Tentang Harapan dan Caraku Memaknai Usia 30 Tahun


Duh nggak kerasa sebentar lagi usiaku masuk kepala 3, yang pertama kali muncul di benak soal rentang usia 30-an adalah soal kematangan, kedewasaan berpikir dan bertindak, juga soal jatah usia yang semakin berkurang.

Entah kenapa menjelang usia ini, aku jadi lebih sering galau dan merenungkan banyak hal, (disamping merisaukan masalah penuaan kulit dan wajah tentunya hehe). Ya, nggak tau kenapa aku jadi lebih sering menepi dan berdialog dengan diri sendiri tentang banyak hal.

Aku jadi ingat tentang salahsatu postingan dari Ustaz Hari Santosa yang intinya saat usia kita menjelang 30 atau 40 kita akan sering mengalami rasa galau, gelisah dan semua itu tidak hilang dan terobati hanya dengan traveling, nonton film hollywood, mengerjakan hobi, dan sebagainya. Karena, sadar nggak sih, kalo itu semua sebenarnya hanya "pelarian" semata dari rasa gelisah yang dirasakan.

Menurut beliau, kegelisahan dan Kegaluan itu sesungguhnya Allah sedang bicara kepada kita. Begitupula fitrah dan jiwa kita sedang "menjerit dan meminta haknya agar bermakna di dunia". 

Seolah Jiwa kita berkata:
"Apa hidup cuma begini ini tanpa makna? Rutinitas menjemukan, dunia yang tak ada habisnya, makin dikejar makin dahaga dan hampa.
 Sampai kapan menjalani hidup tanpa makna walau segunung prestasi dan kompetensi? 
Apa hidup sekedar mengumpulkan pahala dan dosa?
 Apa hidup tentang banyak sedekah berupa harta atau ibadah tanpa makna? 
Apa hidup hanya menjadi orang baik baik dan bermanfaat belaka? Lalu manfaat itu untuk siapa, orientasinya kemana dan dengan apa? 
Lalu apa sesungguhnya maksud hidupmu, apa maknamu di dunia, apa tugas langitmu di dunia ini, apa makna bahagia sesungguhnya, apa yang akan diperjuangkan sampai akhir hidup, apa yang akan dipertanggunggjawabkan kelak?

Maka, ketika perasaan-perasaan itu datang, yuk mungkin inilah saatnya kita menepi sejenak untuk kemudian menata kembali langkah kita di esok hari.


Tentang Penerimaan Diri



Alhamdulillah, mungkin karena usia yang semakin bertambah, membuatku kini lebih bisa berdamai dengan banyak hal.

Aku sadar, nggak semua hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan.
Aku sadar, nggak semua orang bisa memahami kita 100% 
Aku sadar, nggak semua hal berjalan sesuai rencana 
Aku sadar, nggak semua hal bisa kita atur sedemikian rupa
Dan lain-lain.

Ya intinya, aku lebih bisa menerima diri apa adanya, nggak lagi memiliki ekspektasi yang banyak terhadap diri di luar kemampuan (dan keadaan) yang aku miliki.

Aku nggak akan memaksa diri untuk jadi seperti orang lain, aku nggak lagi memaksakan kakiku untuk mengenakan sepatu orang lain.

Contohnya misalnya, mungkin karena aku anak pertama, kemudian orangtua tentunya menggantungkan banyak harapan kepadaku akhirnya nggak sadar aku terbentuk jadi pribadi yang perfeksionis dan idealis, yang itupun merembet hingga saat ini. Misal, dalam hal menjaga kesehatan anak (mungkin juga faktor dulu aku kuliah kesehatan) jadinya aku agak lebay menjaga gimana caranya supaya anak aku nggak sakit. Aku pernah stress berat gara-gara menginap di rumah kerabat, dan disitu ada seorang bapak yg batuk terus menerus, aku khawatir si bapak tersebut sakit TBC dan menular ke anak-anakku karena disana kami menginap hampir seminggu.

Selain itu, aku juga perfeksionis dalam memasak, menjaga kerapihan rumah, menjaga berat badan anak, teori parenting dll. Duh ribet lah pokoknya hahaha. Yang kesemua itu akhirnya membuat aku nggak bisa menikmati peranku sebagai ibu, makanya sering galau dan uring-uringan nggak jelas.

Belum lagi soal komentar orang lain tentang keputusanku menjadi ibu rumahtangga yang terus berdenging nyaring di telingaku. Kemudian melihat teman-temanku yang kini sudah sukses dalam karir, lanjut kuliah, dapat penghargaan ini itu, ikut seminar bergengsi, dan lain-lain. 

Sedangkan aku, hanya diam terpaku diantara tumpukan baju, piring kotor, diiringi rengekan dua bocah kecilku.

Dulu hal-hal tersebut sering membuatku patah semangat, minder dan malas bertemu orang lain. Namun kini perasaan-perasaan tersebut sudah semakin jarang aku rasakan.

Aku sadar, ada banyak hal yang kita tidak mungkin mengelaknya. Ya, takdir dan jalan hidup setiap orang berbeda-beda dan itu mutlak hak Allah. Lalu tugas kita apa? , tinggal menjalankannya dengan ikhlas, lakukan yang terbaik, biar Allah saja yang menilai, pokoknya fokus saja dengan diri sendiri, lalu ingat kembali tentang tujuan-tujuan dan visi-misi hidup yang ingin kita raih.


Tenang vs Bahagia


Kalau disuruh milih, antara perasaan tenang dan bahagia, kalian pilih yang mana?

Dulu ada seorang adik kelas yang membuat status di Facebook yang intinya, sebetulnya yang kita cari itu bukan rasa bahagia, tapi rasa "tenang". Aku lupa redaksinya gimana, intinya aku ngerasa "oh iya yah" pernah nggak sih kita merasa bahagia terhadap sesuatu tapi hati kok nggak tenang ya.

Mungkin memang betul ayat Al-Qur'an yang menyebutkan 

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram " (Ar-Rad : 28).

Tenang. Sebuah perasaan yang bagi aku mahal, priceless. Mungkin sebagian orang bisa membeli rasa bahagia, tapi nggak dengan rasa tenang, kalian paham kan maksud aku.

Untuk itulah di usia-usia ini, aku lebih mencari rasa tenang dibandingkan bahagia. Jadi aku insyaallah akan memprioritaskan hal-hal yang membuat aku tenang dibandingkan bahagia.

Maksudnya gimana?, Ya, kini sebelum melakukan suatu hal atau memilih sebuah keputusan, aku akan berpikir kira-kira ini akan bikin hidupku tenang nggak sih, atau malah bikin hidupku "sesak".
Maka untuk menjawabnya, pertama-tama aku harus bertanya, kira-kira kalau aku melakukannya, Allah bakal ridho nggak ya?. 
Pokoknya kembalikan semuanya ke Allah, maka insyaallah kita akan dapat jawabannya.

Lalu, salah dong berarti kalo misalnya yang kita cari adalah bahagia?.
Wallahualam, tapi intinya, bagiku rasa tenang, tenteram, dan nyaman itu dekat kok dengan kebahagiaan. Udah gitu kadang kita bahagia, tapi kok ternyata hati kita nggak tenang ya, kayak ada ganjelan atau gimana gitu.

Lagian, dunia ini kan  semu dan sesaat, memang ada kalanya kita bahagia, tapi kalo hanya itu yang jadi patokan, kita bakal capek, apalagi kalo bahagia yang kita cari itu adalah hal-hal yang nggak disukai Allah, maka jatuhnya ya, rasa bahagia tapi ya udah gitu ajah. Bahagia tok' titik. Soal rasa tenang dan tenteram, wallahualam.

Bahagia yang sejati dan abadi itu ya nanti, di surga :)


Lalu, Setelah ini Mau Kemana?


Pernah suatu sore aku berbincang sama suami.

"Gatau kenapa, kalau udah dengerin ceramah ustaz tuh rasanya hati lebih tenang ya, trus kita jadi nggak punya banyak keinginan-keinginan hidup".

Lalu suamiku menjawab (intinya)
"Eh kok sama sih, aku juga gitu, jadi disadarkan aja kalo kita tuh di dunia sebentar banget, trus ya dunia itu memang semu, kita mau cari apa sih, kita kan disini cuma mampir ya" 

Menjelang usia 30, aku jadi sering mikir tentang kematian, apalagi semenjak ditinggal bapak pada 2015 lalu. Aku semakin sadar bahwa ajal itu pasti, tanpa kita tahu kapan datangnya.

Inget kata ustaz Firanda bahwa kematian itu pasti akan datang meskipun orang tersebut hanya memiliki kesiapan 1%. Maksudnya ajal itu datang tanpa harus menunggu kita siap.

Jadi, sesungguhnya usia 30 harusnya membuat aku jadi semakin bersiap menghadapi kematian, karena tentu jatah usia semakin berkurang.

Lalu apa hikmahnya, kita harus lebih berhati-hati dalam banyak hal. Berhati-hati dalam menggunakan waktu, berhati-hati dalam mengambil keputusan, berhati-hati dalam bersikap dll.

Selain itu, kalau dulu setiap awal tahun resolusiku kebanyakan adalah tentang "dunia", tentang pencapaian-pencapaian hidup, nggak tau kenapa, tahun ini aku nggak punya resolusi banyak tentang itu.

Salahsatu eh, salahdua resolusiku tahun ini adalah aku ingin fokus dengan peranku sebagai rabbatul bayt dan madrasatul ula (karena kan yang pertama kali ditanya di akhirat adalah tentang hal tersebut), dan juga anakku yang pertama sebentar lagi mulai masik sekolah, untuk itu aku mulai mengurangi aktivitasku diluar itu. Selain itu aku ingin aktif lagi dateng ke kajian-kajian ustaz.

Kalo resolusi lain pasti ada, misalnya aku ingin serius belajar baking, nulis blog dengan hal-hal yang bermanfaat misalnya. Tapi kedua resolusi itu nggak sekuat yg resolusi pertama tadi.

Jadi intinya, menjelang usia 30 ini insyaallah aku bisa lebih paham prioritasku apa dan bagaimana cara agar aku bisa optimal menjalankannya.

Soal prioritas itu sebetulnya balik lagi sih ke tujuan-tujuan dan visi-misi hidup yang ingin kita raih.

O ya satu lagi, aku juga jadi lebih menikmati apa yang kini aku jalani, kebersamaan dengan orang-orang tersayang, terutama keluarga, karena kita nggak akan tau sampai kapan kita bisa bareng-bareng di dunia, hix..hix. 

Jujur masih banyak unek-unek lain yang ingin aku tulis, tapi waktunya terbatas, mudah-mudahan bisa sharing lagi tentang hal-hal kaya gini, tentang perenungan-perenungan hidup biar jadi hikmah tersendiri buat aku, karena jujur ya, kadang aku belajar justru lewat apa yang aku tulis. Aku jadi paham karena aku menuliskannya, gitu lah intinya hehe.

Mohon maaf kalau ada kesalahan, atau ada yang kurang berkenan di hati, karena ini hanya sebatas unek-unek dan pesan untuk diri sendiri yang semoga bisa juga bermanfaat untuk orang lain yang membacanya.

Doain aku ya, mudah-mudahan semakin bertambah kebaikan dan keberkahan setiap harinya, usia bertambah, maka segala sesuatunya pun harus bertambah baik dong. Yuk ah semangaat, kita sama-sama saling mendoakan :).





0 Comments