebagai cagar budaya di Cimahi. Baca ini lengkap dan detail banget. Jadi tahu sejarah Kota Cimahi juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul banget teh..makanya butuh perhatian khusus dari Pemkot Cimahi supaya merawat cagar budaya di kota ini, sayang banget banyak yg nggak terawat & rusak padahal bisa jadi daya tarik wisata

      Delete