Pendidikan Anak Pada Fase 7 Tahun Pertama (Resensi Kulwap Parenting Bersama Teh Kiki Barkiah)




Bismillah.

Beberapa waktu yang lalu aku ikut kulwap parenting yang berjudul "Kupas Tuntas Pendidikan Anak Usia 0-15 Tahun" dengan pemateri Teh Kiki Barkiah.

Materinya disampaikan salahsatunya dalam bentuk audio, nah rangkumannya akan aku tulis kembali. Sebetulnya materi kulwapnya lengkap membahas tentang peran orangtua dalam berbagai tahapan usia, yakin 0-7, 7-14, dan 14+. Namun, kali ini aku hanya akan membahas pada rentang usia 0-7 tahun.

Jadi pada intinya 15 tahun pertama kehidupan seorang anak sangatlah penting, karena akan sangat mewarnai bagaimana kehidupan sang anak di masa mendatang. 

15 tahun ini akan mewarnai apakah anak akan memiliki bekal taqwa yang cukup di masa mendatang, sehingga ia mampu menjalankan syariat Allah.

15 tahun pertama ini akan mewarnai apakah anak akan memiliki bekal yang cukup agar ia tumbuh menjadu pribadi berakhlak mulia.

15 tahun pertama ini akan mewarnai apakah anak kelak akan mampu hidup mandiri, baik kemandirian dalam memecahkan masalah, kemandirian dalam finansial, maupun kemandirian dalam kehidupan sosial.

15 tahun ini juga akan mewarnai bagaimana perilaku seksual mereka, bagaimana mereka berinteraksi dengan lawan jenis, juga bagaimana mereka akan membangun keluarga kelak.

Maka sebagai orangtua terkadang kita sering terjebak pada rutinitas-rutinitas berulang yang sebetulnya tidak memiliki dampak atau kontribusi yang besar pada pola perubahan perilaku anak.

Lalu, bagaimana cara memaksimalkannya?.

Baca juga :

Nah, kali ini aku hanya akan membahas di fase 7 tahun pertama saja.

Jadi pada usia 7 tahun pertama, orangtua bertindak sebagai fasilitator dan anak sebagai pemain.

Bayangkan, yang namanya fasilitator ini kita akan lebih di drive dengan si pemilik acara atau dalam hal ini anak-anak, sedangkan kita hanya memfasilitasi selama kita mampu, kita optimalkan, kita siapkan, kita dukung, kita berikan, kita bangun suasananya, sementara yang men-drive adalah kebutuhan dan keinginan anak-anak kita.

Lalu, aspek-aspek apa saja yang perlu ditekankan untuk mengoptimalkan pendidikan anak pada fase ini?

Yang pertama, mengenalkan tauhid dengan membangkitkan kesadaran Allah sebagai Khaliqan (Pencipta), Raziqan (Pemberi Rizki), dan Maliqan (Penguasa).

Di tahap ini, anak perlu diberikan wawasan dan lingkungan untuk membangkitkan imajinasi positif tentang Allah, serta membangkitkan kesadaran akan fungsi dan peran Allah di kehidupannya.

Baca juga :

Kalau Naura dan Wafa, saya mengajarkan tauhid salahsatunya lewat membacakan buku yang didalamnya menceritakan nama dan sifat-sifat Allah yang dihubungkan dengan cerita sehari-hari, misalnya Allah Maha Pemberi Rizki, kita hubungkan dengan cerita burung yang pergi di pagi hari untuk mencari makan kemudian Allah beri rizki berupa makanan hingga si burung bisa pulang lagi di sore hari.

Selain itu, lewat kejadian sehari-hari, misalnya saat sakit, maka Allah yang menyembuhkan, saat menyiram tanaman, maka ceritakan bahwa Allah lah yang menciptakan dan menumbuhkan tanaman-tanaman tersebut.

O ya menurut Teh Kiki, di tahapan ini juga sebaiknya anak diberikan pengalaman sensomotorik melalui permainan-permainan sederhana namun yang bersifat imajinatif seperti role playing, bukan permainan yang sifatnya kognitif. Ini penting, karena dari role playing saja, anak akan memahami peran, situasi, perasaan bahkan sebab-akibat.

Di 7 tahun pertama ini juga masa yang penting untuk mengajarkan bahasa ibu yang utuh sampai anak memiliki kemampuan untuk menyampaikan gagasan yang baik, tak hanya secara verbal, namun juga berupa ide, kreativitas, termasuk melatih anak untuk mengungkapkan perasaannya sejak usia 2 tahun.

Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan ini penting sekali karena bisa membantu anak untuk meminimalisir intensitas tantrum.

Di 7 tahun pertama ini, kita harus menaruh perhatian besar pada perkembangan kecerdasan emosi anak. Kita harus mengenalkan kepada mereka berbagai macam variasi emosi kemudian mengajarkan cara mengungkapkannya serta bagaimana cara yang bijak dalam mengelola emosi tersebut agar kelak menjadi sebuah kebiasaan baik yang akan terbawa sampai dewasa.

Kemudian di usia ini anak juga akan belajar lebih banyak di alam melalui pengalaman-pengalaman. Maka seringkali kita mendapati anak bisa melakukan sesuatu padahal kita tidak serius mengajarkannya. Ya, karena dari pengalaman-pengalamanlah, anak akan belajar meski tidak sadar bahwa sejatinya mereka sedang belajar. Di usia ini, anak juga akan belajar melalui kehidupan. 

Maka, semakin kaya pengalaman, semakin banyak informasi yang diperoleh, meski mereka tidak sadar bahwa mereka sedang belajar, maka akan lebih banyak mengetahui sesuatu.

Jadi intinya, menurut Teh Kiki, di usia 7 tahun pertama ini, kta harus lebih sadar memperlakukan mereka dengan terlebih dahulu mengikuti ritme yang mereka ciptakan sebelum memasukkan banyak nilai-nilai dan norma-norma kepada mereka.

Nah, jadi sudah siap dong untuk jadi fasilitator bagi anak-anak kita?. Bagi aku pribadi yang terpenting di tahapan ini, betul kata Teh Kiki, poin utama yakni penanaman tauhid, kemudian adab dan akhlak (dalam hal ini dititikberatkan melalui belajar mengungkapkan dan mengelola emosi dengan baik), serta menciptakan lingkungan dan pengalaman belajar yang kondusif, yang tidak merusak fitrah anak, seperti mengatur tayangan untuk anak serta membatasi pergaulan yang dianggap kurang baik.

Sekian, tulisan dari aku, meski singkat mudah-mudahan bermanfaat ya :)

0 Comments