Menjalani Masa Karantina Covid-19, Ini Dia 5 Hal Baik yang Bisa Kita Lakukan Meski #dirumahaja




"Tidak keluar rumah dan memilih rebahan itu membantu negara, tetapi tidak keluar rumah dan memilih berkarya itu menghidupkan negara"
Afifah Afra


"Duh, kapan ya, pandemi ini berakhir, rasanya bosan sekali  harus di rumah terus". Kalimat itulah yang hampir setiap hari terlintas dalam pikiranku. Rasanya penat sekali, kalau dulu, setiap akhir pekan, kami sekeluarga selalu menyempatkan untuk refreshing, jalan-jalan atau silaturahim kepada kerabat dan teman. Tapi, COVID-19 memaksaku untuk taat pada peraturan pemerintah dengan selalu tetap berada di rumah.

Namun, keluh kesahku tiba-tiba saja terpatahkan dengan kedatangan seorang tamu, ia merupakan teman lama suamiku. Lelaki berusia 30-an tersebut merupakan seorang driver ojek online yang baru saja di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja. Tak hanya itu, adanya PSBB di daerah kami, menyebabkan orderannya kini menjadi sepi, padahal sebentar lagi ia harus mempersiapkan dana untuk kelahiran anak ke-3nya.

Beban hidup yang sulit juga dirasakan salahsatu kerabatku, Bi Isti namanya. Suatu hari Bi Isti yang tinggalnya di kota lain bercerita, bahwa ia baru saja dirumahkan dari pekerjaannya sebagai asisten rumahntangga, sedangkan ia harus berjuang seorang diri untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil karena suaminya meninggal dunia 2 tahun yang lalu.  Beberapa hari ini sang anak sering merengek ingin berbuka puasa dengan sayur asam dan tempe, karena sang anak bosan, setiap hari mereka sekeluarga hanya bisa makan mie instan.

Cerita serupa pun dialami seorang tukang cukur di dekat rumahku, "Duh Pak, saya mah udah bisa beli beras aja Alhamdulillah" ujarnya pada suamiku. Ya, pandemi Covid-19 ini membuat banyak orang takut untuk memangkas rambut di salon atau tukang cukur sehingga kini penghasilannya pun sangat jauh berkurang dibandingkan sebelum wabah melanda.

Ilustrasi tentang mereka yang terdampak Covid-19

Lain lagi dengan cerita seorang ustaz yang sering mengisi di masjid dekat rumahku, ia terpaksa harus menjual sepedanya agar bisa membeli sembako.

Ya, hal-hal tersebut membuatku merasa tertampar, "Ah, ternyata, rasa bosan dan jenuhku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan mereka yang terdampak secara ekonomi"

Aku jadi sadar bahwa pandemi ini harusnya jadi momen yang tepat untuk mengasah kepekaan sosial kita.

Memang ada meme yang mengatakan "Hei kalian yang punya passion rebahan, inilah saatnya kalian berkontribusi untuk Indonesia". Namun, yakin nih ingin rebahan saja, sementara di luar sana banyak orang yang bahkan untuk makan pun harus berputar otak. Atau ada juga yang tidak paham mengenai virus Covid-19 sehingga perlu untuk diberikan edukasi.

Nah, untuk kalian yang ingin berkontribusi menebar kebaikan di tengah pandemi, 5 hal ini bisa kalian lakukan meski dirumah saja, simak ya !

1. Sharing Infomasi yang Benar dan Bermanfaat

Berbagi informasi yang benar, salahsatu caraku untuk menebar kebaikan meski #dirumahaja

Beberapa tahun kebelakang, kesehatan mental tengah menjadi isu sosial yang ramai diperbincangkan. Terlebih di masa pandemi seperti ini, kalau kita tidak memiliki mental yang kuat, maka akan mudah panik bahkan bisa berdampak pada sakit fisik atau kita kenal dengan istilah psikosomatis.

Contohnya, beberapa waktu yang lalu, di sebuah grup Facebook yang concern dengan mental health awareness, seorang ibu muda bercerita "Kenapa ya, kok setiap kali melihat berita Corona di sosmed maupun di TV, tiba-tiba saya panik luar biasa, cemas berlebih, tidak bisa tidur, bahkan merasakan mual hebat".

Ya, berita yang beredar terkadang juga membuat aku cemas, panik, padahal ternyata tak semua berita itu valid dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Aku pun pernah takut luar biasa melihat video tentang kasus Covid-19 di daerahku, setelah di cek ternyata itu hanya hoax.

Untuk itu, sebelum menulis atau sharing berita di medsos, aku selalu cek dulu kebenarannya (Saring Before Sharing). Selain itu, aku berusaha untuk hanya membagikan berita-berita yang positif dan edukatif saja.


2. Bersedekah di Teras Rumah



Di masa Pandemi ini kita dituntut untuk peka melihat keadaan sekitar, apakah ada kerabat atau tetangga kita yang terdampak secara ekonomi. Jika memungkinkan kita bisa mendatangi mereka untuk memberikan bantuan baik berupa uang maupun bahan pokok seperti sembako. 

Seperti beberapa waktu yang lalu, kami juga memberikan bantuan sembako kepada tetangga dan kerabat yang terdampak, diantaranya kepada driver ojek online yang merupakan teman suami, Bi Isti, Pak Ustaz, juga beberapa teman dan kerabat kami lainnya. Meskipun sederhana, namun semoga bisa bantu meringankan beban mereka yang terdampak Covid-19.

Beberapa sembako diatas sudah kami salurkan kepada yang membutuhkan, keduanya ada yang berasal dari "dompet" sendiri, namun ada juga titipan dari donatur. Foto : dokpri


Selain memberikan bantuan langsung, ada satu alternatif lainnya. Ya, beberapa waktu yang lalu, aku dan suami berencana untuk membuat beberapa bungkus sembako sederhana yang digantungkan di pagar rumah kami, isinya antara lain telur, minyak, dan mie instan. Hal ini terinspirasi dari salahsatu postingan seorang ibu di Facebook yang setiap harinya menggantungkan beberapa macam sayuran dan sembako di pagar dan teras rumahnya untuk dibagikan kepada mereka yang lewat di depan rumahnya.

3. Membeli Dagangan Teman


Beberapa barang dan makanan diatas kami beli dari teman (barang lain tidak sempat kami dokumentasikan). Foto : dokpri

Suatu ketika ada teman suami yang menawarkan sebuah sandal seharga 200.000. Jujur bagi kami, harga tersebut cukup mahal, namun demi membantu teman, suami akhirnya membeli sepatu tersebut. Dilain waktu, banyak juga teman kami yang berjualan aneka makanan, maka selama ada rezeki, insyaAllah kami akan berusaha untuk membelinya.

Ya, di masa pandemi ini, banyak sekali pedagang kecil bahkan pengusaha yang terdampak. Beberapa waktu yang lalu teman di sosmed bercerita, ada temannya, seorang pengusaha yang kini terpaksa harus tinggal di kontrakan bersama anak dan istrinya, karena rumah dan mobilnya sudah dijual agar bisa tetap menggaji para karyawannya.

4. Jadi Marketer Sukarela


Aku pun ikut menjadi marketer produk nursing dress milik teman suamiku. Foto: dokpri

Kalau kita tidak memiliki uang lebih, tak mengapa, kita masih bisa membantu teman kita dengan menjadi marketer sukarela. 

Beberapa waktu yang lalu, aku pun sempat menjadi marketer sukarela sebuah produk nursing dress milik teman suamiku.

Tidak hanya aku saja, ternyata banyak juga dari kita yang ikut membantu menjual barang dagangan milik teman, sehingga beberapa bulan kebelakang beranda sosial diramaikan dengan postingan #bantujualanteman. Meskipun sederhana, namun kegiatan seperti itu mudah-mudahan bisa sedikit membantu mereka, para pedagang yang omsetnya berkurang akibat wabah Covid-19.


5. Berdonasi Secara Online



Kita harusnya bersyukur, zaman yang semakin canggih membuat kita bisa berdonasi, membantu orang lain tanpa harus keluar rumah. Tinggal klik, maka donasi kita akan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Namun yang sering mengganjal di benak kita adalah, apakah donasi kita benar-benar sampai dan tepat sasaran?. Kalau begitu, maka kita harus memilih lembaga yang kredibel dan amanah, seperti Dompet Dhuafa.

Mendengar kata Dompet Dhuafa, pikiranku melayang pada kegiatan 11 tahun yang lalu, kala itu aku dan teman-temanku yang merupakan mahasiswa kesehatan, diajak untuk menjadi relawan bersama Dompet Dhuafa pada kegiatan pengobatan gratis di salahsatu desa di daerah Cicaheum-Bandung. Seru dan berkesan sekali acaranya, aku jadi semakin yakin untuk berdonasi di Dompet Dhuafa, karena insyaaallah program-program Dompet Dhuafa memiliki jangkauan yang luas dan tepat sasaran.

Dompet Dhuafa merupakan Lembaga Amil Zakat yang berdiri sejak tahun 1993, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok maupun perusahaan.

Beberapa program Dompet Dhuafa diantaranya mencakup berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial.




Nah, buat kalian yang ingin berdonasi online di Dompet Dhuafa, kalian bisa mengunjungi  Portal Donasi Dompet Dhuafa kemudian ikuti langkah-langkah pengisian datanya, mudah sekali kok !.




Ramadan Bersama Ramadan Virtual Festival Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan




Ramadan kali ini berbeda sekali ya, kalau dulu kita bisa shalat tarawih berjamaah, mengikuti kajian di masjid, itikaf, atau bahkan sekadar ngabuburit bersama teman dan keluarga, kali ini, kita terpaksa harus menikmati Ramadan dari balik dinding rumah.

Sedih rasanya, namun tak perlu diratapi karena ini sudah memjadi takdir Allah, tinggal bagaimana kita produktif memaksimalkan Ramadan dengan kegiatan yang positif.

Di rumah kita bisa beribadah bersama keluarga. Shalat tarawih berjamaah, mengaji bersama, bahkan mendengarkan streaming kajian ustaz bersama keluarga di rumah, bisa menjadi kegiatan yang insyaallah membuat kita akan bertabur pahala di bulan suci ini.

Selain produktif beribadah, di masa pandemi yang bertepatan dengan bulan Ramadhan  , kita bisa memanfaatkannya untuk mengerjakan kegiatan lain yang bisa menambah value diri, seperti mengerjakan hobi, atau mengikuti kegiatan virtual yang menarik dan bermanfaat tentunya.

Dompet Dhuafa Sulsel merupakan salahsatu lembaga yang sejak dulu aktif mengadakan berbagai kegiatan sosial di Bulan Ramadan, salahsatunya Ramadan Virtual Festival yang kini sedang nge-hits.

Ya, Ramadan Virtual Festival merupakan program-program virtual yang digagas oleh Dompet Dhuafa untuk menyemarakkan Ramadan tahun ini ditengah pandemi Covid-19.

Jika di Ramadan tahun-tahun sebelumnya, program Ramadan semarak dilakukan di berbagai tempat, kali ini Dompet Dhuafa Sulsel mencoba membawa kemeriahan tersebut di dunia virtual, sehingga masyarakat tetap bisa menikmati program-program Dompet Dhuafa Sulsel, menarik, bukan?

Kegiatan Ramadan Virtual Festival ini ada banyak, diantaranya, Tarhib Ramadan, Sedekah Dongeng, Kelas Appilajara, Kajian Online, Humanitalk, Blog & IG Post Competitions, Ngabubookread, Clothing Bazaar, Kelas Tahsin, Arabic Class, Ngaji Bareng, Wakaf Quran, Parcel Ramadan, Book Launch, Tantangan #1hari1kebaikan, serta Foodfest.

Wah, seru sekali ya kegiatan-kegiatannya, nggak hanya itu, kegiatan virtual ini juga akan diisi oleh pemateri /narasumber yang berkompeten di bidangnya, seperti beberapa waktu yang lalu, kegiatan virtual Ngabubookread menghadirkan penulis terkenal A.Fuady yang sharing banyak hal  kepenulisan, live exclusive di instagram @ddsulsel.






Nah, bagaimana, menarik sekali ya acaranya. Jadi, tunggu apalagi, daripada mengisi kegiatan hanya dengan rebahan, lebih baik ikut menebar kebaikan serta kegiatan-kegiatan seru bersama Ramadan Virtual Festival Dompet Dhuafa Sulsel. 


Pandemi & Pembelajaran Hidup Terbaik didalamnya



Kita tidak tahu, sampai kapan ujian ini akan berakhir, mungkin beberapa bulan kedepan kita masih akan tetap seperti ini, menikmati "new normal" yang menuntut kita untuk terus beradaptasi.

Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan insight baru melalui sebuah video di YouTube, bahwa wabah ini mungkin akan bertahan hingga 2 tahun kedepan, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar bisa survive dari berbagai dampak ekonomi yang ditimbulkan. 

Salahsatunya yakni mengurangi gaya hidup konsumtif dengan tidak membeli barang branded mewah misalnya.  Selain itu kita juga harus memiliki skill baru, karena nantinya akan semakin banyak bisnis yang terpuruk akibat diberlakukannya pembatasan sosial, yang berujung pada PHK massal. Sehingga kita dituntut untuk bekerja mandiri secara virtual. seperti kata pebisnis Tri Widayanti, "Go online or die !". Maka, mulailah untuk mempelajari banyak keterampilan atau hal-hal baru, salahsatunya melalui kegiatan atau training virtual yang bermanfaat.

Hal yang paling penting dan sudah menjadi konsep agama kita yakni jadikan harta kita agar selalu "mengalir", bukan justru menahannya. Karena sejatinya, hal itulah yang membuat kita dan banyak orang akan bisa survive menghadapi semua ujian ini.

Meski dinding rumah nyatanya membatasi banyak hal dalam hidup, namun jangan ada satu alasan pun yang membatasi kita untuk tetap produktif melakukan banyak hal-hal baik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.

21 Comments

  1. wah seneng sekali membaca ini, banyak kabar baik didalamnya. semoga covid cepat berlalu ya mbak. intinya kita harus lebih banyak bersyukur XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali Mbak, dalam keadaan apapun kita harus selalu melihat dari sisi positif, supaya tetap bersyukur sesulit apapun keadaan kita. Semoga pandemi ini cepat berlalu ya, aamiin. Makasih sudah berkunjung :)

      Delete
  2. Memang pandemi Covid-19 ini dampaknya terasa banget, terutama masalah ekonomi. Meski stay at home, Kita juga bisa melakukan hal baik dengan berbagi lewat donasi atau membeli jualan teman. Semua pasti berharap pandemi ini cepat berakhir dan Kita bisa beraktivitas seperti sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget teh, sayang juga ya kalo masa karantina cuma dipake buat rebahan hhe. Padahal sebetulnya kita tetap bisa produktif melakikan banyak hal-hal baik meskipun #dirumahaja.

      Delete
  3. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari ujian ini ya Mbak. Salah satunya jadi lebih peka terhadap penderitaan sesama. Selain itu juga semakin menambah rasa syukur dalam hati, karena kita masih bisa diberikan kesempatan untuk berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, pandemi ini sekaligus tutur mengasah rasa empati kita terhadap sesama ya, karena diluar sana banyak mereka yang terdampak secara ekonomi akibat wabah Covid-19 ini.

      Delete
  4. Pandemi ini memang "memaksa" semua orang untuk melihat dengan hati. Semoga segera berlalu

    Adanya lembaga semacam dompet duafa ini sangat membantu kegiatan sosial. Juga memudahkan kalau mau membayar zakat,biar penerima zakatnya benar2 sesuai syariah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, Alhamdulillah sekarang zaman makin canggih, kalau mau berdonasi, infak, dll jadi lebih mudah karena bisa via online. mudah-mudahan pandemi ini bisa lebih mengasah kepekaan sosial kita ya, jadi lebih punya empati kepada orang lain

      Delete
  5. Belajar dari sejarah, pandemi biasanya akan berakhir setelah 2 tahun. Duh, kebayang 2 tahun harus hidup seperti ini rasanya berat banget. Namun, daripada mengeluh, lebih baik mulai sekarang kita membiasakan diri dan tetap menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik meski di rumah saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Bund, pandemi ini menuntut kita untuk beradaptasi banyak ya, karena ternyata banyak sekali hal-hal yang berubah akibat pandemi ini.

      Delete
  6. di tengah pandemi begini juga kita harus tetap berbagi kepada sesama ya mba, apalagi sekarang ada dompet dhuafa yang memudahkan semuanya. Masyaallah, makasih sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, Alhamdulillah sekarang berdonasi jadi lebih mudah, tinggal "klik", nggak harus selalu keluar rumah.

      Delete
  7. Ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari pandemi ini. Rasa empati yang semakin tinggi misalnya. Bagi mereka yang belum bisa membantu secara materi seenggaknya bisa membantu dalam doa dan usaha seperti yang mbak sebutkan. Menjadi marketer sukarela.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, banyak cara untuk menebar kebaikan, tak selalu dengan uang, juga tidak selalu harus keluar rumah.

      Delete
  8. Terima kasih sudah mengingatkan Mbak..memang pandemi ini makin mengasah kepekaan sosial kita. Insya Allah sudah saya lakukan semua cara di atas kecuali bersedekah di teras rumah. Karena rumah saya gang buntu jadi ga ada yang lewat kecuali penghuni hihihi. Jadi saya ngasihnya langsung saja ke yang membutuhkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, banyak ya yg terdampak secara ekonomi akibat pandemi, maka itulah saat yang tepat bagi kita untuk peduli dengan memberikan bantuan atau dengan cara lain yang kita bisa.

      Delete
  9. yang terakhir nih setuju banget mbak, pandemi benar-benar mengurangi kegiatan konsumtif. Semua-muanya deh, mulai dari beli baju sampai jajan. Sayangnya di desaku enggak terlalu ngefek sih karena orang-orang enggak terlalu percaya dengan corona lha wong ada yang meninggal aja masih tetap gak percaya. Pasar masih aja ramai, ya allah semoga pandemi segera mereda ya, amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh sedih juga ya Mbak kalo liat orang masih banyak yang belum peduli dan terkesan apatis. Mudah-mudahan pandemi segera berakhir ya aamiin.

      Delete
  10. Selalu ada hal baik dari semua peristiwa termasuk wabah corona. Semoga kita bisa memetik hikmah dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi. Lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan, lebih peduli sesama, lebih ringan berderma, dan lebih mencintai keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Mbak, banyak hikmah dari pandemi ini ya, segala sesuatu memang harus selalu dilihat dari sisi positifnya.

      Delete
  11. Banyak hikmah yang bisa dipetik selama pandemi ini, pintar-pintarnya saja kita ya memilih kegiatan yang bisa menjaga kestabilan emosi. Makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete