Suka Duka Jadi Teknisi Laboratorium dan Pelajaran Hidup Terbaik yang Aku Dapatkan




Dalam hidup, kita selalu belajar melalui banyak hal. Dari masalah atau musibah yang kita hadapi, dari pesan atau nasehat yang kita dengar, pengalaman-pengalaman hidup, baik dari diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Semuanya memiliki kesan tersendiri yang pada akhirnya mengantarkan kita untuk memetik banyak hikmah kehidupan penting.

Nah, kali ini aku mau bercerita sedikit tentang pengalamanku saat bekerja sebagai ahli tenaga laboratorium dulu (Dulu saat aku bekerja, profesi ini disebut sebagai analis kesehatan). Selama 3,5 tahun aku banyak sekali mendapatkan pengalaman berharga baik tentang bidang keilmuan laboratorium medis, maupun bidang kesehatan secara umum.

Tak hanya itu, diantara riuh suara alat laboratorium, diantara padatnya "lalu lintas" dan hilir mudik berbagai jenis sampel pasien, aku juga belajar banyak hal tentang kehidupan.

Aku belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, dan integritas. Berinteraksi dengan berbagai karakter manusia juga membuatku belajar bagaimana seni memahami orang lain.

Aku juga belajar tentang pengorbanan. Kala itu pekerjaanku akrab dengan berbagai sampel darah dan cairan tubuh lain yang kadang kita tidak tahu pasti apakah di dalam sampel tersebut terdapat berbagai jenis penyakit menular berbahaya seperti HIV dan Hepatitis B misalnya.

Begitu juga ketika kita harus mengambil sampel darah pasien menggunakan spuit, kita tidak tahu apakah di dalam darah pasien tersebut terdapat penyakit berbahaya (HIV atau Hepatitis B misalnya), yang jika jari kita tertusuk jarum bekas pasien tersebut maka kita akan beresiko tertular penyakit tersebut.

Aku ingat, saat KKN dulu (kami menyebutnya PKMD), aku sampai keringat dingin saat mendapat tugas untuk mengambil sampel pasien yang kemungkinan besar didiagnosis HIV positif. Kala itu, aku sedang PKMD di salahsatu puskesmas di Kota Bandung.

Oya, saat bekerja aku pernah bertugas di laboratorium mikrobiologi, setiap harinya aku bertemu berbagai sampel cairan tubuh manusia, mulai dari nanah, air seni, feses, apus luka, bahkan sputum (dahak) suspect TBC. Duh jangan dibayangkan ya karena bikin nggak nafsu makan hehe.

Itu belum termasuk resiko tertular penyakit infeksi seperti TBC yang berasal dari sputum misalnya. 

Ya, manusiawi jika kita merasa jijik atau tidak nyaman, namun pekerjaan ini menuntut kita berkorban untuk membuang jauh-jauh perasaan tersebut.

Belum lagi soal hasil, kita dituntut untuk mengeluarkan hasil yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kebayang nggak sih, dalam sehari ada ratusan sampel hilir mudik di laboratorium, kemudian kita tidak boleh salah pada saat memberi label (karena ada beberapa bagian yang terkadang harus diberi label secara manual, misal saat memisahkan darah dan serum/plasma).

Bahkan, satu digit nomor pun jika salah dalam pelabelan, akibatnya akan sangat fatal, karena sampel bisa jadi akan tertukar dengan sampel pasein lainnya dan itu sangat-sangat berbahaya sekali karena akan mempengaruhi hasil dan tindak lanjut atau terapi dari dokter.

Karena tugas kami sebagai tenaga laboratorium itu adalah membantu dokter untuk menegakkan diagnosis pasien melalui pemeriksaan laboratorium.

Jadi intinya pekerjaan ini menuntutku untuk selalu cepat, tepat, dan akurat, nggak boleh lupa dan nggak boleh salah titik.

Maka, dulu saat awal-awal bekerja aku sempat stress (selain karena pekerjaan ini bukanlah passionku hehe), juga karena tuntutan pekerjaan yang bagiku begitu berat.

Aku takut jika salah mengerjakan sampel yang dampaknya bisa merugikan orang lain. Maka aku inget banget, pagi-pagi sebelum running sampel biasanya aku berdoa dulu sama Allah supaya diberikan petunjuk dan kemudahan agar jangan sampai melakukan kesalahan dan kelalaian.

Tak hanya itu, karena bidang keilmuan ini sangat dinamis, maka sebagai ahli, kita harus terus mengikuti "ritmenya". Dan ini adalah bagian yang paling aku suka. 

Berbagai seminar dan product knowledge rutin diadakan di kantor kami dan aku sangat excited mempelajari banyak hal baru, tentang penemuan-penemuan dan inovasi baru di dunia kesehatan, tentang alat laboratorium atau metode pemeriksaan terbaru misalnya, semuanya bagiku menarik. Sehingga aku paling suka kalau dapat tugas untuk ikut seminar di luar, selain untuk refreshing, bisa juga jadi sarana bagiku untuk meng-upgrade diri.

O ya, dulu aku pernah mengikuti seminar yang cukup lama, yakni selama seminggu. Seminar yang bertajuk "Tata Laksana Diagnosis TB di Laboratorium" tersebut diadakan oleh Dinas Kesehatan dan Balai Pelatihan Tenaga Kesehatan Kota Bandung. Senang rasanya, disana aku mendapatkan banyak pengetahuan, baik praktik maupun teori seputar penyakit TBC dan cara penegakkan diagnosisnya.

Ya, memang pekerjaan ini penuh lika-liku, suka dan duka aku rasakan selama 3,5 tahun (itu belum dihitung saat aku kuliah dulu yang juga penuh drama dan cerita "seru" hehe, pengen banget menuliskannya suatu hari nanti).

Hingga akhirnya, di bulan Agustus 2015, tepatnya kurang lebih setahun setelah aku menikah, kuputuskan untuk GANTUNG JAS LAB hehe, alias resign, mengundurkan diri dari pekerjaan yang memberiku banyak pelajaran berharga ini (Duh..part ini bikin berkaca-kaca banget hiks..hiks..).

Dan, jas lab tersebut salahsatunya masih kusimpan kini, dibagian kirinya terdapat logo perusahaan tempatku bernaung dulu, dan disebelah kanannya terukir jelas namaku. 

Jas lab itu aku simpan rapi di lemari dengan dua alasan, salahsatunya mungkin bisa jadi kenangan, juga jadi bukti dan kebanggaan tersendiri bagi anak-anakku kelak, bahwa dulu bundanya pernah berteman dengan mikroskop, kuman, jarum suntik, pipet, dan alat-alat laboratorium lainnya. Jadi mereka tau bahwa kostumku bukan hanya daster saja, bundanya juga pernah tampil "kece" mengenakan jas laboratorium :).

Kalau satu alasan lagi, aku nggak akan cerita disini, cukup simpan dalam hati :)

Akhir kata, mungkin cukup sekian saja nostalgia malam ini, dan aku bahagia banget bisa menulis tentang ini (meskipun hati sedikit mellow terbawa suasana hehe). Tak apa, aku akan selalu bersyukur bagaimanapun takdir membawaku.

Meski jas lab sudah aku simpan rapi di lemari, namun aku janji, tak akan pernah berhenti belajar dan bermimpi :)

Tuh kan aaah melloow lagi hahah





1 Comments

  1. Aku pun merasakan hal yang sama Mei. Tulisan ini juga mencerminkan perasaanku. Baper juga deh

    ReplyDelete