Karena Menulis Tak Cukup dengan Hati (Sebait Rasa dan Kegelisahan-kegelisahanku dalam Menulis)


Ilustrasi menulis. Foto : unsplash.com


Bismilah

Beberapa hari ini aku dapat banyak sekali hikmah, salahsatunya soal bidang yang beberapa tahun kebelakang ini sedang aku tekuni.

Sebetulnya sudah sejak lama aku merenungi tentang hal ini, tentang mengapa aku menulis dan hal-hal apa yang sebaiknya aku tulis lalu bagaimana target dan pencapaian-pencapaian yang ingin aku raih dari menulis.

Jujur, nggak sekali dua kali aku memutuskan untuk berhenti menulis. Bukan bukan karena aku bosan, nggak ada ide, atau apalah namanya. Bukan, bukan itu alasanku.

Aku takut kalau dengan menulis justru akan menambah beban hisabku di akhirat. Karena aku sadar, profesi atau kegiatan apapun yang kita pilih pasti akan dipertanggungjawabkan kelak.

Nggak hanya menulis di blog, media online, atau buku, bahkan apa yang kita tulis dan kita share di sosmed pun kelak akan Allah tanya nanti.

Ketika kita menuliskan opini, pendapat tentang sesuatu, apalagi saat ini banyak diantara kita yang ikut berpendapat tentang sesuatu yang sedang viral, kemudian opini kita tersebut dilihat oleh banyak orang (terlebih yang followersnya banyak), maka kalau apa yang kita sampaikan itu benar, Alhamdulillah, jadi ladang pahala, namun jika salah bahkan menjerumuskan maka duh, jangan sampai di akhirat nanti menambah beban dosa kita.

Karena beberapa hari ini aku agak kurang sreg dengan salahsatu tokoh agama yang memberikan opini kurang tepat terhadap satu hal yang sedang viral, dan hal tersebut jelas-jelas dilarang dalam Islam, padahal followersnya jutaan, MasyaAllah semoga Allah berikan hidayah terhadap beliau dan juga aku tentunya, yang masih miskin amal dan ilmu ini hixx.

Tanpa bermaksud membandingkan, beberapa hari yang lalu aku juga nggak sengaja baca salahsatu postingan temanku di FB, dia seorang penulis yang naskahnya siap terbit , namun memutuskan untuk "menyimpannya" hingga akhir hayat, karena takut Allah nggak ridha dengan tulisannya, MasyaAllah. Padahal aku tau, tulisan-tulisannya tuh keren banget. MasyaAllah, semoga Allah senantiasa menjaga beliau.

Dari situ aku berpikir, Alhamdulillah hari ini aku sudah diingatkan kembali tentang niat dan caraku menulis, apakah sudah membuat Allah ridha?.

Mungkin jika diurai, pertanyaan yang harus aku jawab seperti ini :
  • Apakah niatku menulis itu ikhlas karena Allah?
  • Apakah Allah akan ridha dengan tulisanku?
  • Apakah apa yang aku tulis ini sudah benar dan kredibel?
  • Apakah jika aku menulis itu akan melalaikan kewajibanku sebagai hamba Allah, istri, dam ibu?
Jawaban untuk poin pertama mungkin aku harus terus berlatih, lalu bolehkah menulis karena niat yang lain? Misalnya untuk menambah penghasilan dan lain sebagainya?. Wallahualam, menurutku itu jawabannya ada di poin 2,3, dan 4. Silakan jawab di hati kita masing-masing :).

Kegelisahan-kegelisahan itulah yang akhirnya membawaku pada sebuah ikrar di hati bahwa insyaAllah aku akan menuliskan sesuatu yang aku yakini kebenarannya saja, karena kalau yang aku tulis ternyata salah dan itu diikuti oleh banyak orang maka naudzubillah jangan sampai itu menambah beban dosaku yang sudah menggunung ini, jangan sampai jadi dosa jariyah untukku.

That's why sejak dulu aku selalu menghindari lomba menulis yang ada unsur dosanya seperti riba, musik, atau hal-hal lain yang bertentangan dengan islam, bahkan sampai saat ini aku maju mundur untuk pasang adsense di blog-ku karena takut ada iklan yang aneh-aneh, nggak sedikit aku nemuin iklan di web/blog yang berisi hal-hal yang diharamkan seperti judi online, aurat wanita, dan lain-lain, takut kecipratan dosanya, karena iklannya ikut nongkrong di blog kita, yah ini mah buat kehati-hatian aja.

Lalu, aku harus nulis apa dong? Hehe aku pun bingung, kalo lomba-lomba aku rehat dulu kayanya soalnya nggak punya waktu, lagi ingin fokus sama keluarga, apalagi anakku sebentar lagi masuk sekolah.

Ya intinya aku hanya ingin menulis sesuatu yang BENAR dan BERMANFAAT, dalam artian aku nggak mau nulis sesuatu yang aku nggak yakini kebenarannya, sesimpel itu aja sih. 

Mohon doanya ya, semoga aku selalu diluruskan niatnya juga ditunjukkan sama Allah mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.

Ada yang bilang, menulislah dengan hati, namun ternyata itu nggak cukup. Menulislah dengan ilmu, dan itu penting :)


Salam Hangat, 


Meila Hani


Catatan : Tulisan ini dibuat tujuan utamanya untuk mengingatkan diri sendiri (juga sebagai self healing), jadi no debat dan no baper-baper ya, hehe.



2 Comments

  1. balik lg ya mbak, buat apa sih nulis huhu ini tamparan banget buat aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, jadi pengingat juga buat diri saya sendiri, btw salam kenal Mbak, makasih sudah mampir :)

      Delete