Bekal Penting dan Mahal itu Bernama Empati

Setiap orangtua pasti berupaya memberikan yang terbaik untuk anaknya . Makanan bergizi, pakaian dan mainan bagus, sekolah terbaik, serta fasilitas terbaik lainnya.

Bahkan, ada teman saya yang meski anaknya masih balita sudah dipersiapkan bekal berupa sebidang tanah untuk masa depan si anak.

Apakah salah? Tentu tidak. Namun terkadang kebanyakan dari kita hanya fokus pada hal-hal yang bersifat materi saja.

Penanaman tentang nilai-nilai kehidupan, moral, adab dan tata krama lebih sering kita abaikan, karena menganggap bahwa itu adalah tugas guru di sekolah.

Cerita Haru di Sore Itu



Saya bukanlah ibu yang sempurna, yang tak pernah marah dan selalu tersenyum layaknya ibu-ibu di iklan bubur bayi.

Saya hanya ibu rumahtangga biasa yang kadang masih sering "tandukan" menghadapi tingkah polah kedua balita saya.
Sore itu saya tengah melakukan ibadah salat ketika si kecil Wafa merengek dan nyaris menangis karena ingin buang air kecil. Ya, baru seminggu ini, bungsu saya tersebut dilatih toilet training. Tak ayal, konsentrasi saya pun mendadak buyar.

Mendengar adiknya yang terus merengek, tiba-tiba sang Kakak, Naura yang bulan ini genap berusia 5 tahun dengan sigap menghampiri adiknya sambil berkata "Dek, mau pipis ya, sini sama teteh yuk!". 

Dengan telaten, ia mengantar adiknya ke toilet, tak lama terdengar suara jet washer dari dalam kamar mandi, kemudian setelah itu kudengar Naura berusaha memakaikan celana adiknya. Meski terlihat kesulitan, namun ia tetap sabar.

Ada rasa haru kala melihat bagaimana kesigapan Naura untuk membantu adiknya, padahal saya tidak pernah mengajari bahkan menyuruhnya untuk membantu adiknya buang air kecil, semua terjadi dengan spontan.

Setelah selesai salat segera saya peluk Naura sambil berkata "Terimakasih ya, Teh, sudah bantu adiknya pipis di kamar mandi".

Di lain waktu, saya juga sering dibuat terharu dengan sikap anak sulung saya tersebut saat ia menunjukkan sikap empatinya.

Naura kerapkali bertanya "Bund, lagi sibuk nggak?", atau "Bund, nanti malam kalau nggak sibuk Naura pengen dibacain cerita". Ya, ia selalu melihat kondisi saya, jika sedang sibuk biasanya ia tak ingin merepotkan saya untuk melakukan sesuatu.

Sekali lagi, saya sungguh malu padanya, karena saya yang sudah dewasa ini ternyata justru harus lebih banyak berguru padanya soal empati pada orang lain.

Mengapa Mengajarkan Empati Bagi Saya Begitu Penting?


Selama 30 tahun saya hidup, bertemu banyak orang dengan berbagai karakter membuat saya belajar banyak hal, bahwa nyatanya kita tidak bisa hidup sendiri. Ya, kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Dan, bekal terpentingnya adalah, sebagai individu kita harus paham bagaimana caranya menempatkan diri kapanpun dan di lingkungan manapun dan ini erat kaitannya dengan sikap empati pada orang lain.

Bukankah, seringkali kita dibuat miris dengan orang di sekitar kita yang bersikap acuh bahkan merugikan orang lain.

Teman saya juga pernah bercerita, kala itu ia tengah hamil besar dan sedang berdiri dengan payah di sebuah kendaraan umum, padahal di depannya ada anak ABG yang duduk dengan asyik tanpa sedikitpun memedulikannya.

Itu di dunia nyata, di dunia maya pun kondisinya tak jauh berbeda, saya sedih melihat cyber bullying dimana-mana dan membayangkan akankah anak-anak saya kelak akan siap menghadapinya?

Ya, empati adalah kunci. Menanamkan adab dan akhlak baik sejak dini harus jadi prioritas.


Sejak Usia Berapa Anak diajarkan soal Empati?


Pada umumnya, anak baru dapat sepenuhnya memahami konsep empati saat usianya menginjak 8 - 9 tahun. 

Tetapi, menurut Psikolog Roslina Verauli, pada usia 0-3 tahun, rasa empati anak sudah mulai terbentuk tetapi ia belum mampu berempati secara tepat.

“Misalnya saat melihat orang lain menangis, biasanya spontan ia akan ikut menangis. Nah nanti di usia 4-5 tahun anak sudah mulai mampu berpikir tentang perspektif orang lain.

“Di usia 5-6 tahun, sebaiknya libatkan si kecil dalam emotional talk supaya mereka bisa menyampaikan apa yang dirasakan dan beri pujian untuk setiap hal baik yang mereka lakukan.


Cara Sederhana Saya Mengajarkan Empati pada Anak


1. Sebelum Mengajarkan Mereka Empati, Sudahkah Kita Jadi Orangtua yang Senantiasa Berempati?


"Ayo, cepetan, gitu aja kok nggak bisa?", Atau "Makanya, nurut dong sama Bunda, tuh jadinya sakit kan jatuh". Kalimat itu mungkin sering secara spontan kita lontarkan kepada anak-anak kita.

Susah payah kita menanamkan pentingnya empati pada anak, namun nyatanya perilaku kita berkebalikan.

Maka, mulai saat ini, kedepankan rasa empati kita kepada anak. Pahami perasaannya, jadilah pendengar yang baik, karena respon kita terhadap hal-hal yang terjadi pada mereka akan membekas hingga mereka dewasa kelak.

2. Ajari Mereka Kosakata Emosi


Bantulah anak agar mudah memahami perasaannya sendiri dengan menamai berbagai emosi yang ia rasakan, seperti, marah, sedih, bingung, malu, dan lain sebagainya.

ini penting, karena mereka tidak akan bisa memahami perasaan orang lain jika mereka sendiri pun tak mampu memahami perasaannya sendiri. 

Ajarkan pula cara mengelola emosi dengan baik, misalnya kalau ia marah, tak perlu berteriak, namun sampaikan dengan cara yang baik.


3. Ajak Anak untuk Memposisikan Dirinya Sebagai Orang Lain


"Naura gimana rasanya kalau mainan kita direbut? Nggak enak kan?". Atau "Naura, gimana rasanya kalau dicubit, sakit kan?". Ya, seringkali anak-anak kita sering bertengkar atau berebut mainan. Salahsatu untuk mengatasinya, kita bisa ajak mereka untuk memposisikan diri sebagai orang lain.

Atau contoh lain, saya selalu bercerita tentang keadaan salah satu sepupu Naura yang ayahnya sudah meninggal dan kesulitan secara ekonomi, lalu mencoba mengajak Naura jika seandainya berada di posisi sepupunya, untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus empati padanya, sambil mengajak Naura untuk membantu memberikan makanan misalnya.


4. Perkenalkan Peran Orang Lain dalam Hidupnya


Saya berusaha untuk memberikan pemahaman kepada Naura bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, maka kita harus saling menghargai serta selalu ucapkan terimakasih saat orang lain berbuat baik pada kita.

Saat menerima paket dari kurir misalnya, saat melihat Bapak pengangkut sampah, atau saat ada yang memberi sesuatu pada kita, jangan lupa ucapkan terimakasih, bahkan lebih baik jika kita membalas kebaikan mereka.


5. Ajarkan Mereka Adab, Akhlak, dan Tata Krama yang Baik


Meski masih kecil, anak-anak perlu diajarkan adab dan tata krama yang baik. Saat bertamu ke rumah orang lain misalnya, usahakan agar mereka tidak merepotkan si pemilik rumah. 

Di sekolah juga, ajarkan mereka agar sopan kepada guru serta tidak menganggu dan menyakiti teman. 

6. Jangan Lupa untuk Mengapresiasi Kebaikan Anak!


Sebagai orangtua, saya kadang lupa mengucapkan terimakasih saat anak saya berbuat baik atau membantu saya untuk melakukan satu hal. Padahal itu penting ya, agar anak merasa dihargai dan termotivasi untuk melakukan kebaikan-kebaikan lain.

Saya jadi malu, suatu pagi Naura saya ajak ke warung membeli keperluan dapur, agar ia senang, saya pun membelikan balon untuknya. Tak disangka ia, mengucapkan kalimat yang membuat saya begitu terharu.


7. Action Speaks Louder Than Words!



Pernah dengar istilah children see, children do? Yup, anak usia dini itu mereka cenderung belajar dan mencontoh sikap dan perilaku orang-orang disekitarnya.

Maka, sekali lagi, dalam hal apapun, sebagai orangtua kita harus jadi contoh yang pertama dan utama, jangan hanya sebatas nasehat semata.


Mendidik Jangan Mendadak, Yuk Belajar Parenting dari Sumber yang Tepat!

Jujur, saya ini tipikal orang yang panikan!. Makanya, tahun-tahun pertama menjadi seorang ibu rasanya tuh bagaikan naik roller coaster hehe. 

Namun, saya bersyukur, hidup di era digital yang membuat saya mudah mengakses banyak informasi seputar parenting dan otomatis bisa "meredam" kepanikan-kepanikan saya itu.

Satu yang perlu dicatat, kita harus pintar memilih sumber informasi yang tepat dan terpercaya, apalagi soal mendidik anak. 

Mendidik jangan mendadak!. Itulah salah satu moto saya, maka, sejak belum menikah saya sudah belajar parenting, hingga saat ini saya pun masih terus belajar.

Biasanya, saya belajar parenting dari buku, video, atau dari portal/situs parenting.
Nah, salah situs parenting favorit saya sejak dulu adalah The Asian Parent

Yup, dari zaman hamil Naura sampai sekarang usianya lima tahun, saya banyak belajar lewat artikel-artikel di The Asian Parent, karena disana memang lengkap. Dari mulai tentang kehamilan, bayi, tumbuh kembang anak, kesehatan anak, nutrisi, dan lain-lain.

Nah, tentang cara mengajarkan empati pada Naura pun, saya juga belajar dari sana, ada banyak informasi dan pengetahuan seputar melatih empati ini, salahsatunya lewat artikel Pentingnya Menanamkan Empati pada Anak Usia Dini. 


Karena, Semua Hanya Soal Waktu

Semuanya hanya soal waktu..
Saat rumah kita tak seramai dulu, mainan tak lagi berserakan..

Semuanya hanya soal waktu..
Saat mereka tak lagi merengek manja atau bahkan sekadar ingin dibacakan cerita..

Semuanya hanya soal waktu..
Saat mereka tak lagi menumpahkan susu di lantai dan rumah tak sekotor dulu..

Ya, mereka akan terus bertumbuh dan kita mungkin tidak akan selalu menemani mereka setiap waktu

Lagipula, siapa yang menjamin bahwa usia kita akan cukup untuk mengantar mereka ke gerbang kedewasaan.

Untuk anakku, Naura dan Wafa, terimakasih telah menjadi guru kecil yang baik hati untuk ibumu yang jauh dari kata sempurna ini. 
Cimahi, Penghujung 2020

Dari seorang ibu yang masih terus belajar berempati kepada anak-anaknya

















41 Comments

  1. Makasih pencerahannya. Setuju sekali untuk menjadi orangtua yang mengedepankan pendidikan moral dan adab sejak dini di rumah. Semoga makin banyak orangtua yang peduli karena krisis moral sangat berbahaya bagi masa depan anak anak kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, pendidikan moral, adab, dan akhlak harus jadi prioritas sejak dini ya.

      Delete
  2. Mendadak introspeksi diri. Benarkah diri ini sudah memiliki empati yang tinggi. Apakah adikku sudah memiliki rasa empati tersebut?

    Duh, ternyata jadi ibu itu nggak mudah. Tapi siapa sih yang nggak ingin menjadi ibu. Semua wanita menginginkannya.

    Membaca informasi seperti ini penting banget sebagai bekal yuni berumahtangga nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba, saya juga nulis ini sambil bercermin ke diri sendiri apakah selama ini sudah berempati, terutama pada anak karena sering sumbu pendek sama mereka :(

      Delete
  3. Waduh jadi lihat diri sendiri yang masih sering 'tandukan' saat menghadapi anak anak di rumah :)

    Padahal role model terdekat anak agar belajar empati itu ya diri kita sendiri. Ibunya.
    Makasih mbak sharingnya. Jadi pengen belajar lebih banyak di web nya Asian Parent

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget Mba, orangtua harus jadi role model bagi anak-anaknya, karena kita lah yang paling dekat dengan mereka.

      Delete
  4. Jadi ikut sedih di akhir artikel :)

    Memang orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya, jangan harap punya anak soleh, baik, punya sopan santun bila orang tua lalai saat mendidik dan nggak mencontohkan dalam rumah tangga.

    Apalagi orang tua sibuk dg aktifitasnya, dan anak di percayakan pengasuh heeem.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh betul banget, kadang sebagai ortu, saya juga suka lalai dan abai:(, mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik, aamiin.

      Delete
  5. Alhamdulillah Teteh Naura punya empati dan kepedulian pada adik maupun sesama..sehat-sehat ya Naura, Wafa dan Ayah Ibunya.
    Dan setuju jika empati adalah kunci. Menanamkan adab dan akhlak baik sejak dini harus jadi prioritas sehingga saat besar nanti anak terbiasa peduli pada sesama dan lingkungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. mudah-mudahan mba Dian sekeluarga juga sehat-sehat terus yaa :)

      Delete
  6. Saya terharu membaca kisah putrinya yang membatu sang adik ke toilet. Memang rasa emapati itu harus di bangun sejak dini ya mbak, agar ketika mereka beranjak dewasa dapat menjadi pribadi yang sopan dan menghargai orang lain.

    Kuncinya adalah teladan dari orang tua ya. Saya juga mulai membiasakan diri untuk sedikit demi sedikit merubah kebiasaan buruk. Semoga kita senantiasa di mudahkan dalam mendidik anak-anak kita dan bisa menjadi teladan kebaikan bagi mereka ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba, saya juga banyak PR nih buat mendidik anak, karena saya nya masih sering marah-marah sama anak, hiks, udah gitu merasa belim.bisa jadi teladan yang baik untuk mereka, semoga saya bisa memperbaiki, mangats Mbaa :)

      Delete
  7. Waah...pwncerahan yg luar biasa..Jaman saya dulu susah cari info pareting dll, saya hanya berpatokan bahwa anak2 akan lebih ingat klo kita tidak hanya memberitahu, tp memberi contoh & menjelaskan pd saat mereka bertanya.
    Alhamdulillah sampai saat ini, diumur 27 th anak saya yg bungsu. Dia ingat semua apa yg saya ajar & contohkan. Awalnya saya ga pernah menyangka dia merekam semua yg saya ajarkan & saat ini. Suami sampai kaget mendengar anaknya bercerita kpd sepupunya, klo tindakannya kpd anaknya hrsnya ga seperti itu. " Dulu, mm klo aku seperti itu..Ini yg dilakukan". Memang semua hrs dipelajari dr rumah & sejak.kecil. Sehat2 ya Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya harus belajar banyak nih sama Bund Sri, membesarkan anak tentu nggak mudah ya, apalagi jaman dulu info seputar parenting nggak mudah didapat seperti sekarang. Sehat-sehat ya buat Bunda sekeluarga :)

      Delete
  8. sebagai calon ibu ini sangat beramanfaat buat saya mba, kalau saya nanti punya anak, pasti akan saya ajarkan soal ini, karena berempati terhadap orang lain merupakan salah satu akhlak yang baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, saya juga masih belajar banget ini, mangats ya Mba :)

      Delete
  9. Betul mba, empati itu sangat penting dan harus diajarkan sejak awal agar membantu kehidupan si kecil juga saat dewasa

    ReplyDelete
  10. Mendidik jangan mendadak. Duhhh pelajaran berharga banget buat aku yg belum memiliki anak dan suami.
    Kadang sempat berfikir, akan jadi ibu yg seperti apa nanti.
    Apakah aku bisa sabar apakah aku bisa mendidik dengan baik, dengan tulisan ini saya banyak belajar untuk nantinya mbak.
    Terimakasih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba, saya juga masih banyak belajar, karena jadi orang tua sekolahnya seumur hidup, mangats ya Mba :)

      Delete
  11. Memang orang tua lah yang akan membentuk bagaimana anaknya. Tugas orang tuanya menumbuhkan rasa empati sejak dini pada diri anak. Aku kenal seseorang yang rasa empatinya jarang ada. Bukan kejam sih, tapi dia merasa hal tersebut tidak menyentuh hatinya. Biasa aja menurut pandangannya, padahal kejadian tersebut perlu uluran tangan. Ya, semoga kita mampu mendidik anak-anak memiliki rasa empati dan disalurkan dengan tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, wah miris juga ya Mbak ceritanya, mudah-mudahan kita bisa mendidik anak-anak kita dengan baik, mangats Mbak:)

      Delete
  12. MasyaAllah ilmu banget buat aku yang insyaAllah bentar lagi jadi ibu. Sadari diri belum punya bekal apa-apa. Bener ya mbak, harus ditanamkan sejak diri tentang rasa empati, tata krama yang paling penting juga gak lupa agamanya ya, agar kelak punya akhlak yang baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, betul sekali teh Mega, saya juga masih belajar banget supaya bisa mendidik anak-anak dengan baik

      Delete
  13. Betul kalo bukan orang tua yang menyiapkan bekal untuk anaknya siapa lagi? Sedari kecil diajarkan agar dewasa kelak memiliki empati kepada orang lain. Semoga saya dimampukan nanti bila sudah punya anak.

    ReplyDelete
  14. Zaman sekarang harta melimpa yang akan diwariskan kepada anak-anak belum tentu menyelamatkan mereka di dunia. Apalagi di akhirat, tanpa dibarengi bekal pendidikan agama yang cukup. Salam kenal, Mbak Meilawati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, betul sekali Mbak, salam kenal juga Mbak Nur, terimakasih sudah mampir :)

      Delete
  15. Duh setuju banget saya mbk, mendidik itu sungguh sulit dan butuh proses puanjang. Mkay g bisa mendadak....

    Empati inilah yang saat ini banyak terkikis dari mental orang2 kita.

    Masa bodoh dan parahnya kadang malah nyinyirin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, miris juga ya Mbak realita zaman sekarang, jadi PR banget nih buat kita.

      Delete
  16. Artikel menarik ini mbak nggak hanya bagus untuk dibaca untuk yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, yang masih single seperti saya pun bagus ini karena jadi bekal mental saat besok menjadi orangtua dan mendidik anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Mbak, saya juga sambil nulis, sambil bercermin, karena masih banyak banget kekurangan saya sebagai orangtua dalam mendidik anak.

      Delete
  17. Ini PR yang lagi aku kerjain ke anakku mbak. Emosinya sudah mulai kelihatan banget. Jadi, beneran harus betul-betul diarahkan. Aku sendiri juga berusaha untuk berempati dengan apa yang dia rasakan. Harapannya, dia nanti bisa tumbuh jadi anak yang punya empati juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak sama, aku juga masih banyak PR dalam hal mengelola emosi anak, semoga dimudahkan ya Mbak Lely, mangats :)

      Delete
  18. Benar banget Mbak, penting banget mengajarkan empati kepada anak-anak sejak dini agar menjadi bekal mereka di kehidupan sosial kelak.
    Biar gimanapun kedepannya selain kecerdasan, rasa empati kesesama juga sangat dibutuhkan.

    ReplyDelete
  19. pelajaran yang sangat berharga, bekal buat kita untuk bisa menjadi orang tua yang baik untuk anaknya, terima kasih sharing nya bun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Kak, terima kasih sudah mampir, salam kenal :)

      Delete
  20. Masya Allah sangat menginspirasi
    Semoga kelak bisa mencontohkan dan mengajarkan kepada anak-anak saya Aamiinn

    Memang kalau melihat kondisi saat ini, agak miris melihat sikap anak-anak serta generasi kuda yang minim empati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, betul sekali Mba, jadi PR banget ya buat kita sebagai orangtua, semangat Mba:)

      Delete
    2. sudah saatnya orang tua generasi sekarang belajar lebih baik lagi, supaya generasi berikutnya menjadi bangsa yang hebat

      Delete