Secuil Cerita Quarter Life Crisis, Tentang Jatuh-Bangun dan Cara Aku Berdamai Dengannya




Bismilah
Hidup ini sejatinya memang penuh dengan masalah, senang dan sedih, mudah dan sulit, lapang dan sempit, semuanya silih berganti. Tapi, pernah nggak sih kalian berada pada situasi yang sulit dijelaskan, dunia yang kita jalani seolah terhenti seketika dengan sebuah pertanyaan,kayaknya ada yang salah nih dengan diri kita, Saat itu kita bingung, ingin berbalik arah atau terus melangkah.

Kemudian banyak pertanyaan-pertanyaan lain mengiringi,apa sih yang sebenarnya kita cari?, di masa mendatang mau jadi apa?, kenapa kok hidupku begini-begini aja?

Kedengarannya complicated ya, hehe. Tapi aku yakin sih, setiap orang mungkin pernah dan akan berada di titik seperti ini, bahkan untuk orang yang kehidupannya terlihat sempurna sekalipun.

Bukan, ini bukan soal bersyukur nggak bersyukur, tapi ini lebih ke perenungan-perenungan tentang hidup, baik yang sudah, sedang, maupun yang kelak akan kita hadapi.

Baca juga :




Seperti kata ustadz Hari Santosa, penggagas FBE (Fitrah Based Education) saat usia kita menjelang 30 atau 40 kita akan sering mengalami rasa galau, gelisah dan semua itu tidak hilang dan terobati hanya dengan traveling, nonton film favorit, mengerjakan hobi, dan lain sebagainya. Karena sadar nggak sih, kalo itu semua sebenarnya hanya "pelarian" semata dari rasa gelisah yang dirasakan.

Menurut beliau, kegelisahan dan Kegaluan itu sesungguhnya Allah sedang bicara kepada kita. Begitupula fitrah dan jiwa kita sedang "menjerit dan meminta haknya agar bermakna di dunia".

Kalo Ustadz Hari membahasnya di rentang usia 30-40an, aku akan membahasnya lebih dini lagi, hehe, kurang lebih pada rentang usia 20-30an atau bahasa kerennya Quarter Life Crisis.

Mengutip dari medcom.id, Psikolog Klinis Dewasa, Ilham Anggi Putra, M.Psi., Psikolog mendefinisikan Quarter Life Crisis sebagai situasi di mana seseorang merasa tidak kukuh pada dirinya sendiri. Hal ini muncul karena ada transisi kehidupan di mana orang-orang di sekitarnya mulai memiliki jalannya masing-masing. Sehingga dia mulai membandingkan jalan orang dengan jalan hidupnya sendiri.
Baca juga :

Nah, aku mau cerita tentang pengalaman aku menghadapi QLC ini, serta bagaimana cara hingga aku bisa berdamai dengannya.

Siang itu, sepulang dari praktikum Sitohistoteknologi, dengan wajah kucel 5L (Lemah, Lelah, Letih, Lesu, Lapar :D ), nggak tau kenapa tiba-tiba aku bengong di kos-an dalam kondisi masih pake seragam kumplit karena keburu capek.

Sambil memandang langit-langit kamar, nggak tau kenapa aku ngerasa aneh banget hari itu, duniaku rasanya berhenti seketika.

Lalu tiba-tiba tercetuslah ucapan spontan dalam hati "Kayaknya aku salah jurusan deh". Gubrakkk.. telat rasanya ngomong kayak gitu, secara waktu itu aku udah ada di semester 4. Mau SNMPTN lagi tapi nggak yakin, belum tanggapan orangtua yang pasti menolak mentah-mentah, kuliah di kampus negeri seperti sekarang dengan iuran yg segini aja udah eungap istilah sundanya mah.

Selama ini aku merasa hidupku baik-baik saja, dan aku itu tipikal yang nrimo 100% dengan apa yang terjadi dalam hidup, nggak ada protees, konfrontasi, dan lain sebagainya. Kalau orangtua atau society memaksaku berada di suatu keadaan, aku akan selalu berusaha menerimanya dengan lapang.

Dalam hal akademis, aku merasa baik-baik saja, meski hati terdalam nggak suka bidang eksakta, tapi karena orangtua yang nyuruh, jadi aku nrimo aja bahkan Alhamdulillah selalu ranking di kelas, bahkan pernah mendapatkan beasiswa karena prestasi akademik, meski jujur aku lebih suka IPS atau bahasa.

Bahkan untuk jurusan kuliah pun aku seolah tidak memberi kesempatan pada diri untuk memilih atau sekadar bertanya secara "jujur".

Hingga akhirnya di semester 4 seperti yang aku ceritakan tadi, tiba-tiba aku merasa nggak nyaman dengan hari-hari yang kujalani, tiba-tiba aku merasa salah langkah, banyak pertanyaan mengalir begitu saja, "Kamu bahagia nggak sih sama yang kamu jalani?". "Kamu suka sama jurusan ini?". "Setelah ini mau kemana, mau kerja apa". Sampai "Kalau punya anak, nanti mau tetap kerja atau bagaimana, kalau resign, sia-sia dong kuliah kamu".




Lalu, bagaimana aku menjalani hari-hari setelah itu?
Biasa aja sih, aku tetap dengan rutinitasku, bergelut dengan mikroskop dan alat laboratorium lainnya, aku mencoba bangkit, o ya sebelum kejadian bengong di kos-an itu, dalam 2 semester terakhir nilai-nilaiku turun drastis. Ya, aku coba untuk nrimo saja dan melihat dengan kacamata syukur, sambil terus berdoa supaya Allah kasih aku jalan hidup yang baik kedepannya.

Hingga akhirnya, aku lulus, yeay.. Alhamdulillah, dengan hasil cumlaude, seenggaknya ini salahsatu hal yang bisa men-trigger diri aku bahwa kita bisa tetap bertahan dalam situasi yang tidak aku harapkan sekalipun.

Singkat cerita, aku lalu bekerja di salahsatu Lab. swasta, kemudian 2 tahun setelah itu aku menikah, dengan kakak tingkat semasa kuliah, Alhamdulillah ya, walaupun salah jurusan tapi akhirnya nemu jodoh disini, lulus nggak cuma bawa ijazah tapi juga buku nikah, eaaaa :D

Kemudian setelah hamil anak pertama, tepatnya saat menjelang HPL, aku memutuskan untuk resign karena ingin fokus mengurus keluarga. Alhamdulillah suami pun sangat mendukung.

Namun, Allah memberiku ujian yang cukup berat bahkan bagi aku bisa disebut pukulan. 2 minggu setelah anak pertamaku lahir, bapakku meninggal dunia dan aku nggak sempat menemani bapak semasa beliau sakit karena aku sibuk dengan kegiatan baruku sebagai ibu, selain itu sakitnya pun cukup mendadak, hanya dirawat beberapa hari di rumah sakit kemudian meninggal.

Saking sedihnya, aku sampai nggak bisa mengeluarkan air mata. Padahal saat itu aku masih berada dalam fase baby blues syndrome karena anakku sempat dirawat saat baru lahir akibat BBLR dan faktor lainnya. Selain itu, aku juga belum bisa berdamai dengan post power syndrome selepas resign kemarin, salahsatunya karena ada beberapa keluarga yang kurang mendukung keputusanku ini.

Pokoknya masa-masa itu adalah masa terberat bagiku, kehilangan bapak ditambah harus beradaptasi dengan banyak hal baru, rasanya berat sekali.

Pengalaman itulah yang membawaku kembali bertanya-tanya tentang hidup, mungkin kalo diibaratkan film, ini adalah Quarter Life Crisis part 2 hmmh.

Hari-hariku kembali dibayangi pertanyaan dan keresahan akan masa depan, gimana aku hidup tanpa bapak, mampu nggak ya aku jadi seorang ibu, setelah ini mau ngapain?, Kok hidup aku cuma gini-gini aja ya, bahkan ada perasaan nggak berguna karena nggak bekerja lagi, nggak bisa mandiri secara finansial. O ya, saat itu usiaku genap 25 tahun, dan lagi-lagi aku masih terkepung dalam perasaan-perasaan tersebut.

Hingga akhirnya, setiap harinya aku terus berusaha mencari jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan. Merenung, berdiskusi dengan suami, bermuhasabah diatas sajadah, diskusi dengan teman, hingga mendengar kajian ustaz.

Dari situ perlahan aku menemukan kepingan-kepingan puzzle yang tercecer kemudian menyusunnya sedikit demi sedikit dan dari situlah aku coba untuk membangun kekuatan, menepis segala ketakutan akan masa depan.

O ya, di penghujung tahun 2018 aku mulai serius untuk menekuni dunia kepenulisan, hingga hari ini, meski nggak bisa maksimal karena harus disambi ngurus 2 balita, tapi Alhamdulillah aku cukup menikmati.

Jadi penulis adalah salahsatu cita-cita yang pernah terlintas sejak lama, sebetulnya aku ingin serius di bidang ini, dan aku pun pernah berambisi untuk ini, tapi karena waktu yang tidak memungkinkan dan aku terlau memaksakan diri akhirnya aku malah jadi stress :(

Di dunia kepenulisan ini aku juga bertemu banyak tipe dan karakter manusia, membuatku juga belajar banyak hal. Pengalaman dan jatuh bangun selama hampir 2 tahun ini juga membuatku kembali berpikir tentang hidup, tentang cita-cita, tentang prioritas, idealisme, dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, di usiaku yang baru menginjak 30 ini, aku bisa lebih "stabil", dalam arti bisa lebih positif dalam menghadapi quarter life crisis, banyaaaak banget hikmah yang aku dapatkan selama satu dekade ini yang mungkin nggak sadar ini juga membentukku menjadi pribadi yang insyaallah, semoga jadi lebih baik dan lebih "kokoh".

Nah, untuk itu, aku mau sharing tentang bagaimana aku bisa berdamai dengan quarter life crisis.

1. Memperbaiki Hubungan dengan Allah adalah Kunci dari Segala Kunci

Kalau dulu ya, zaman masih sekolah, masih ABG biasanya kalo lagi ada masalah atau merasa jenuh dengan sesuatu biasanya yang pertama aku cari itu adalah temen, cuss langsung curhat segala macem, refreshing, nge-mall, nonton, setelah itu beres deh.

Tapi semakin dewasa, nggak tau kenapa, hal-hal itu bagi aku nggak cukup, rasanya hanya sebatas distraksi yang dengannya masalah dan kegalauanku nggak akan bisa tuntas sampai ke akar-akarnya.

Seperti saat ini, aku misalnya lagi capek dan jenuh banget menghadapi anak yang akhir-akhir ini kok cranky banget ya. Memang sesekali kita butuh distraksi untuk sekadar menjaga kewarasan, misal jalan-jalan sama suami, tapi kadang kok ya setelahnya perasaan capek dan penat itu masih terus ada.

Pernah suatu ketika aku lagi penaat banget, terus malem-malem aku shalat isya sendirian karena anak- anak udah bobo, aku berusaha shalat dengan khusyu, lalu setelahnya aku merenung lamaaa banget, aku berdoa dan jujur dengan perasaanku, mungkin istilahnya curhat sama Allah sampe nangis malah, aku bercerita betapa penatnya aku seharian sama anak, terus nggak tau kenapa setelah itu rasanya kok plong banget ya masyaAllah.

Aku jadi inget kata salahsatu psikolog, aku lupa namanya ibu siapa, huhu maafkan :(, yang intinya bilang gini, kadang kita merasa pekerjaan rumah ringan-ringan aja tapi kok rasanya capek banget ya, Nah yang membuat kita lelah itu sebetulnya bukan pekerjaan rumahtangga, namun lelah dalam hal menjaga emosi agar tetap stabil saat mendampingi anak. Maka solusinya lebih ke afektif misalnya dengan menjaga kondisi ruhiyah kita, kalau umat muslim kita harus bisa menjaga ibadah kita, menjaga hubungan dengan Allah, maka insyaallah emosi kita akan lebih stabil.

Aku jadi inget kata Ustaz Nuzul Zikri, sebetulnya Allah kasih kita masalah itu bukan untuk menguji seberapa kuat kita, namun untuk menguji seberapa bergantungnya kita kepada Allah.

Jadi, setiap ada masalah sekecil apapun, aku selalu merenung, mungkin beberapa hari kebelakang aku lagi jauh sama Allah, ibadahku berantakan, dsb jadinya mungkin Allah kasih aku ujian ini. Ya, bagiku, memperbaiki hubungan dengan Allah adalah kunci dari segala kunci.

2. Melihat Segala Sesuatu dengan Kacamata Syukur

Segala sesuatu yang terjadi di hidup kita itu sudah tercatat 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, maka apapun yang terjadi di hidupku sejatinya sudah tercatat, maka tugasku sekarang ada 3, menerima dengan rasa syukur, berikhtiar, kemudian tawakkal

Dulu aku kecewa banget, kenapa Allah ambil bapak secepat itu, bapak nggak sempat main sama cucu, aku pun merasa belum bisa berbakti dengan maksimal, sedih banget rasanya.

Tapi satu hal yang harus aku syukuri, sebelum bapak meninggal, aku sempat minta maaf karena waktu itu beliau menemaniku di rumahsakit sebelum aku melahirkan. Jadi dengannya semoga Allah pun memaafkan kesalahanku pada bapak selama hidupnya.

Dan lagi, aku harus percaya bahwa takdir Allah itu pasti baik, maka aku harus menerimanya bukankah kita harus beriman dengan setiap takdir Allah. Yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah.

Pokoknya intinya segala sesuatu harus kita lihat dengan kacamata syukur, maka insyaallah, pandangan kita akan jauh lebih jernih :)


3. Setiap Orang Memiliki Ukuran Sepatu yang Berbeda

Sebagai anak pertama dimana orangtua biasanya menaruh harapan lebih, nggak sadar membentukku menjadi pribadi yang sedikit ambisius dan idealis. Aku tuh kalo punya goal pasti bakal serius banget untuk merencanakannya hingga kadang nggak sadar diri lalu ngejungkel hahaha.

Nah, itulah yang akhirnya kadang bikin stress sendiri, melihat orang lain kok bisa ya, ngurus anak sambil kuliah, jualan, nulis segala macem, aku mah kok ngos-ngosan ya.

Semakin kesini aku jadi sadar bahwa tiap orang itu pasti punya ukuran sepatunya masing-masing. Kalo aku memaksakan kakiku untuk mengenakan sepatu orang lain, apa yang terjadi? Sesak, nggak nyaman, bahkan bisa lecet gaesss, begitupun sebaliknya:)

Jadi, agar bisa melangkah bahagia, kita harus percaya dengan ukuran sepatu kita, ini udah yang terbaik dan yang paling pas kok :)

4. Prioritas Sebagai Kompas

Pernah suatu ketika aku lagi stress banget sama deadline menulis, pokoknya sibuk banget lah sampai-sampai urusan rumah dan anak jadi agak terbengkalai. Kemudian nggak tau kenapa tiba-tiba terlintas pernyataan "Mei, kamu kan dulu niatnya resign buat ngasuh anak, terus sekarang pas udah resign malah nggak bisa maksimal menjalankannya, fisikmu di rumah, tapi hatimu nggak ada buat anak" makjlebb.

Dari situ aku perlahan mulai coba realistis, siapa sih yang nggak mau serius menekuni passion, tapi aku sadar tugas utama aku bukan ini, jangan sampai karena sibuk mengejar mimpi, aku jadi nggak punya waktu untuk mendidik anak.

Maka, maklum aja ya, kalo aku jarang nulis blog heheu, apalagi beberapa minggu ini aku agak membatasi aktivitasku di sosmed.

Lagi-lagi aku jadi inget ceramahnya Ustaz Nuzul Zikri tentang sosmed bahwa "Suami dan anak-anak itu punya hak atas diri kita, jangan sampai sosmed membuat kita lalai memenuhi hak mereka"

Jadi intinya kalau aku tiba-tiba pengen punya kegiatan atau kesenangan baru biasanya aku suka mikir dulu, kira-kira ini prioritas bukan sih, bisa mendukung prioritas utamaku di rumah nggak, atau minimal mengganggu prioritasku nggak ya?.


5. Mencari Ketenangan Hidup Hari Ini Maupun "Setelah Ini"

Kalau disuruh milih, kalian pilih mana, rasa tenang atau bahagia?. Semakin tua usia, aku makin sadar bahwa yang kita butuhkan itu sebetulnya adalah rasa tenang. Karena bahagia belum tentu tenang tapi tenang sudah pasti bahagia.

Maka, sebelum aku memutuskan sesuatu aku selalu bertanya dalak hati, "Kalau aku memilih ini, hidupku bakal lebih rumit nggak ya, aku bakal lebih tenang nggak ya menjalani hidup, dan yang paling penting, Allah bakal ridho nggak ya?"

Karena aku beberapa kali pernah memutuskan untuk menjalani sesuatu, bahagia sih kalau bisa diraih, tapi ya, kok cuma begitu aja rasanya, bahagia sesaat, aku malah jadi nggak tenang, salahsatunya takut apa yang aku lakukan ini Allah nggak suka dan melalaikan tugas aku sebagai istri dan ibu.

Aku sering banget diskusi sama suami soal ini, semakin kita mencari banyak ilmu agama, sering denger kajian ustaz misalnya, nggak tau kenapa rasanya kok kita jadi nggak terlalu berambisi tentang dunia, tentang uang, tentang karir, tentang pencapaian-pencapaian hidup.

Bukan, bukan berarti kita nggak boleh ngejar karir, nyari duit sebanyak mungkin, nggak sih, bukan itu pointnya.

Maksudku disini, yang pertama kita cari harusnya adalah ketenangan hidup, terutama ketenangan hidup setelah kita mati nanti. Kalau itu yang jadi patokan utama, insyaAllah kita akan bisa memfilter kok, mana yang baik untuk kita dan mana yang tidak baik.

Nah, itu tadi sharing aku tentang pengalaman menjalani salahsatu fase yang bagi aku mungkin cukup rumit dan agak sulit dijelaskan hahaha, tapi akhirnya Alhamdulillah bisa terlewati, kini di usiaku yang baru menginjak angka 30, insyaallah sedikit banyak udah mulai paham apa yang harus aku kerjakan, apa yang harus aku prioritaskan jadi kegalauan-kegalauan itu nggak separah di awal atau pertengahan 20-an.

Sebetulnya kalau aku pribadi sih lebih meyakini bahwa quarter life crisis ini hanyalah awal, karena sejatinya setelah fase ini berakhir, kegalauan-kegalauan dan perenungan-perenungan akan hidup itu akan terus ada bahkan semakin sering, seperti yang dibilang Ustaz Hari Santosa tadi, apalagi menjelang 40 tahun.

Karena ya itu tadi, semakin dewasa usia kita maka masalah dan tuntutan hidup itu kok rasanya lebih kompleks dan rumit ya, belum lagi soal memikirkan jatah umur yang semakin sedikit, kalau tiba-tiba dipanggil pulang, kita mau bawa apa? :(

Intinya ketika kita menemui perasaan-perasaan tersebut, ya nikmati saja, karena nggak kita aja kok yang mengalami ini, kalau aku sih, karena hal tersebut seringkali datang secara berulang maka solusinya aku selalu menerapkan kelima hal diatas maka insyaallah setelah itu kita akan tau jawabannya dan lebih mantap dan berani untuk melangkah. Intinya, yakin aja deh, apa yang terjadi di hidup kita harus disikapi dengan positif termasuk QLC ini, pasti banyak hikmah luar biasa didalamnya.

Maaf tulisanku agak random dan berasa panjang gitu ya hahaha, soalnya kali curhat biasanya suka nggak kenal tempat #ehh

Mangats temaaan

Salam Hangat



Meila Hani


0 Comments