Kebaikan yang Tersaji Diantara Lezatnya Aroma Masakan Ibu


Makanan, berbicara soal makanan, katanya ada dua tipe manusia di dunia. Ada yang menganggap semua makanan  intinya sama saja, membuat perut kenyang. Ada juga yang menganggap makanan seperti kata penulis Mbak Winda Krisnadeva,

"Makanan, bukan hanya masakan yang berakhir di perutmu, melainkan sebuah petualangan yang harus dinikmati dan dihargai"

Kalau aku, mungkin termasuk tipe yang kedua, sehingga aku senang sekali memanjakan lidah, berpetualang mencoba berbagai makanan baru.

Tapi, dari semua makanan yang pernah aku coba, tetap, masakan ibuku adalah juaranya. Ya, ibuku jago memasak, dan ternyata tidak hanya aku saja yang mengakuinya, banyak orang yang sepakat bahwa masakan ibuku sangat enak.

Bukan, ibuku bukan penjual makanan atau punya usaha katering. Ibuku hanya seorang ibu pada umumnya yang senang beraktivitas di dapur.

Yang istimewa dari ibu, ia sering sekali masak dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada orang lain, itulah mengapa, banyak orang di sekitarnya yang pernah mencicipi masakan ibu dan sepakat bahwa masakan ibu sangat enak.

Dulu, sewaktu kami masih tinggal di rumah dinas yang lokasinya berada di pinggir jalan, menjelang sore, banyak pedagang makanan yang mulai mendirikan tenda untuk berjualan.

Mayoritas pedagang tersebut adalah perantau yang tinggal jauh dari keluarganya. Hanya sepetak kamar kos dengan fasilitas seadanya yang menjadi tempat mereka beristirahat melepas lelah.

Ilustrasi pedagang makanan kaki lima. Foto : www.datdu.com

Sering sekali aku lihat, ibu membawa beberapa bungkusan yang dibagikan kepada para pedagang-pedagang tersebut. Isinya, apalagi kalau bukan sayur dan lauk pauknya.

Bahkan, saat aku menggelar resepsi pernikahan, meskipun kami menyewa katering, ibu sengaja menyiapkan beberapa bungkusan makanan untuk diberikan kepada mereka.

Pernah suatu pagi, ku dengar riuh suara alat dapur saling beradu, ibu sepertinya sibuk sekali. Ternyata ibu sedang membuat mie goreng jawa, aromanya begitu lezat menggoda.

Ibu lalu bercerita bahwa makanan ini sengaja ibu buat dalam porsi yang banyak, untuk diberikan kepada teman-teman di sekolah tempat ibu mengajar, terutama untuk yang masih single dan harus indekos, kasihan katanya.

Ya, di sekolah, ibu dikenal sebagai juru masak. Kalau ada acara botram (makan bersama), ibu selalu didaulat menjadi kokinya. Semua teman-teman ibu pasti pernah mencicipi masakan ibu, terlebih, jika membawa bekal ke sekolah, ibu biasanya melebihkan porsi sayur dan lauk-pauknya agar bisa dibagikan kepada teman-temannya.

Suatu hari ibu cerita, ada teman kerjanya, sebut saja namanya Pak Tio (nama sengaja aku samarkan). Hampir tiap hari ibu melihat Pak Tio hanya membawa nasi dan telor dadar sebagai menu bekalnya.

Pernah suatu ketika Pak Tio dimintai uang iuran untuk acara makan-makan yang rutin diadakan di sekolah, namun dengan menyesal Pak Tio berkata "Duh, maaf uang saya cuma cukup untuk beli bensin pulang".

Ya, kehidupan sebagai guru honorer  yang harus menghidupi istri dan ketiga anaknya, memaksanya untuk prihatin dalam soal makanan, seadanya saja, yang penting kenyang sehingga bisa beribadah dan mencari nafkah

Hal itulah yang membuat ibu sering sekali memasak sayur dan lauk pauk untuk diberikan kepada Pak Tio dan keluarganya di rumah.

Beberapa bulan yang lalu, kudengar kabar Pak Tio meninggal dunia karena sakit. Tapi, hingga kini ibu masih sering mengirimkan masakan untuk istri dan anak-anak almarhum Pak Tio.

Tak itu, Ibu juga  sering membuatkan masakan lezat untuk keponakannya. Ya, setiap bulan bibiku berkunjung ke rumah. Pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga serta suami yang telah tiada, membuat mereka jarang sekali mencicipi makanan enak. Untuk itu, sebelum mereka pulang, ibu selalu membawakan bekal ayam yang telah diungkep dalam jumlah yang banyak dan berbagai makanan lain, selain bekal dalam bentuk uang tentunya.

Di lain waktu, ibu bercerita, sedih sekali melihat penjaga sekolah yang makan hanya dengan nasi dan sambal.

Mungkin itulah beberapa alasan mengapa ibu sering sekali memasak dalam jumlah banyak, untuk diberikan kepada orang lain.

Ibuku dari dulu memang begitu, paling tidak tega melihat orang lain makan dengan lauk seadanya 

Tidak hanya kepada yang dikenal saja, ibu juga sering memberikan makanan kepada pemulung, pengemis, pedagang yang lewat di depan rumah atau yang ibu temui di jalan.

Ilustrasi ibu pemulung & anaknya. Foto : www.jurnas.com

Pernah ibu bercerita bahwa ia baru saja memberikan sayur gudeg kepada ibu pemulung dan anaknya yang masih kecil. Keduanya tampak girang sekali, meski hanya diberi seplastik makanan.




Menikmati Petualangan Rasa Bersama Ibu


Layaknya makanan, aku dan ibu sudah mencicipi banyak rasa dalam hidup. Ada asam, manis, pedas, bahkan pahit sekalipun, pernah kami alami bersama.

Seperti yang kuceritakan tadi, ibuku adalah seorang guru honorer. Hidup kami sangat sederhana.

Berbekal gaji pensiun dari almarhum bapak yang dulu bekerja sebagai TNI-AD (yang kini harus dipotong setengahnya karena bapak sudah meninggal dunia), ditambah gaji guru honorer yang tidak begitu besar terkadang membuat ibu harus mengencangkan ikat pinggang, terlebih adikku kini harus kuliah. Namun, semua itu tak menyurutkan niat ibu untuk terus berbagi.

Aku ingat, dulu, tepatnya 6 tahun lalu, tak sengaja kutemukan slip gaji ibu di lemari. Melihat jumlahnya yang kurang dari 300 ribu mataku panas seketika, aku jadi paham, mengapa saat aku kuliah dulu, ibu rela mengajar di 3 sekolah sekaligus. Sambil berlinang air mata, aku janji, aku harus membahagiakan ibu hingga akhir hayatnya.
Ya, aku tidak tahu bawah ternyata gaji guru honorer sekecil itu, nominalnya sangat jauh dibawah UMR.

Pernah suatu ketika keluarga kami ditipu orang sehingga terpaksa harus menjual rumah satu-satunya yang akan kami tempati kelak setelah bapak pensiun dan diharuskan pindah dari rumah dinas.

Dampak lainnya, terpaksa kami harus hidup prihatin selama bertahun-tahun. Aku ingat, saat SMA, aku sering tidak membawa uang bekal. Saat kuliah dan indekos, terpaksa sering aku berhutang pada teman dan ibu kos yang berjualan makanan.

Namun, dari semua kisah, yang paling menyakitkan adalah saat ibu tidak mau ke dapur lagi . "Ibu sedih kalau mau masak, ingat bapak" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa hari setelah kematian bapak, seumur hidup baru kulihat ibu menangis sesering ini. Setiap melihat sesuatu, yang diingat adalah bapak. Jujur, hatiku hancur melihatnya, tapi aku harus kuat di depan ibu.

Bapakku (almarhum), selalu bilang bahwa masakan ibu itu enak-enak. Bapak selalu makan dengan lahap, apapun yang ibu masak.

Kini, setelah 4 tahun kepergian bapak, perlahan ibu mulai bangkit. Satu hal yang tidak pernah hilang darinya, binar mata yang selalu sama ketika memasak. Semangat berbagi yang tak pernah hilang, sesulit apapun kondisi yang ia alami.
Terlebih saat kondisi pandemik seperti ini, ibu bercerita, pernah ia sedih sekali melihat tukang bakso cuanki yang lewat di depan rumahnya. Ia perhatikan dari ujung ke ujung tak satupun yang membeli, dengan wajah lemas, pedagang yang ringkih itu menepi di pojokan sembari menatap sedih dagangannya.

Melihat itu, segera ibu mengambil beberapa kilogram beras dan telur untuk diberikan kepada si pedagang cuanki.


"Ibu mah kalau dikasih sembako, nggak pernah dipakai sendiri, selalu dibagikan lagi" ujar ibu suatu hari.

Ya, ibuku memang seperti itu, ringan dalam memberi, tak hanya makanan saja, ia juga sering memberikan beberapa lembar rupiah untuk tukang bersih-bersih sekolah, pedagang, tukang sampah juga pemulung yang lewat di depan rumah atau yang tak sengaja ia temui di jalan.


Karena Berbagi Tak Akan Pernah Rugi


Sejak dulu aku tahu, ibu jarang sekali sakit. Kalaupun sakit hanya yang ringan-ringan saja, bahkan di usianya yang 55 tahun ini, tak satupun keluhan ibu rasakan layaknya orang  menjelang usia tua.

Wajah yang selalu bahagia ditambah fisik yang masih enerjik membuat ibu sering disangka masih berusia 40-an, bahkan sering dipanggil "Mbak" oleh orang lain yang tak dikenal.

Meski sudah kepala 5, ibu masih tetap mengajar walaupun harus mengendarai motor sendiri, menempuh Cimahi-Bandung yang jaraknya belasan kilo, Alhamdulillah Allah masih beri ibu kesehatan dan fisik yang prima.

Sering aku menyuruhnya berhenti mengajar, namun ibu kekeuh, karena masih semangat katanya. 

Ada satu hal lagi yang menurutku mungkin ini adalah berkah dan  balasan dari Allah atas kebaikan-kebaikan ibu selama ini.

Alhamdulillah kini Allah anugerahkan aku suami yang begitu baik dan perhatian pada mertuanya.

Suamiku sering sekali memberi makanan atau bahan pokok untuk ibu, serta rutin menyisihkan gajinya untuk biaya ibu sehari-hari. Pokoknya kalau ada rezeki sedikit, ia selalu ingat ibu.

Bahkan, salahsatu rumah yang kami beli, yang seharusnya dikontrakkan kepada orang lain, kini ditempati oleh ibu. "Kasihan ibu sudah tua, nggak ada bapak, kalau disini kan dekat dengan anak-cucu, kita juga jadi lebih tenang dan bisa menjaga ibu dengan baik". Ucapan tulus suamiku tersebut membuatku tak henti mengucap syukur.


Kebaikan hati ibu, atas izin Allah, mempertemukannya dengan banyak hal baik, salahsatunya suamiku, menantunya yang juga senang melakukan hal-hal baik untuk orang lain.


3 Hikmah yang Kupetik dari Cerita Ibu


1. Menebar Kebaikan Bisa Dimulai dengan Cara yang Sederhana



Kebiasaan berbagi makanan mungkin sudah agak jarang ditemui, terlebih jika kita tinggal di kota-kota besar atau di komplek perumahan yang mayoritas orang lebih banyak sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kalau di desa, mungkin tradisi antar-mengantar piring atau rantang masih banyak dijumpai.

Padahal, Rasul menganjurkan agar kita memperbanyak kuah saat memasak supaya bisa dibagikan kepada orang lain. Karena mungkin saja, disekitar kita ada orang yang kekurangan atau bahkan tidak punya bahan makanan.

2. Menebar Kebaikan Bisa dilakukan Melalui Hobi atau Hal-hal yang Kita Suka



Karena ibu, aku jadi belajar bahwa setiap orang bisa melakukan kebaikan melalui hal-hal yang menjadi hobi atau kesenangannya, kalau kita senang memasak, kita bisa membagikan masakan seperti yang ibu lakukan.

Atau kalau kita senang menulis, kita bisa membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat di sosial media, atau bisa membuka kelas menulis gratis. 

3. Menebar Kebaikan, Tak Perlu Menunggu Lapang

Ibu, meski hidupnya sederhana, bahkan pernah ditimpa musibah yang cukup berat, namun ia selalu menyisakan ruang untuk berbagi kepada siapa saja, baik kepada yang ia kenal maupun tidak.


Rasulullah berkata "Tidaklah harta seseorang berkurang karena sedekah".(HR.Tirmidzi)

Menebar Kebaikan Bersama Dompet Dhuafa

Bak dihantam pukulan berat, wabah covid-19 begitu membawa dampak yang berat dan signifikan bagi hampir seluruh manusia di dunia. 

Para tenaga medis harus bekerja ekstra di rumah sakit, sekolah-sekolah diliburkan, sebagian besar pegawai harus bekerja dari rumah. Itu belum termasuk dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Ah betapa hati teriris melihat banyaknya pedagang kecil yang terpaku melihat dagangannya yang tak laku-laku, juga para pengusaha yang terpaksa menjual asetnya demi menggaji karyawannya. Ya, hampir semua orang terkena dampaknya.

Sungguh memilukan, maka disinilah butuh peran besar kita untuk terlibat membantu sesama. Bukankah musibah ini sekaligus ajang untuk mengasah kepekaan sosial kita.

Seperti halnya ibu, yang di masa pandemi ini  masih terus semangat untuk berbagi, Dompet Dhuafa  juga turut menjadi garda terdepan, membantu pemerintah untuk mencegah dan mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan akibat covid-19 ini.

 
 
Beberapa program yang dilakukan diantaranya pembagian APD kepada tenaga medis, edukasi dan pemberian hygiene kit bagi kelompok rentan, penyemprotan desinfektan, pemberian sembako kepada kaum dhuafa, serta masih banyak program lainnya.

O ya, berbicara tentang Dompet Dhuafa, aku jadi ingat, pada 2008 lalu, aku pernah menjadi relawan dalam kegiatan pengobatan gratis. Kala itu, Dompet Dhuafa mengajak beberapa mahasiswa di kampusku yang merupakan kampus kesehatan untuk turut jadi relawan, kala itu kami bertugas untuk memeriksa golongan darah. Seru dan berkesan sekali acaranya, jadi semakin yakin bahwa Dompet Dhuafa program-programnya memiliki jangkauan yang luas serta tepat sasaran.

Banyak sekali program-program lain yang dilakukan Dompet Dhuafa, diantaranya dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sosial.

Program-program Dompet Dhuafa,sumber : www.dompetdhuafa.org

 

Dompet Dhuafa merupakan Lembaga Amil Zakat milik masyarakat, berdiri sejak tahun 1993, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan.

Nah, untuk kita yang ingin ikut berpartisipasi untuk hadirkan Kebaikan Berbagi bersama Dompet Dhuafa, kita bisa ikut berdonasi secara online melalui portal donasi online Dompet Dhuafa di donasi.dompetdhuafa.org. Caranya mudah, kita tinggal mengisi kolom yang tersedia, yakni pilihan donasi dan profil donatur, selanjutnya tinggal kita pilih metode pembayarannya. 

Jadi, meskipun #dirumahaja, kita tetap bisa menebar banyak kebaikan, salahsatunya dengan berdonasi di Dompet Dhuafa.

Portal Donasi Online Dompet Dhuafa


Menemukan Makna Hidup Lewat Berbagi & Menebar Kebaikan

Di usiaku yang hampir menginjak 30 tahun, sering sekali aku bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang aku cari dalam hidup?, pencapaian terbesar apa yang ingin aku raih?

Ketika melihat ibu, rasanya kok ringan sekali ya, untuk berbagi kepada orang lain. Kemudian di masa pandemi ini, kulihat juga bagaimana antusiasme masyarakat yang berbondong-bondong  memberikan donasi kepada yang membutuhkan, aku kaget juga melihat deretan angka hasil donasi di website Dompet Dhuafa, betapa masih banyak orang dermawan di sekitar kita.

Dari situ, aku jadi paham bahwa hidup ini hakikatnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat), maka bersyukurlah bagi kita yang hatinya selalu tergerak untuk berbuat baik. Karena, ladang untuk menanam benih-benih kebaikan, nyatanya berserakan di sekitar kita.

Sedikit demi sedikit, aku mulai mengikuti kebiasaan baik ibu, memberikan sedikit rezeki kepada orang lain, salahsatunya lewat makanan, karena aku juga senang memasak dan membuat kue


Bagiku, ibu adalah sosok yang menginsipirasi. Seorang yang hidupnya sederhana, namun selalu punya cara istimewa untuk membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Ya, sejatinya banyak sekali cara untuk menebar kebaikan, salahsatunya bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti yang ibu lakukan, atau ikut berdonasi kepada mereka yang membutuhkan. Tak perlu menunggu lapang, karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bisa berbuat baik kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun.




“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

58 Comments

  1. Ibu, sejuta kebaikan ada ada pada dirimu. Lembut hatimu bahkan tak tega melihat orang lain makan seadanya. Masyaallah

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, mudah-mudahan aku juga hatinya selalu dilembutkan, supaya ringan untuk berbuat baik kepada orang lain di sekitar kita.

      Delete
  2. Masya Allah, kagum dengan apa yang telah dilakukan ibu mba Mei. Semoga apa yang dilakukannya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Inspirasi untuk berbagi, terlebih di saat wabah seperti sekarang ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Bund, saat wabah seperti ini sekaligus jadi ajang untuk mengasah kepekaan sosial kita ya.

      Delete
  3. Aku mbrebes Mili bacanya
    Selalu terharu kalau membahas orang tua, terutama Ibu

    Kisah ini sangat menginspirasi
    Semoga aku pun bisa meniru kebaikannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, iya Mbak, aku juga nulisnya ngalir begitu aja, berkaca-kaca kalo cerita tentang ibu.

      Delete
  4. Ya Allah, Ibu yg bisa jadi Panutan, menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa untuk berbagi tidak harus menunggu kaya, dalam keadaan apapun kita bisa berbagi sesuai dg kemampuan :)

    Sehat terus Ibunya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  5. Jadi ingat ibuku. Betul Mba. Masakan ibu itu paling T O P deh. Sangat bermanfaat sharingnya ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, makanan ibu memang paling enak ya, selalu dikenang dan dikangenin sama anak-anaknya

      Delete
  6. MasyaAllah, luar biasa dan mulia sekali ibunya mba Mei. Semoga ibunda mba Mei tetap diberikan kesehatan dan keberkahan. Semoga kita bisa mencontoh semangat berbagi dan melayani dari ibunya mba Mei dan dompet dhuafa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih doanya Mbak Litha:), mudah-mudahan Mbak Litha sekeluarga juga selalu sehat dan diberikan keberkahan aamin.

      Delete
  7. Subhanallah mulia sekali hati seorang ibu seperti ini jadi ingat mamah yang melakukan hal serupa

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, semoga kita bisa mencontoh kebaikan-kebaikan beliau ya Miss

      Delete
  8. Berbagi ga harus menunggu kaya. Lewat hobi memasak pun bisa seperti yg dilakukan oleh ibunya Mbak Mei. Wah, ini jadi menginspirasi saya untuk bisa berbagi dengan apa yg ada pada saya. Nggak perlu nunggu udah kelebihan ya. Makasih sharingnya Mbak Mei :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, berbagi bisa dilakukan dengan cara yang sederhana juga bisa melalui hobi atau kegemaran, salahsatunya dengan memasak, karena banyak orang yang setiap hari makan dengan nasi dan lauk seadanya, ibaratnya punya beras aja udah Alhamdulillah.

      Delete
  9. Menginpirasi sekali kak. Semoga aku kelak bisa menjadi seorang ibu, yang berhati lembut seperti itu. Masha Allah

    ReplyDelete
  10. Salam ya Mbak Mei sama Ibu. Aku jadi inget sama ibuku juga. Hobinya sama masak juga, dan gak pelit juga suka bagi2 masakan. Sehat terus dan semangat ya Bu ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah masyaAllah mudah-mudahan ibunya juga sehat terus ya Mbak :)

      Delete
  11. masya Allah terimakasih telah menginspirasi

    ReplyDelete
  12. Sosok perempuan yang menginspirasi. Semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. Begitu pun dengan sosok ibuku. Dia juga suka masak dalam porsi banyak. Ya nggak banyak-banyak amat sih, tapi lebih dari yang keluarga kami butuhkan. Itu untuk dibagi-bagi ke tetangga kanan kiri depan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, mudah-mudahan kita bisa mencontoh beliau ya

      Delete
  14. mbaaa, aku jadi muhasabah banyaak. pengen sekali bisa seringan ibu buat berbagi kaya gitu. semoga Allah rahmati selalu ibu, mba, dan keluarga :)

    ReplyDelete
  15. MasyaAllah. Nangis saya bacanya, mbak. Jadi ingat ibu dikampung. Semoga ibu kita selalu sehat dan Rizki ya dicukupkan ya, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah.. makasih atas doanya Mbak.. mudah-mudahan ibunya juga sehat selalu ya Mbak

      Delete
  16. Masya Allah, mulianya hati ibu mba. Walau pendapatan guru honorer tak banyak, masih semangat bersedekah

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah.. mudah-mudahan saya pun bisa ikut semangat bersedekah

      Delete
  17. Aku kok sedih ya bacanya. Begitulah sbg ibu, kini saya pun sebagai ibu. Meski mencontoh menebar kebaikan dari seorang ibu. Sesungguhnya kebaikan ada Di setiap orang ya Mbak, apalagi seorang ibu.

    ReplyDelete
  18. Jadi inget ibu, masakannya selalu enak. Ibuku juga suka ngebagiin makanan ke tetangga. Tujuannya mulia, ya, berbagai meski lewat jalan yang sederhana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, alhaAlhamduli.. berbagi di mulai dengan hal-hal yang sederhana ya

      Delete
  19. Masya Allah pengalaman Ibu nya kak Mei jadi mengingat juga nih untuk selalu bersemangat berbagi kepada yang membutuhkan. Selalu tetap sehat dan ceria untuk ibunya kak Mei

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..terima kasih Mbak, sehat-sehat juga ya buat ibunya :)

      Delete
  20. Semoga kita bisa meneladani kebaikan berbagi ibunya ya Mba Meilahani,, melebihkan makanan yg dimasak ya buat orang lain, sunnah Rasulullah SAW jg itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..betul Mbak, berbagi makanan jua merupakan sunnah yang dianjurkan oleh Rasul ya

      Delete
  21. Masya Allah, sehat selaluuuu untuk Ibu yaaaa mbk. Jiwa sosialnya sangat tingggiii, meski dari hal paling sederhana, ini udah bisa membantu banyak orang-orang disekitarnya yang benar-benar membutuhkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah..iya mbak, mudah-mudahan aku juga bisa mencontoh ibu untuk ringan berbagi & menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan

      Delete
  22. Ya Allah, tulisan ini maknyes banget. Jadi pingin nangis bacanya. Dalam kondisi serba sulit masih seringan itu untuk berbagi kesesama. Insya Allah semuanya jadi berkah ya mbak. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin..barakallah Mbak, sama saya juga nulisnya sambil berkaca-kaca soalnya nulis tentang orangtua, mudah-mudahan jadi inspirasi minimal untuk saya sendiri

      Delete
  23. Biasanya ada satu hari di akhir pekan aku buka puasa di rumah orang tua dengan masakan ibuku. Tapi karena pandemic ini, jadi ngga bisa kesana. Masakan ibu emang bikin rindu ya ka :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sedih ya, jd nggak bisa silaturahim ke rumah ibu, mudah-mudahan sehat-sehat ibunya ya :) dan pandemi segera berlalu, jadi bisa kumpul2 lagi bareng kel

      Delete
  24. selalu terharu dengan masih banyaknya orang-orang baik dan sampai segitu baiknya sampe aku ingi menangis karena jadi kontemplasi sama diri ini yang belum bisa maksimal berbagi kebaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, sama Mbak, saya juga masih belajar banget untuk bisa seringan itu dalam berbagi, menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan yang ruuru dilakukan

      Delete
  25. Menebar kenaikan dengan Cara yg sederhana duh kata kata ini bikin Saya instropeksi mba agar tidak terlalu banyak mikir ketika berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali Mbak, sebetulnya banyak cara sederhana untuk berbagi dan menebar kebaikan, saya juga banyak belajar dari ibu.

      Delete
  26. Masyaallah jadi kangen ibu. Qadarullah tahun ini nggak bisa mudik jadi ditahan dulu rindunya sampai pandemi berakhir. Semoga ibu sehat-sehat selalu ya, Mbak. INsyaallah perempuan itu lebih kuat kok sata ditinggal belahan jiwa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih ya Mbak lebaran ga bisa ketemu ibu, mudah-mudahan pandemi cepat berlalu, jadi bisa mudik & silaturahim lagi .Sehat-sehat terus ya untuk ibunya :)

      Delete
  27. Masya Allah... menyentuh banget nih tulisannya ... layaklah kalau jadi juara. Thanks inspirasinya mbak. Selamat udah jadi pemenang... hmmm story tellingnya memang juara!

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah, makasih Mak Sita, nggak tau ya, saya nulisnya ngakir begitu aja hehe. Kalo udh cerita tentang ortu emang suka mellow jadinya :). Sukses ya, buat Mbak Sita, terimakasih sudah berkunjung :)

      Delete
  28. jadi kangen masakan ibu sama bakmi jawanya mbak, huhu

    ReplyDelete
  29. terharu bgt mbak aku baca ceritanya. Semoga ibunya selalu sehat ya, dalam lindungan Allah dan kita bisa menyontek kebaikan beliau (nasehat buat diri saya sendiri juga)..
    tengkyu mbak critanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, saya juga sedang belajar banyak dari tulisan saya tersebut, belajar untuk terus berbuat baik. Btw terimakasih Mbak sudah mampir, salam kenal :). Sehat-sehat juga ya buat Mbak sekeluarga.

      Delete