7 Hal Sederhana yang Bisa Membuat Anak Bahagia




Bismilah

Memiliki seorang anak membuat kita jadi belajar banyak hal, salahsatunya tentang psikologi anak. Sebagai sosok yang paling dekat dengan anak, kita dituntut untuk memahami banyak hal dari mereka, tak terkecuali tentang bagaimana mendeteksi perasaan-perasaan anak serta respon yang tepat untuk menghadapinya.

Begitu juga denganku, Allah anugerahkan 2 bidadari mungil yang setiap hari memberikan warna-warni dalam hidupku. Bersama mereka aku belajar banyak hal, suka-duka kami lewati bersama hingga akhirnya aku jadi mulai memahami perasaan mereka, kapan atau kondisi apa yang membuat mereka senang, sedih, marah, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang ibu, melihat anak bahagia otomatis kita pun akan turut bahagia, dan sadar nggak sih kalo anak-anak itu nggak punya syarat yang banyak untuk bisa bahagia. Ya, sebetulnya tak perlu melakukan hal rumit untuk bisa membeli binar bahagia di kedua mata mereka. Karena bagiku mereka itu sosok yang paling tulus, menyayangi siapapun tanpa syarat, mereka sosok paling objektif dan jujur, mungkin karena fitrahnya masih terjaga ya, nggak seperti kita orang dewasa yang bergelimang dosa, masyaAllah.

Baca juga : 

Lalu, apa saja sih hal-hal sederhana yang jika kita lakukan bisa membuat mereka bahagia? Simak ya !

1. Ikut Bermain Bersama Mereka

Nah terkadang saking disibukkan dengan pekerjaan rumah akhirnya kita lupa meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka. Sebagian dari kita menganggap bahwa mainan-mainan tersebut bisa membuat mereka "anteng" sehingga kita bisa leluasa mengerjakan pekerjaan rumah.

Padahal sebetulnya anak pun ingin sekali didampingi orangtuanya saat bermain, mereka ingin orangtuanya terlibat penuh dan masuk ke dunia mereka. Yuk mulai besok, luangkan waktu untuk bermain bersama mereka, temani mereka, simpan dulu HP atau hal-hal lainnya dan nikmati waktu bersama mereka.

2. Jadi Pendengar yang Baik 

Jangankan anak-anak, sebagai orang dewasa kita pun butuh untuk didengarkan, iya nggak? Hehe. 

Didengarkan disini berarti kita berusaha untuk memahami perasaan mereka, ajak mereka unuk terbiasa mengungkapkan perasaan yang mereka alami. Karena menurut psikolog, jika anak terbiasa mengungkapkan perasaannya, maka frekuensi tantrumnya pun semakin hari akan semakin berkurang.

Tak hanya itu, kita juga harus jadi pendengar yang baik ketika anak sedang bercerita, bertanya, bahkan marah sekalipun. Tunggu sampau mereka selesai berbicara kemudian beri respon yang positif. Aku tau ini nggak gampang dan butuh banget latihan terutama saat kondisinya tidak menyenangkan (anak menangis, tantrum dsb), tapi sebetulnya hal pertama yang mereka butuhkan pada kondisi tersebut adalah "didengarkan". So, yuk kita belajar jadi pendengar yang baik untuk mereka, bismilah semangaat.

3. Membacakan Cerita

Anak usia dini tuh sukaa banget kalo diceritakan tentang sesuatu, bahkan itu bisa jadi solusi dikala anak sedang berada dalam keadaan yang kurang kooperatif.
Misalnya saat anak malas gosok gigi, kita bisa memberikan sugesti kepada mereka melalui bercerita tentang kuman jahat yang menginap di gigi pada malam hari misalnya.

Jadi mereka itu memang senang sekali mendengar cerita-cerita dan pesan atau nasehat-nasehat biasanya lebih efektif jika disampaikan dalam bentuk cerita. Maka, dalam sehari usahakan untuk menceritakan banyak hal menarik kepada mereka, dengan membacakan buku disaat-saat tertentu misalnya, terlebih jika kita membacanya dengan metode read aloud.

4. Anak diberi Kepercayaan untuk Melakukan Sesuatu

"Bund, aku boleh nggak bantuin masukkin gulanya" tanya Naura saat aku sedang membuatkan puding untuknya.

Lalu aku jawab "Boleh, Nak, tapi hati-hati ya menuangkannya". Sejurus kemudian terdengar luapan ungkapan bahagia dari bibir mungil putri sulungku tersebut.

Ya, anak usia dini memang daya jelajah dan ingin tahunya tinggi sekali, makanya kita sering dengar istilah anak kecil kok seneng "ngoprek" deh. Ya, untuk itu sebisa mungkin kita bisa memfasilitasi mereka caranya dengan memberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu, misalnya ajak mereka untuk membantu pekerjaan dapur, melipat baju, menyiram tanaman dan lain sebagainya, dengan catatan kegiatan tersebut aman dan tidak membahayakan.

5. Mengajak Mereka Bermain di Luar

Setiap akhir pekan disaat ayahnya libur, kami berusaha mengajak anak-anak untuk beraktivitas di luar ruangan, nggak harus ke tempat yang jauh dan bagus. Terkadang, bermain di lapangan komplek pun sudah cukup membuat mereka happy. Atau bisa juga mengajak mereka berolahraga bersama, bermain ke taman kota, jalan-jalan ke supermarket, dan lain-lain, intinya ajak mereka menghirup udara segar di luar ruangan.

6. Memberikan Kejutan-kejutan Kecil 

"Aku sayang bunda" ujar naura saat kami baru pulang dari warung (kala itu Naura baru berumur 2 tahun). Mendengar ucapan tulus serta melihat binar matanya membuat aku hampir meneteskan air mata.

Padahal, receh banget, waktu itu pagi-pagi setelah sarapan aku mengajak Naura untuk ke warung depan komplek, membeli beberapa kebutuhan rumahtangga sembari membelikannya sesuatu. Kala itu aku kepikiran untuk membelikannya balon (kebayang nggak sih, cuma balon tiup yang seribuan), tapi masyaAllah Naura girang banget.

Nggak cuma itu, pernah juga aku pulang dari suatu tempat dan membelikannya eskrim, dengan spontan tiba-tiba dia mencium pipiku, duh jadi terharu.

Ya, Naura nggak bilang kalau dia senang atau bahagia, tapi sikapnya sudah menunjukkan rasa bahagia di kala aku memberikan Kejutan-kejutan kecil, dan bagiku sebagai orangtua, bahagia rasanya melihat anakku pun bahagia.

Ternyata nggak cuma aku, ayahnya pun sering banget kasih kejutan-kejutan kecil untuk anak-anak saat pulang dari kantor, nggak perlu mainan yang mahal-mahal, satu buah coklat atau nyam-nyam pun bisa membuat anak-anak berteriak kegirangan hehe. Makanya nggak heran kalau pas terdengar gerbang dibuka, Naura langsung lari buka pintu kemudian bertanya "Baba, hari ini bawa kejutan apa?" Hehe.

7. Memberikan Sentuhan-sentuhan Cinta dalam Bentuk Sikap dan Kata-kata

Nah, hal ini pentiiiing banget. Menunjukkan rasa cinta ke anak tuh akan membuat mereka merasa dicintai, dihargai, diterima, pokoknya kita tuh harus romantis ke anak. Biasakan memeluk dan mencium mereka terutama disaat-saat tertentu misalnya saat bangun tidur, saat hendak tidur, baru pulang kerja, saat mereka sakit, sedih, bahkan marah sekalipun.

Nggak hanya pelukan dan belaian, anak juga butuh pernyataan, sering-seringlah berkata bahwa kita menyayangi mereka, kita bangga sama mereka, ucapkan terimakasih karena sudah jadi anak yang baik misalnya, terima kasih sudah membantu menjaga adik, dan lain-lain.

Satu lagi yang penting, sering-seringlah meminta maaf pada jiwa mungil tersebut (Duh ini mah PR aku banget hix.hix.. maklum sering banget aku sumbu pendek sama anak, astaghfirullah). Intinya kita pasti pernah marah, sebel, kesel ke anak, tapi pastikan udahnya kita tunjukkan bahwa kita menyesal kemudian meminta maaf dengan tulus kepada mereka.

Nah, mudah-mudahan apa yang aku tulis bermanfaat ya, ini jadi pengingat juga buat aku supaya bisa lebih mensyukuri kehadiran mereka dalam hidupku dengan cara selalu memberikan mereka kebahagiaan-kebahagiaan meski lewat cara yang sederhana setiap harinya, insyaallah.

2 Comments

  1. tips yang bagus bun, saya no 5 ni masih butuh perjuangan, kadang terlalu betah dirumah, anak bosen, pengen keluar, sekali keluar ga mau pulang2 hehe, saya ga izinin dia main di luar sendiri terutama si bungsu 3 thn,bahaya juga.jd benar2 hrs luangkan waktu lagi

    ReplyDelete
  2. Wah makasih sudah mampir Mbak, salam kenal :).
    Hihi iya mbak, saya juga nggak berani, waswas kalo anak harus bermain diliar meakipun bersama teman-temannya. Kalapun main di luar biasanya saya temani karena selain anak saya masih kecil (4 &2 th), saya juga khawatir ada penculik berkeliaran hehe. Ya intinya betul ya kita harus meluangkan waktu untuk mendampingi anak bermain diluar.

    ReplyDelete