Suatu Sore di Masa Depan



Sore
Hatiku selalu hangat jika mengingatnya
Seperti hangatnya hati seorang ayah yang ingin segera pulang ke rumah

Atau riangnya hati anak kecil yang menanti ayahnya sambil bernyanyi di depan jendela

Juga burung-burung yang kembali pulang dengan perut kenyang

Semuanya bahagia di kala sore, karena ada rumah yang menanti penghuninya pulang

Juga ada sejumput lega yang mengakhiri kesibukan-kesibukan di hari ini

Seperti cerita berpuluh tahun lalu
Saat kumpulan anak kecil bermain layangan, dan aku bahagia menikmati tawa canda mereka dari depan teras rumahku

Juga saat segerombolan anak dengan pakaian penuh keringat, bernyanyi sambil membawa tongkat pramuka dan sepatu yang penuh lumpur. Aku, gadis kecil berkepang dua, ikut bersama mereka.

Kemudian, tahun demi tahun berlalu, aku terdiam di ujung jalan, menanti angkutan yang tak kunjung datang hingga akhirnya kuputuskan untuk berjalan kaki saja, melewati pemukiman padat dan sungai kering ditemani hangatnya matahari sore

Juga saat aku bercanda riang bersama sahabat, tak ingin pulang rasanya, masih betah bermain

Ah, sungguh bahagia, pulang sekolah di sore hari, bermandikan hangat matahari yang sepertinya sudah mulai mengantuk

Aku juga tak akan pernah lupa, serunya berpetualang membelah jalanan kota kembang, lalu kuperhatikan mereka yang naik dan turun bersamaku sembari menikmati sesaknya angkutan umum. Tak sabar rasanya ingin bertemu keluarga, setelah seminggu tak berjumpa.

Atau sore yang masih malu-malu, kala aku pulang membawa dua kotak martabak, ingin rasanya kukabarkan pada dunia tentang gaji pertamaku, indah rasanya, meski tak lebih indah dari jatuh cinta.




Namun, ternyata tak semua sore membawa kabar bahagia.

Sore yang sendu, ditemani rintik hujan pertama di bulan September. Seolah semesta turut menangisi kepergian bapak.

Sore yang aneh, saat pertama aku datang ke kota ini. Tempat yang asing, aku merasa sendiri.

Sore yang pilu, sore yang menyakitkan, sore yang membuat kecewa, sore yang berteman luka, semua pernah aku nikmati episodenya.

Namun,
Semuanya cukup jadi pembelajaran terhebat
Ya, soreku tak hanya menawarkan banyak cerita bahagia, ia terkadang juga menyapaku lewat kesedihan.

Sore
Hari ini aku bahagia bisa menikmati sekaligus mengenangmu lagi.

Aku, gadis kecil berkepang dua yang selalu menunggumu dulu.
Kini sudah tumbuh bahagia, meski sejatinya aku tak tahu, kini aku tengah berada dimana? pagi, siang, ataukah sore mendekati malam?.
Aku hanya berdoa, agar Allah menjagaku hingga jika malamku datang, ia akan terang bertabur cahaya dan bintang-bintang

Sore, selain jadi cerita bahagia
Seharusnya, ia pun jadi momen yang tepat untuk mengingatkan kita bahwa "malam" pasti akan datang, entah sebentar lagi, atau masih lama.


Foto : unsplash.com

0 Comments