Tentang Hal Terpenting Dalam Sebuah Pernikahan




Bismilah.

Ini kali pertama aku menulis tema tentang pernikahan di blog-ku, sebelumnya aku pernah menulis tentang tema ini namun di media online lain.

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman blogger mengadakan give away yang bertajuk "Cara Terbaik Menjalani Pernikahan".

Jujur, meski usia pernikahanku menuju 6 tahun (insyaallah), diberi pertanyaan seperti itu cukup membuatku berpikir lama, hingga akhirnya membawaku pada sebuah perenungan panjang.

Banyak yang bilang, hal terpenting dalam sebuah pernikahan adalah komunikasi, kepercayaan, cinta, dan lain sebagainya. Namun rasanya hatiku belum sepenuhnya mengiyakan bahwa itu adalah poin pertama dan utamanya.

Karena realitanya, seiring berjalannya waktu dan intensitas kebersamaan dengan pasangan, entah mengapa bagi sebagian pasangan, hal-hal tersebut justru menjadi sulit untuk dijalani.

Harusnya makin lama usia pernikahan, komitmen, kepercayaan dan kemampuan berkomunikasi dengan pasangan bukan sesuatu yang sulit dan menjadi hambatan. Harusnya masing-masing semakin lihai dalam memainkannya.

Hmmh, dari situ aku jadi bertanya, kalau begitu apa sih hal utama yang membuat sebuah pernikahan bisa kokoh dan kuat?

Kemudian aku belajar dari lika-liku dan jungkir balik saat menjalani pernikahan, juga dari orang-orang di sekeliling ku, dari pengalaman hidup orang lain, dari mereka yang sudah puluhan tahun menjalani biduk rumah tangga, ternyata ada satu hal penting dan utama yang sangat mempengaruhi kehidupan pernikahan kita.

Hal tersebut akan aku analogikan melalui sebuah segitiga sama kaki berikut ini



Suami dan istri diibaratkan sebagai kedua sisi segitiga yang menempatkan Allah sebagai puncaknya. 

Jika posisi masing-masing (suami dan istri) semakin dekat dengan Allah, maka jarak antara keduanya akan semakin dekat, yang artinya kehidupan pernikahan insyaallah akan semakin berkah dan bahagia.

Begitupun sebaliknya, semakin suami dan istri jauh dari Allah, maka jarak mereka semakin jauh satu sama lain yang berarti kehidupan pernikahan akan jadi semakin sulit karena tidak atau sedikit sekali melibatkan Allah dalam menjalankannya.

Apakah teori tersebut bersifat mutlak?

Wallahu alam, aku hanya meyakininya berdasarkan pengalaman dalam menjalani pernikahan, baik pengalaman pribadi maupun orang-orang disekitarku yang banyak bercerita tentang kehidupan pernikahan mereka yang akhirnya membuatku semakin yakin bahwa kedekatan kita dengan Allah sangat mempengaruhi kehidupan pernikahan kita.

Aku yakin, semakin dekat dengan Allah maka insyaallah masing-masing pasangan suami-istri akan semakin memahami hak dan kewajibannya masing-masing, kemudian bersungguh-sungguh menjalankannya karena Allah, apa yang ia lakukan tujuan utamanya adalah Allah.
Prinsinya seperti ini :
Hak suami = kewajiban istri, sebaliknya,
Hak istri = kewajiban suami

Aku jadi ingat dengan salahsatu ceramah ustaz Khalid Basalamah yang menyebutkan bahwa, sebetulnya rumah tangga itu tujuannya ibadah, kita jalankan saja semuanya dengan sungguh-sungguh, jalankan saja semua rutinitasnya, seorang istri misalnya taat dan patuh pada suami, memasak, mencuci baju, mendidik anak dengan sungguh-sungguh, begitupun suami, fokus dengan perannya, melakukan semua sepenuh hati hingga tau-tau meninggal dan masuk surga, masyaAllah.

Jadi intinya, tanyakan lagi pada hati kita masing-masing, apa sebetulnya yang kita cari dalam pernikahan?

Karena rasanya kurang tepat jika yang kita cari hanyalah kebahagiaan semata, karena nyatanya justru mengarungi badainya, tidak cukup hanya bermodal cinta.

Kini, saatnya menghayati, tentang makna ibadah dalam sebuah pernikahan.

Memperbaiki Hubungan dengan Allah adalah Kunci dari Segala Kunci

Aku ingat dulu penulia Tere Liye pernah berkata yang intinya bahwa menikah bukanlah sebuah akhir, namun permulaan. Kalau kita sering membaca dongeng-dongeng putri dan pangeran yang happily ever after, menikah lalu bahagia selama-lamanya sehingga seolah menganggap bahwa pernikahan adalah akhir cerita bahagia.

Namun kita salah besar kalau kita menganggap pernikahan adalah sebuah film romantis, karena nyatanya pernikahan adalah sebuah film dengan banyak genre, mulai dari romantis, komedi, horor, bahkan thriller.

Jadi kesimpulannya, dengan menikah berarti kita harus siap dengan berbagai jatuh dan bangunnya dan itu akan lebih mudah jika semuanya kita kembalikan kepada Allah.

Dengan doa, pasrah, dan tawakkal kepada Allah (yang juga diiringi ikhtiar), maka hati kita akan semakin dikuatkan dalam mengarungi badai, hati kita akan dibuat tenang karena hanya bergantung pada-Nya saja.

Menikah = Ibadah Terlama, Sehingga Sakinah Harus Terus Diperjuangkan

Mungkin kalian pernah dengar Hadits Riwayat Muslim berikut :


“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (
untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” 

Jadi intinya kesuksesan sejati bagi setan adalah ketika ia berhasil memisahkan suami dan istri sehingga merek bercerai.

Bahkan pernah aku dengar istilah, kalau dulu saat pacaran, setan berupaya menggoda agar keduanya saling dekat satu sama lain (supaya timbul zina dsb), namun setelah menikah, setan menggoda agar keduanya saling menjauh.

Jadi intinya yang berat itu bukan rindu, tapi berkomitmen dalam sebuah perjanjian agung (mitsaqan ghaliza), catat ya, Dilan !

Kalau kita sedang berkonfik dengan suami, ingat-ingatlah bahwa kita tidak perlu mencari siapa yang kalah dan siapa yang menang, tapi yuk kita sama-sama berjuang mengalahkan setan (teorinya mah gampang, tapi praktiknya masyaAllah).

Lalu, bagaimana jika ternyata justru pasangan kita nggak sejalan, bahkan melakukan hal-hal yang secara nyata mendzalimi kita lahir batin? KDRT atau selingkuh misalnya?

Hal pertama yang kita lakukan adalah kembalikan semuanya kepada Allah, minta petunjuk Allah terlebih dahulu, mohon agar pasangan kita dibukakan hatinya, kalau nyatanya hati dan jiwa ini sudah tidak sanggup menanggungnya bagaimana? Jujur aku nggak berani jawab karena aku nggak paham tentang fiqh perceraian, intinya Allah tidak melarang perceraian, namun Allah membencinya, maka pikirkan semuanya secara baik-baik sembari memohon petunjuk dari Allah.

Selain berdoa, ikhtiar lain yang bisa dilakukan diantaranya mungkin mengkomunikasikannya dengan pasangan dan juga pihak lain yang sekiranya bisa membantu mencarikan jalan keluar dan solusi dari permasalahan tersebut.

Wallahualam
Mudah-mudahan tulisanku yang sederhana ini bisa bermanfaat, minimal untuk diriku sendiri yang hingga kini masih terus berjuang dalam medan ibadah yang paling indah ini, aku berdoa semoga Allah limpahkan keberkahan bagi keluarga kecil kami, dan Allah pertemuan lagi di surga-Nya kelak.

Setiap pernikahan pasti memiliki ujiannya masing-masing, ada yang diuji dengan sakit, kondisi ekonomi, mertua, anak, bahkan pasangannya sendiri, namun yakinlah bahwa jika kita menjadikan Allah sebagai tujuan dan sandaran utama, maka insyaallah segalanya akan terasa lebih ringan.




0 Comments